
Begitu kembali memasuki ruang tamu tempat diadakannya pertemuan dua keluarga besar tersebut, Alaya sengaja menyungingkan senyum manis di bibirnya, untuk menutupi rasa tidak nyaman dalam hatinya terhadap rencananya pada Evan.
Meskipun Alaya benar-benar sudah bertekad bulat, untuk memberikan teh buatannya agar Evan mengerti tentang protesnya terhadap keputusan Evan dan Alvero, tapi dalam hatinya yang paling dalam, tetap saja ada rasa ragu yang kadang menyeruak di hati Alaya.
Evan sendiri, begitu melihat senyum manis dari Alaya setelah tadi Evan melihat dengan jelas rasa jengkel dan marah Alaya ketika Alvero memutuskan menerima untuk mempercepat pernikahan mereka, justru langsung mengernyitkan dahinya.
Apa yang sedang direncanakan oleh my princess kali ini? Sepertinya my princess benar-benar banyak akal untuk membuat keinginannya tercapai.
Evan langsung bertanya-tanya dalam hati begitu melihat senyum manis yang sengaja ditunjukkan Alaya pada yang lain itu, yang bagi orang lain menunjukkan keramahan Alaya, tapi bagi Evan, justru itu terlihat aneh setelah wajah penuh penolakan ditunjukkan Alaya tadi.
Dengan gerakan anggun, seperti yang sudah diajarkan oleh guru kepribadian istana, yang mengajarkan tentang tata krama dan sikap seorang putri Gracetian, Alaya mendekat ke arah Evan, dan mulai menuangkan teh yang sudah dibuatnya ke dalam cangkir keramik yang dilapisi dengan emas murni tersebut ke arah Evan, yang langsung menerimanya dengan sebuah anggukan kepala dan senyum di wajahnya.
“Silahkan Duke Evan….” Dengan suara yang dia buat selembut mungkin, Alaya berkata sambil menggerakkan tangannya untuk memberikan tanda mempersilahkan kepada Evan.
Meskipun Alaya sengaja bersikap senatural mungkin, tapi setiap gerak gerik Alaya diamati oleh Evan yang justru curiga dengan sikap Alaya yang tiba-tiba berubah.
“Terimakasih Putri Alaya. Teh itu pasti rasanya sangat nikmat.” Evan berkata sambil melirik ke arah teh yang disuguhkan Alaya padanya.
Hidung Evan yang tajam langsung bisa mengenali jenis teh apa yang sedamg disuguhkan oleh Alaya padanya saat ini, tapi dengan gerakan pelan dan terlihat elegan, Evan tetap meraih cangkir berisi teh itu, dan mendekatkan ke arah bibirnya.
__ADS_1
Melihat gerakan yang dilakukan Evan, mau tidak mau dengan was-was dan harap-harap cemas, Alaya mengamati peruabahan wajah dan sikap Evan, berharap ada raut kemarahan dan kekecewaan di wajah laki-laki tampan itu begitu mencicipi teh hasil karyanya itu.
Akan tetapi, yang terjadi justru jauh di luar dugaan Alaya, karena Evan tetap tampak tenang, meskipun dari jakunnya terlihat bergerak naik turun, menunjukkan kalau laki-laki itu benar-benar menikmati teh yang telah dibuat oleh Alaya.
Apa yang terjadi? Apa Alea sudah salah memberikan informasi padaku tentang jenis teh yang dibenci oleh duke Evan? Kenapa dia tidak bereaksi terhadap teh buatanku? Apa lidah duke Evan bermasalah? Kalaupun dia tidak masalah dengan teh jenis earl grey, bagaimana dia bisa tetap tenang saat menikmati teh yang sudah aku campurkan dengan garam? Apa lidah duke Evan itu mati rasa? Tidak bisa membedakan rasa manis dan asin?
Alaya langsung bertanya-tanya dalam hati dengan wajah bingung begitu melihat reaksi Evan yang sangat jauh dari yang sudah diharapkannya.
Evan sendiri, setelah mengucapkan kata-kata terimakasihnya, dia segera meraih selembar tissue dan membersihkan bibirnya dari sisa air teh yang membasahi bibirnya dengan gerakan santai dan tetap terlihat elegan, yang menunjukkan sisi kebangsawanannya dengan sangat jelas.
Evan yang sudah mengira dari awal ada sesuatu yang tidak beres dengan teh buatan Alaya itu, sengaja hanya menempelkan cairan teh itu pada bibirnya dan sengaja membiarkan jakunnya terlihat naik turun menelan air ludahnya sendiri, agar terlihat seolah-olah dia benar-benar meminum teh itu.
Alaya yang masih bingung denga napa yang terjadi, tampak tetap diam di tempatnya.
“Maaf Yang Mulia, ijinkan saya dan putri Alaya tetap tinggal di sini sebelum kami menikmati makan siang kami.” Tiba-tiba saja Evan meminta ijin kepada Alvero untuk berbicara secara pribadi dengan Alaya, yang langsung bisa menebak kalau Evan akan mengajaknya bicara karena masalah teh yang baru disuguhkannya tadi.
Jangan ijinkan! Please jangan ijinkan duke Evan meminta itu kak Alvero… kalau tidak habislah aku hari ini… karena sepertinya, barusan duke Evan hanya berpura-pura tidak tahu dengan apa yang aku lakukan pada tehnya.
Alaya berkata dalam hati dengan sikap gugup, merasa cukup takut dengan apa yang sedang direncanakan Evan padanya.
__ADS_1
Sikap tenang Evan, dan ekspresi yang tidak menunjukkan kemarahan atau kejengkelannya, bagi Alaya justru merupakan sikap yang sangat mengerikan bagi Alaya.
“Silahkan Duke Evan. Kalau begitu, mari kita menikmati makan siang kita.” Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya, dan berjalan di bagian paling depan, untuk memimpin mereka pada makan siang.
Mendengar jawaban dari Alvero, mau tidak mau Alaya merasa lemas, apalagi dia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Evan sehingga memintanya tinggal hanya berdua dengannya.
Begitu di ruang tamu istana hanya tinggal Evan dan Alaya, Evan langsung bangkit berdiri, dan melihat ke arah Alaya yang sedang melirik kea rah teko teh yang dibuatnya, seolah tidak percaya kalau teh buatannya itu tidak bermasalah.
“Kenapa Alaya? Apa kamu juga ingin meminum teh itu? Rasanya cukup nikmat. Aku sungguh tidak tahu kalau kamu sangat ahli meracik teh.” Kata-kata Evan membuat Alaya memandang ke arah Evan dengan tatapan mata tidak percayanya.
Dengan gerakan pelan, Evan meraih cangkir berisi the dan maju dua langkah ke depan, sehingga dia dan Alaya saat ini benar-benar saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
“Teh earl grey dipadukan dengan sedikit garam. Rasanya tidak buruk. Apa kamu ingin mencicipinya?” Meski Evan mengucapkan kata-katanya dengan sikap tenang dan senyum terus tersungging di bibirnya, tapi hal itu justru membuat Alaya merasa begitu tidak nyaman karenanya.
Sikap tenang Evan, justru membuat Alaya merasa terintimidasi, dan merasa sangat bersalah kepada Evan.
Apalagi dengan tiba-tiba, Evan kembali mendekatkan cangkir berlapis emas berisi teh itu ke bibirnya, lalu meletakkan kembali cangkir itu ke atas meja dengan cepat.
“Aku akan membantumu untuk bisa mencicip rasa nikmat dari teh buatanmu itu.” Evan mengucapkan kata-katanya sambil melangkah maju ke arah Alaya, dan dengan gerakan yang begitu tiba-tiba yang tidak disangka-sangka oleh Alaya, tangan Evan langsung bergerak ke arah tengkuk Alaya, menariknya mendekat ke arah wajah Evan, dan dengan lembut Evan langsung mencium bibir Alaya yang matanya langsung terbeliak mendapatkan ciuman mendadak dari Evan, tanpa ada kesempatan bagi Alaya untuk menghindar.
__ADS_1