Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
KEKALUTAN EVAN


__ADS_3

Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Evan langsung menghela nafas panjang, dengan hati yang terasa bergejolak melihat ke arah Alaya.


Saat ini Evan benar-benar tidak bisa melukiskan apa yang sedang terjadi pada hatinya.


Sedih, bingung, takut kehilangan, bercampur dengan rasa cinta dan rindu yang tiba-tiba begitu memenuhi rongga hatinya, membuat perasaan Evan jadi tidak menentu.


Apa yang sebaiknya aku lakukan my princess? Aku tidak ingin menikah denganmu dengan cara seperti yang mulia Alvero rencanakan. Tapi aku sungguh tidak ingin kehilangan kamu.


Evan berkata dalam hati dengan mata hijaunya yang menatap ke arah Alaya dengan tatapan sendu.


Dan bagi Evan, baru pertama kali ini dia merasakan begitu takut kehilangan seorang gadis dalam hidupnya.


Saat dia mengetahui tentang hubungan Alvero dan Deanda waktu itu, ketika Alvero tiba-tiba mengumumkan tentang pertunangannya dengan Deanda, Evan yang memang sempat menyukai Deanda tahu hatinya cukup kecewa. Akan tetapi saat itu dia bisa merelakan Deanda, apalagi setelah dia tahu Deanda ternyata sangat mencintai Alvero.


Tapi untuk saat ini, bahkan Alaya masih ada di hadapannya, tapi membayangkan bagaimana Alaya akan dibawa pergi darinya besok jika dia menolak rencana yang diusulkan oleh Alvero, membuat hati Evan terasa sangat sakit, membuat tanpa sadar mata Evan memerah, meskipun tidak sampai ada airmata yang menetes.


“Alaya Adalvino… bagaimana bisa kamu membuat seorang Evan Carsten, jenderal besar Gracetian terlihat begitu lemah dan menyedihkan seperti ini?” Evan berkata pelan kepada Alaya, meskipun dia tahu gadis itu tidak akan bisa mendengar kata-katanya saat ini.

__ADS_1


Sebentar kemudian Evan meraih sebuah kursi dan duduk di pinggiran temapt tidur, dengan tubuh menghadap ke arah tubuh Alaya yang terbaring di depannya.


Dengan gerakan ragu, tangan Evan terulur dan meraih salah satu tangan Alaya yang berada di samping tubuhnya dan Evan menggenggam tangan itu, merangkumnya dengan kedua tangannya yang sikunya bertumpu pada tempat tidur, dan menggengam tangan yang terlihat pucat itu dengan cukup erat.


“Apa kamu tidak ingin memberikan pendapatmu padaku tentang apa yang harus aku lakukan my princess? Apa jawaban yang harus aku sampaikan kepada kakakmu yang ingin membawamu pergi dariku? Rasanya aku tidak bsia lagi jauh darimu.” Evan berbisik lirih sambil sambil mengarahkan tangan Alaya ke wajahnya, lalu menciumi punggung tangan itu dengan lembut.


“Bangunlah my princess… lakukan apa yang biasa kamu lakukan padaku. Kamu boleh cemberut, melotot, bahkan berteriak dengan nada protes di depanku seperti biasanya, asal kamu bangun dari tidurmu….” Evan kembali berkata pelan, kali ini dengan nada terdengar seperti orang memohon.


“Aku ingin menjadi seorang pangeran yang bisa membangunkanmu seperti yang terjadi pada cerita dongeng putri tidur. Tapi sayangnya aku tahu dengan kondisimu sekarang, sebuah ciuman tidak akan bisa membangunkanmu.” Perkataan Evan diiringi dengan gerakan kepalanya yang menjauh dari sosok Alaya, lalu menundukkan kepalanya, dengan tangannya yang sedang menggenggam tangan Alaya, dia tempelkan di dahinya.


Sebuah ketukan dari arah pintu, membuat Evan langsung mengangkat kepalanya, dan menoleh ke arah pintu sambil mengerjap-kerjapkan matanya, berusaha untuk menghilangkan jejak dari tanda-tanda matanya yang sudah akan mengeluarkan airmata.


“Evan….” Sebuah suara lembut langsung terdengar begitu pintu dibuka, dan sosok Danella muncul dari balik pintu kamar Evan.


"Ma...." Evan langsung menyahuti panggilan Danella, dan dengan gerakan pelan sekaligus lembut, Evan meletakkan kembali tangan Alaya ke samping tubuhnya, dan melepaskan genggaman erat yang tadi dilakukannya.


Dengan langkah pelan, Danella berjalan ke arah Evan, lalu berdiri dengan diam di sampaing Evan yang masih dalam posisi duduk di samping pinggiran tempat tidur.

__ADS_1


"Apa kondisinya sudah membaik? Apa panasnya sudah lebih stabil?" Danella bertanya sambil  tangannya menepuk pelan bahu Evan.


"Dokter belum bisa menjamin apapun tentang hal itu Ma, karena ketika kita sedang bersama yang mulia tadi, panas tubuhnya sempat sedikit naik lagi meskipun setelah dokter memeriksanya dan menanganinya, panasnya kembali turun." Evan berkata lirih dengan kedua tangannya saling menumpang di atas tangan Alaya, meskipun dia tidak lagi memegang tangan yang terkulai lemas itu.


"Evan, meskipun kondisi Alaya mungkin membuatmu sedih dan bersusah hati. Tapi mama ingin tahu tentang rencanamu terhadap apa yang diminta oleh yang mulia Alvero tadi....." Pertanyaan Danella membuat Evan manoleh ke arahnya, dan menatap wajah wanita yang begitu disayanginya itu dalam-dalam.


"Jika saja boleh bersikap egois... bisakah aku menerima penawaran yang mulia tanpa perlu memikirkan akibatnya?" Pertanyaan balik dari Evan membuat Danella menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya.


Dari perkataan Evan, Danella bisa membaca pikiran putra tunggalnya yang sangat tertekan dengan keadaan Alaya saat ini, menunjukkan kalau anak kesayangannya itu, ternyata sudah sebegitu jatuh cintanya pada Alaya.


“Apa kamu yakin itu adalah pilihan yang terbaik untuk kalian berdua?” Pertanyaan Danella membuat Evan tertegun sejanak.


“Apa aku salah… jika aku tidak ingin kehilangan Alaya Ma? Aku ingin dia selalu berada di dekatku… aku ingin memilikinya apapun yang terjadi. Aku tidak akan melepaskannya untuk alasan apapun, apalagi untuk pria lain.” Danella langsung terdiam begitu mendengar kata-kata Evan.


Baru kali ini Danella melihat, Evan begitu menginginkan seorang gadis untuk mejadi istrinya, bahkan mulai terlihat bagaimana Evan menunjukkan egonya sebagai laki-laki yang memiliki kekuasaan dan status tinggi di Gracetian ini.


Dari situ Danella bisa melihat dan semakin yakin bahwa Evan benar-benar sudah begitu jatuh cintanya pada Alaya, membuat Danella tidak tahu harus berkata apa kepada Evan, karena bagi Danella, baru kali ini Evan terlihat seperti itu terhadap seorang gadis.

__ADS_1


__ADS_2