Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
RENCANA MENEMUI EVAN DAN ALAYA


__ADS_3

Mereka berdua ini benar-benar deh... padahal kalau mengingat sikap Alaya kepada Evan sebelumnya aku sungguh khawatir dengan pernikahan mereka berdua. Untung saja aku tetep memilih percaya bahwa Evan sebagai jenderal besar Gracetian pasti bisa menundukkan adikku itu.


Alvero berkata dalam hati sambil tersenyum begitu mengingat di masa lalu apa yang sudah berusaha dilakukan oleh Alaya terhadap Evan untuk membatalkan pernikahan mereka waktu itu.


"Yang Mulia...." Suara panggilan dari nyonya Rose membuat Alvero langsung kembali fokus dari tujuan utamanya untuk mencari Evan dan Alaya.


"Eh, ya Nyonya Rose, kalau begitu lebih baik kamu memberitahukan kepada Evan dan Alaya bahwa besok, rombongan tamu dari Italia akan datang ke Gracetian. Minta Evan atau Alaya menghubungiku kalau mereka sudah keluar dari kamarnya. Aku harap mereka tetap ada di sana sementara waktu ini, karena kalau mereka muncul di depan umum saat ini, pasti akan membuat suasana menjadi heboh. Padahal Evan masih mencari bukti-bukti segala kebobrokan duke Hugo." Alvero berkata kepada nyonya Rose yang wajahnya terlihat serius, mendengarkan perkataan Alvero.


"Baik Yang Mulia, saya akan sampaikan permintaan Yang Mulia kepada duke Evan dan duchess Alaya."


"Nyonya Rose, ada kemungkinan supaya tidak harus membuat mereka berdua keluar dari penthouseku, aku akan mengajak rombongan Ornado kesana sebelum aku mengajak mereka berlibur ke Renhill dan beberapa tempat wisata di Gracetian, karena mereka juga ingin bertemu dengan pasangan pengantin baru Gracetian yang membuat heboh itu." Nyonya Rose langsung tersenyum mendengar perkataan dari Alvero.


Yang Mulia berkata seolah-olah acara pernikahannya dengan permaisuri Deanda dulu tidak membuat heboh penduduk Gracetian, belum lagi waktu itu aku dan tuan Ernest harus ikut campur tangan agar mereka segera mencetak calon penerus tahta karena waktu itu yang mulia dan permaisuri terlalu menjaga jarak dan malu-malu kucing.


Dan lagi-lagi, nyonya Rose hanya berani mengomentari kata-kata Alvero dalam hati saja, karena sebagai pengasuh Alvero sejak kecil, nyonya Rose sudah begitu hafal dan mengenal Alvero yang memiliki sifat tidak mau pendapatmya dan pemikirannya ditentang oleh orang lain.


Akan ada seribu satu alasan yang akan diucapkan oleh Alvero jika ada orang lain yang mempertanyakan pendapat dan pemikirannya, termasuk ucapannya.

__ADS_1


Untuk itu, nyonya Rose lebih memilih mengungkapkan pendapatnya dalam hati saja.


Dan sekarang, yang mulia justru selalu saja menunjukkan kemesraan di depan orang-orang terdekatnya dengan tidak menyadari sikapnya selama ini mengolok-olok kemesraan duke Evan dan duchess Alaya. Padahal sikap mereka berdua sama saja dengan yang mulia terhadap permasuri yang aku yakin hampir setiap hari sibuk menutupi bekas tanda cinta dari yang mulia, sehingga sejak menikah sampai sekarang, permaisuri Deanda selalu menolak untuk dibantu para pelayan saat mandi. Dan sikap yang mulia yang mendukung keputusan permaisuri membuatku semakin yakin tentang hal itu.


Nyonya Rose kembali mengungkapkan pemikirannya dalam hati sebelum menjawab permintaan dari Alvero.


“Baik Yang Mulia, begitu salah satu dari mereka keluar dari kamar, saya akan segera menyampaikan pesan Yang Mulia pada mereka.” Nyonya Rose menjawab kata-kata Alvero dengan sikap hormat.


“Oke. Segera beritahukan kepadaku saat mereka sudah keluar dari kamarnya, karena aku ingin memberitahukan kepada mereka agar dalam dua tiga hari ini tidak menyusun rencana lain yang membuat mereka harus keluar dari penthouse ini.” Alvero kembali berkata kepada nyonya Rose.


“Dan untuk kedatangan Ornado dan rombongannya, aku akan menyiapkan sebuah makan malam sederhana di penthouse, karena itu aku akan meminta Alea, Cleosa, Abella dan juga Clare membantu kalian di sana menyiapkan segala sesuatunya, selain Ernest dan Erich tentunya.” Perkataan Alvero membuat nyonya Rose tersenyum.


“Yang Mulia memang paling ahli dalam hal menyenangkan hati permaisuri Deanda.” Nyonya berkata dengan sikap santai, membuat Alvero di seberang sana langsung mengernyitkan dahinya.


“Kenapa Nyonya Rose berkata seperti itu? Aku membawa mereka kesana karena mereka adalah orang-orang yang bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia tentang Alaya dan Evan saat ini, yang belum boleh diketahui oleh masyarakat luas.” Alvero langsung menanggapi kata-kata nyonya Rose.


“Bagaimana tidak menyenangkan permaisuri Deanda, kalau orang-orang yang dipilih oleh Yang Mulia adalah para teman dekat permaisuri Deanda.” Mendengar jawaban nyonya Rose, mau tidak mau pada akhirnya Alvero tersenyum.

__ADS_1


“Ah, begitu ya? Jujur saja awalnya aku tidak sadar tentang hal itu. Tapi terimakasih nyonya Rose sudah mengingatkanku tentang hal itu. Aku akan memberitahukannya kepada Deanda agar dia bersemangat dan tahu kalau aku adalah orang yang paling perduli padanya dan orang-orang dekatnya. Dia beruntung sekali memiliki suami sehebat dan sebaik aku.” Perkataan Alvero membuat nyonya Rose tersenyum geli, melihat bagaimana narsisnya raja muda Gracetian itu.


Yang Mulia jauh lebih beruntung karena jika menikah dengan gadis lain, kehidupan Yang Mulia belum tentu bisa normal dan sebahagia hari ini, apalgi dengan sejarah alergi pada perempuan yang diderita yang mulia.


Nyonya Rose berkata sambil menarik nafas lega, mengingat bagaimana dulu nyonya Rose sangat khawatir dengan masa depan Alvero karena alergi yang dideritanya.


“Sebenarnya akulah yang paling beruntung karena bisa menikah dengan orang sebaik dan sehebat Deanda….” Mendengar pujian Alvero terhadap Deanda membuat nyonya Rose tersenyum lebar.


“Ya Yang Mulia, Anda berdua sama-sama beruntung.” Komentar nyonya Rose tentu saja membuat senyum mengembang di wajah Alvero yang matanya baru saja menatap ke arah pintu masuk, dimana Deanda sedang membuka pintu kantornya, dan datang bersama dengan Alexis, yang tadi menerima panggilan dari Alvero untuk membahas masalah Goldie Tavisha, karena Alvero ingin memberikan bantuan kepada para penduduk di sana.


“Baiklah kalau begitu Nyonya Rose, aku masih ada urusan penting dengan permaisuri dan tuan Alexis. Jangan lupa, ramuan yang biasanya nyonya Rose berikan kepadaku dan Deanda sudah menipis. Aku tidak mau sampai permaisuri dan aku terlambat meminumnya.” Dengan sebuah bisikan pelan, Alvero mengakhiri kata-katanya.


Kata-kata terakhir Alvero membuat nyonya Rose tersenyum geli, karena Alvero sedang membicarakan ramuan yang merupakan ciri khas buatan penduduk tempat asal nyonya Rose, yang dikenal sangat ahli dalam membuat ramuan herbal yang memberikan efek seperti obat kuat kepada pria, dan juga ramuan lain sebagai obat penguat kandungan untuk wanita, sehingga aman jika dalam masa kehamilannya, seorang wanita tetap aktif dalam kegiatan ranjangnya bersama suami tercinta.


# # # # # # #


“Sepertinya perutmu sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.” Evan berkata dengan nada geli begitu mendengar suara perut Alaya yang cukup nyaring, padahal setelah percintaan mereka tadi pagi, Alaya sudah menghabiskan cukup banyak roti dan jam di dinding belum menunjukkan waktunya makan siang.

__ADS_1


__ADS_2