
"Apa kata orang kalau tahu tentang hal itu? Orang bisa salah faham karena pertemuan kalian berdua. Dan hampir semua orang tahu kalau kita tidak memiliki hubungan dekat dengan keluarga duke Brown. Bahkan hubungan kita dengan keluarga Brown boleh dibilang sedikit buruk." Evan yang mengerti tentang kekhawatiran Danella, langsung menyunggingkan senyumnya.
"Tenang saja Ma. Aku sudah meminta tempat pertemuanku dengan duchess Kattie di tempat yang cukup ramai. Apalagi akan ada Sam yang menemaniku. Aku sudah memikirkan semuanya Ma, jangan khawatir." Evan berusaha menenangkan Danella.
Evan sendiri, bukannya tidak tahu kalau Kattie memang mengincarnya, dan justru hal itu yang membuat Evan begitu penasaran, ingin bertemu dengan Kattie, karena ada sesuatu yang cukup mengganjal di hatinya, yang ingin dia cek dan pastikan kebenarannya.
Evan ingin mengorek informasi tentang terjadinya kecelakaan, dan apakah Kattie tahu tentang sesuatu yang mungkin tidak dia ingat, karena Evan memiliki ingatan tentang bagaimana dia sempat bertugas di luar negeri sebelum terjadinya kecelakaan itu, dan bahkan Evan merasa sempat bertemu dengan Kattie di luar negeri.
Untuk bisa melakukan itu, Evan harus bertemu langsung dengan Kattie, agar dia bisa membaca raut wajah Kattie, dan memutuskan tindakan selanjutnya, karena Evan bisa merasakan ada sesuatu yang hilang dari ingatannya ketika dia berada di luar negeri untuk menyamar waktu itu.
Suatu ingatan yang bagi Evan, meskipun dia belum bisa mengingatnya, dia bisa merasakan kalau ingatan itu adalah ingatan yang sangat penting baginya.
Dan Evan berharap kalau Kattie bisa membantunya mengingat hal itu, hal yang tidak bisa dia ingat sampai saat ini.
"Kalau begitu, semoga semuanya seperti yang kamu katakan Evan. Kalau perlu, untuk mencegah pembicaraan orang, jangan terlalu lama melakukan pertemuan dengan gadis itu." Akhirnya Danella mencoba untuk bisa menerima keputusan Evan untuk tetap menemui Kattie.
"Kalau begitu, sampai nanti malam Ma." Evan mengucapkan salam perpisahannya sebelum memutus panggilan teleponnya dengan Danella.
"Lho, apa kamu akan pulang terlambat malam ini? Bukannya kamu bilang tidak ada banyak pekerjaan hari ini? Kenapa sampai nanti malam?" Danella langsung bertanya kepada Evan, cukup khawatir kalau Evan sedang merencanakan pertemuan yang akan lama dengan Kattie, sehingga Evan baru akan pulang malam nanti.
__ADS_1
"Tidak Ma. Justru aku akan keluar markas lebih cepat dari biasanya, karena setelah bertemu dengan duchess Kattie, aku ada janji dengan tuan Alexis untuk bertemu dengan tuan Red di Goldie Tavisha." Penjelasan Evan membuat Danella langsung menarik nafas lega.
"Baiklah kalau begitu. Sampai nanti malam. Tetap jaga sikapmu Duke Evan, ingat kalau sebentar lagi kamu akan menikah Duke Evan. Jangan membuat calon istrimu marah dan membatalkan pernikahan kalian. Kalau sampai itu terjadi, mama akan benar-benar marah padamu." Perkataan Danella membuat Evan tersenyum, melihat bagaimana takutnya Danella kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Alaya sebagai menantunya.
Tenang saja ma.... Akupun tidak akan pernah membiarkan pernikahanku dengan Alaya batal. Lagipula seharusnya mama tidak perlu khawatir karna Alaya tidak memiliki hak untuk membatalkan pernikahan ini. Sayangnya aku tidak mungkin mengatakan perjanjianku dengan yang mulia Alvero itu kepada Mama, yang pasti akan memarahiku karena menganggapku sebagai pemaksa. Tapi untuk menghadapi Alaya dengan sifat keras kepalanalya, sepertinya aku memang harus menggunakan cara itu.
Evan berkata dalam hati sambil menahan senyum gelinya.
“Ya Ma, Sesuai perintah Mama.” Danella sedikit tersenyum begitu mendengar jawaban dari Evan.
“Kalau begitu Duke Evan. Jangan lupa jaga dirimu baik-baik sepanjang hari ini.” Danella mengakhiri pembicaraannya dengan Evan sambil menghela nafas panjang.
"Entah kenapa. Aku tidak pernah suka dengan duchess Kattie dan juga kakaknya duke Hugo. Terlepas dari hubungan kedua keluarga Carsten dan Brown yang tidak pernah akur. Kalau melihat kedua orang itu, aku seperti melihat dua orang licik sebagai kakak beradik yang sangat serasi.” Danella bergumam pelan, sebelum akhirnya keluar dari kamarnya untuk menikmati makan siangnya yang harus dia nikmati sendirian karena Evan tidak bisa menemaninya.
# # # # # # #
"Selamat siang Duchess Kattie." Evan yang baru saja datang dan berdiri di dekat meja tempat Kattie memesan tempat untuk makan siang mereka bersama, langsung menyapa Kattie yang memberikan senyum manisnya begitu mendengar sapaan dari Evan.
"Selamat siang duke Evan. Sepertinya sudah beberapa kali aku mengatakan tidak perlu bersikap terlalu formal saat kita bertemu." Kattie yang selama ini selalu menginginkan Evan memanggil namanya langsung tanpa embel-embel duchess, berkata sambil memandang Evan dengan penuh harap.
__ADS_1
"Sepertinya aku lebih nyaman seperti ini. Lebih baik kita tetap saling bersikap formal Duchess Kattie, agar orang tidak salah faham dengan hubungan kita." Perkataan Evan hampir saja membuat Kattie mendengus kesal.
Selalu menarik batas antara aku dan dia. Evan ini, sebenarnya, gadis seperti apa yang bisa meluluhkan hatinya. Sudah bertahun-tahun berlalu, apa dia masih ingat dengan gadis itu? Apa yang bisa kulakukan agar Evan benar-benar bisa melupakannya selamanya?
Kattie bertanya-tanya dalam hati sambil menatap ke arah Evan yang membalasnya dengan tatapan tenang, yang justru membuat Kattie merasa tidak nyaman, seperti sedang dihadapkan dengan seorang penyelidik.
"Ah, terserah saja, asal Duke Evan merasa nyaman. Tapi Duke Evan, ada hal penting yang ingin aku bicarakan berdua dengan Duke Evan." Kattie berkata sambil melirik ke arah Sam yang tampak berdiri tepat di samping tempat Evan duduk.
Meskipun sikap Sam sudah seperti patung, tidak bergerak, dengan tatapan mata lurus ke depan, bagi Kattie sungguh terasa tidak nyaman menyadari adanya keberadaan orang lain di tempat itu, sedangkan dia ingin berbicara pribadi dengan Evan.
"Silahkan langsung bicara, karena Sam, tidak akan meninggalkan tempatnya. Sudah menjadi tugasnya untuk tetap berada di sampingku saat aku masih berada di jam kerjaku. Dan dia masih bertugas bersamaku sampai saat ini." Kata-kata Evan membuat Kattie tidak memiliki kesempatan untuk meminta Sam menyingkir dari tempat itu.
Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama jika kamu bertemu dengan putri Alaya sebagai calon istrimu? Membiarkan Sam berada diantara kalian berdua? Rasanya menyebalkan sekali harus menyebutkan nama Alaya meski hanya di otakku.
Kattie berkata sambil menahan nafas, sekaligus menahan kekesalan hatinya.
Kalau saja waktu itu kak Hugo tidak menghalangiku, seharusnya Evan sudah menjadi milikku sepenuhnya. Sekarang bahkan aku harus memikirkan bagaimana cara menyingkirkan putri Alaya dengan cara yang halus, membuatnya membatalkan rencana pernikahan mereka. Dan itu pasti akan sangat merepotkan, karena kalau aku terlalu kentara, akan membuat keluarga Carsten dan keluarga Adalvino menghancurkan keluarga Brown. Semua harus terlihat sealami mungkin, seolah-olah itu murni karena mereka memang tidak berjodoh, sehingga putri Alaya meminta pembatalan pernikahan.
Kattie berkata dalam hati dengan kesal, saat mengingat di masa lalu, bagaimana setelah dia menyelamatkan Evan, sebenarnya Kattie ingin langsung membawa Evan yang sedang tidak mengingat apapun saat itu pergi ke kediaman Hugo dan merawat Evan secara pribadi.
__ADS_1