
Ornado sedikit menoleh ke arah Evan, begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan Evan padanya, tanpa menunjukkan wajah kaget, apalagi khawatir.
Laki-laki tampan berambut hitam legam dengan mata birunya yang tajam itu justru terlihat menarik salah satu ujung bibirnya ke atas, dengan sikapnya yang terlihat tetap percaya diri meskipun dari kata-katanya Evan sedang memperingatkannya bahwa kondisi mereka saat ini mungkin sedang dalam bahaya besar karena kepungan dari orang-orang yang membawa senapan laras panjang.
“Tidak salah Alvero memberikan jabatan duke tertinggi padamu. Kamu benar-benar pantas disebut jenderal besar Evan. Matamu awas sekali dengan kondisi yang terjadi di sekelilingmu. Dan sepertinya, kamu sudah bersiap menghadapi kondisi berbahaya seperti ini.” Mendengar jawaban dari Ornado dengan sikap tenang dan suara datarnya, dengan gerakan perlahan Evan justru menjauhkan tangan dari senjata api yang terselip di pinggangnya.
Apa mereka adalah orang-orang dari Ornado? Laki-laki ini… tindakannya benar-benar diluar prediksi. Dia adalah pria hebat yang tidak bisa dipandang remeh oleh musuhnya. Semua disiapkannya dengan begitu baik dan detail olehnya. Sepertinya sia-sia saja tadi aku merasa khawatir.
Evan berkata dalam hati sambil melirik kembali ke beberapa titik, dimana orang-orang berpakaian gelap, sehingga tersamarkan oleh suasana malam yang gelap juga sedang bersiap siaga di tempatnya masing-masing, tapi mereka terlihat begitu tenang dan diam, seperti menunggu aba-aba, dan belum terlihat adanya rencana pergerakan dari mereka yang bisa Evan tangkap dengan mata jelinya.
"Rasanya kata-kata dari anak buahku yang pernah berada dalam satu tim saat melakukan penyerangan di bunker Tavisha bersamamu bukan sekedar omong kosong. Mereka mengatakan kalau duke Gracetian, Evan Carsten, benar-benar pemimpin besar yang hebat dalam medan pertempuran. Alvero beruntung bisa memiliki duke sekaligus saudara ipar sepertimu." Ornado berkata sambil tersenyum ke arah Evan.
“Tenang Evan… mereka semua adalah orang-orangku. Kita akan masuk dan menemui duke Hugo. Bersikaplah sebiasa mungkin, karena kita akan memberikan kejutan indah buat duke Hugo.” Ornado berbisik pelan sambil menepuk pelan bahu Evan yang langsung menoleh ke arah Ornado yang sedang tersenyum ke arahnya sambil mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
“Sepertinya aku mulai bisa mengerti kenapa kamu tadi sempat menganggap tidak penting orang-orang yang di bawakan Alvero untuk kita.” Seolah sudah bisa mengerti apa yang sudah dilakukan oleh Ornado, Evan berkata sambil mengikuti langkah-langkah lebar dari Ornado.
"Apa para orang-orangmu yang sudah membersihkan jalan masuk ke tempat ini?" Evan langsung menanyakan tentang bagaimana suasana lengang di kediaman Hugo yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan para pengawalnya di sepanjang jalan yang mereka lalui, mulai dari gerbang hingga halaman depan rumah Hugo.
"Clek." Ornado langsung menjetikkan kedua jarinya begitu mendengar pertanyaan Evan.
"Nilai sempurna untukmu Evan." Ornado berkata kembali pada Evan dengan senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum puas, karena ternyata kehebatan Evan seperti yang diceritakan oleh para tim pasukannya yang sempat dia kirim untuk berlatih bersama anggota pasukan khusus yang dibentuk Alvero, Evan, Red dan Alexis untuk menghadapi Eliana waktu itu.
Dan itu membuat Ornado ikut senang, mengingat bagaimana sekarang Evan merupakan suami dari Alaya, adik kandung Alvero.
Meskipun Ornado tahu, bahwa sebagai seorang pemimpin besar seperti Alvero, tidak mungkin lepas dari masalah dan orang-orang yang berusaha menjatuhkan dan menyerangnya, tapi dengan dikelilingi orang-orang hebat yang siap mendukungnya, Ornado merasa tenang dan ikut senang.
Pantas saja tadi Ornado terlihat ingin menolak bantuan para pengawal yang sudah diaturkan oleh Alvero. Ternyata dia sudah menyiapkan segalanya dengan begitu matang.
__ADS_1
Evan berkata dalam hati sambil membalas perkataan Ornado dengan senyum geli, memikirkan apa yang awalnya tadi sempat membuat Evan merasa sedikit heran dengan sikap Ornado.
Bagaimana bisa orang-orang Alvero yang sedang bersama mereka, meskipun jumlahnya cukup banyak, tapi dibandingkan dengan puluhan orang Ornado dengan senjata laras panjang, pastinya pihak Hugo jadi seperti semut dibandingkan dengan seekor gajah. Benar-benar tidak sebanding dari segi kekuatan ataupun persenjataannya.
Menyadari hal itu membuat Evan semakin penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Ornado saat bertemu dengan Hugo nanti.
# # # # # # #
"Cepat bawa semua koper itu kemari! Malam ini juga kita pergi ke Kamboja untuk sementara waktu." Hugo berkata sambil menunjuk dua koper besar berisi barang-barangnya yang sudah dia packing dan siap untuk dibawanya terbang ke Kamboja sementera waktu.
"Baik Duke Hugo!" Dengan sikap hormat, salah satu pengawal yang diminta Hugo untuk membawa kopernya itu langsung mendekati kedua koper itu dan menariknya keluar dari kamar Hugo.
"Kemana Elio? Kenapa sampai sekarang dia belum juga muncul di sini?" Hugo bertanya kepada pengawalnya yang lain yang langsung berjalan mendekat ke arah Hugo, pengawal yang diberi tugas oleh Hugo untuk mencari keberadaan Kattie, dan juga ditugaskan untuk menghubungi Elio, agar segera datang ke tempat kediaman Hugo, untuk dapat ikut pergi bersamanya ke Kamboja, menyembunyikan diri untuk sementara waktu.
__ADS_1
Karena bagi Hugo, dia sendiri merasa tidak tenang berada di Gracetian setelah mendengar dari mata-mata yang disebarkannya untuk mengamati pergerakan orang-orang di istana dan para bawahan Evan, ada pergerakan mencurigakan dimana mereka sepertinya sedang berusaha mencari info tentang apa yang pernah dilakukan Hugo di masa lalu.