
Bagi kedua pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk cinta itu, tadi sore adalah saat paling berharga dimana baik Evan maupun Alaya, dengan penuh cinta, menyerahkan diri mereka kepada pasangannya dan menikmati bagaimana indahnya surga dunia yang baru pertama kali ini mereka rasakan.
Dan yang pasti, untuk saat ini, kenikmatan itu ingin kembali mereka rasakan tanpa ada yang mengganggu mereka, sebuah kenikmatan yang baru saja pertama kali mereka nikmati, namun sudah membuat mereka berdua dibuat mabuk kepayang dan terus menginginkannya seperti orang yang kecanduan.
"Ah... eh... bukan begitu Evan.... Aku tidak takut padamu, kenapa aku harus takut pada seseorang yang begitu aku cintai? Hanya saja takut salah bertindak sehingga membuat semua rencanamu terhadap duke Hugo dan duchess Kattie gagal." Alaya berkata dengan nada suara yang begitu serius, karena dia tidak ingin adalagi kesalahpahaman antara dia dan Evan, seperti sebelum-sebelumnya.
Alaya hanya ingin bersama dengan Evan, tapi dia sekarang sebagai duchess Carsten, istri resmi dari Evan, harus mulai belajar menempatkan dirinya, dan memikirkan tentang posisi suaminya.
"My princess, tahukah kamu... kata-katamu barusan membuatku semakin tidak sabar untuk menghabiskan malam bersamamu.... Terimakasih sudah memikirkanku dengan begitu dalam." Evan berkata sambil bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar dari ruang kerjanya, bergegas menuju kamarnya, dimana Sam sudah menunggunya di sana, dengan membawa satu stel pakaian khas milik kediaman keluarga Carsten.
"Segera panggil Alea dan minta dia untuk mengantarmu keluar dari istana. Aku juga akan segera berangkat menuju apartemen tempat kita bertemu malam ini." Evan kembali berkata sambil mulai melepaskan pakaian kancing pakaiannya agar dia bisa menggantinya dengan pakaian pengawalnya.
"My princess, apapun yang terjadi, kita harus bertemu dan bersama malam ini. Hati-hati ya, sampai nanti. Cupppp...." Evan yang mengakhiri kata-katanya dengan memberikan sebuah kecupan singkat di layar handphonenya hampir saja membuat mata Sam melotot dengan tatapan tidak percayanya.
Bagaimana seorang Evan yang biasanya terlihat begitu berwibawa dan juga tenang, dengan senyum manisnya yang bagi orang lain seperti senyum seorang malaikat, tiba-tiba bertindak absurb seperti itu, seolah dia bukanlah seorang jenderal besar yang memiliki kharisma kepemimpinan yang membuat banyak orang bergetar karena hormat, kagum, takluk, saat melihat keberadaannya.
Putri Alaya... ah duchess Alaya benar-benar sudah membuat duke Evan mabuk kepayang karena begitu cintanya pada Anda.
Akhirnya Sam hanya bisa berkata dalam hati dengan rasa tidak percaya masih memenuhi hatinya, melihat bagaimana sikap Evan terhadap istrinya, karena baru pertama kalinya Sam melihat bagaimana sikap dan tindakan Evan yang tiba-tiba berubah, seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta, membuat Sam merasa aneh sekaligus geli.
__ADS_1
Tapi apa mau dikata, selama itu membuat pimpinannya bahagia dan kehidupannya semakin baik, sebagai seorang bawahan yang setia, Sam hanya bisa mendukung apapun yang dilakukan oleh Evan, termasuk rencananya malam ini yang akan menyamar sebagai salah satu pengawal kediaman Carsten dan keluar secara diam-diam dari rumahnya sendiri, agar bisa bertemu dengan wanita tercintanya.
Sebuah tindakan yang bagi Sam sungguh bukan seperti Evan yang dia kenal, yang menunjukkan sisi tidak sabarannya, sebuah sikap yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Evan saat menghadapi apapun juga.
Yang Sam tahu, selama ini Evan adalah orang yang selalu tenang dalam setiap keadaan, dan sikap tenangnya itu seringkali membuat musuhnya terkecoh, karena tanpa mereka sadari, Evan sudah menyiapkan segalanya dengan baik untuk memukul telak dan menghancurkan musuhnya, meski di depan mereka dia tetap terlihat diam dna tenang.
Bahkan seorang Evan, bisa saja menembak kepala atau jantung musuhnya tanpa berkedip atau mengalihkan pandangan matanya, dengan tangan yang tidak bergetar sama sekali saat terpaksa harus menghabisi musuhnya dengan senjata yang dia pegang.
Termasuk ketika Evan menodongkan pistolnya di kepala dokter Jordan…. Sam yakin jika dokter Jordan tidak melakukan tindakan sesuai yang diinginkan Evan, salah memilih jawaban atas penawaran Evan, tidak perlu menunggu lama pasti peluru dari dalam pistol Evan benar-benar akan menembus batok kepala dokter Jordan saat itu.
Meskipun Evan selalu terlihat tenang, tapi dia seperti singa yang tertidur. Siapapun yang berani mengusiknya tinggal menunggu waktu untuk merasakan tajamnya gigi dan cakaran dari singa itu.
Tapi saat ini, Sam bisa melihat bagaimana terburu-burunya setiap gerakan Evan, termasuk saat dia memasukkan pakaiannya ke dalam celana sambil berjalan mengambil wig untuk menutupi rambutnya yang berwarna emas, meletakkannya dengan sembarangan ke atas kepalanya, seolah setiap detik yang berlalu sangatlah berharga baginya.
Melihat itu, Sam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan beberapa kali membantu Evan untuk merapikan diri dan pakaian yang dia kenakan, termasuk wig yang terlihat sedikit melenceng dari tempat yang seharusnya.
“Kita pergi sekarang Sam! Aku tidak mau istriku menunggu kita di sana. Kita harus datang terlebih dahulu dibandingkan dia.” Evan berkata sambil berjalan dengan gerakan cepat, setengah berlari dan kedua tangannya membetulkan letak topi yang ada di kepalanya, membiarkan wajahnya sebagian tenggelam di dalam topi itu sehingga orang sulit untuk mengenalinya sebagai Evan.
“Apa setelah bertemu putri Alaya, Duke Evan akan kembali ke kediaman Carsten?” Dengan setengah berlari, mengikuti gerakan kaki Evan, Sam bertanya kepada Evan yang langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Malam ini aku akan tinggal bersama duchess Alaya di apartemen. Kamu bisa langsung meninggalkan lokasi begitu sudah mengantar putri Alaya ke apartemenku.” Perkataan Evan membuat Sam harus menahan senyum gelinya.
Aku ini benar-benar bodoh, menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah pasti. Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang dan melelahkan untuk duke Evan dan duchess Alaya. Sudah seharusnya aku tahu itu, tapi tetap saja mulutku ini ingin memastikannya dengan bertanya tentang rencana duke Evan malam ini seperti orang bodoh yang berlum pernah merasakan bagaimana menjadi pengatin baru yang baru saja mengenal surga dunia ini.
Sam berkata dalam hati, dan entah kenapa, pembicaraannya dengan Evan barusan, membuat Sam ikut merindukan sosok istrinya yang biasanya selalu menunggunya pulang di ruang keluarga sambil menonton.
Sudah menjadi kebiasaan bagi istri Sam, jam berapapun Sam pulang, dengan setia istrinya akan menunggunya setelah menidurkan anak mereka yang masih berusia 2 tahun itu.
# # # # # # # #
Sebuah ketukan di pintu kamarnya, membuat Alvero yang baru saja selesai membersihkan dirinya setelah mendapatkan jatah dari Deanda, langsung berjalan menuju pintu kamarnya.
“Alaya? Kamu tahu ini sudah cukup larut. Kenapa masih belum bersiap untuk tidur?” Alvero dengan nightrobenya yang melihat Alaya berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian yang pastinya bukan pakaian tidur, bertanya sambil menatap Alaya dengan tajam, menggunakan mata hazelnya yang indah.
Sebentar kemudian, Alvero memberi jalan pada Alaya yang masuk ke kamarnya, sambil mata Alvero melirik ke arah walk in closet, dimana Deanda sedang berganti pakaian dengan pakaian tidur.
Setelah pertemuan dengan Evan tadi, tanpa membiarkan Deanda mengganti pakaian yang dikenakannya, Alvero sudah lebih dahulu meyergapnya, dan meminta jatahnya tanpa Deanda bisa menolaknya.
Sehingga untuk saat ini Deanda ingin mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang nyaman di tubuhnya, setelah tadi dia membersihkan dirinya di kamar mandi dibantu Alvero, yang akhirnya berakhir dengan meminta jatahnya kembali di kamar mandi, seperti perkiraan Deanda tadi, bahwa malam ini Alvero akan membuatnya cukup repot karena meminta jatahnya lebih dari sekali.
__ADS_1
Dan itupun, dalam durasi yang cukup lama, seolah bagi Alvero melakukan hal seperti itu tidak membuat tenaganya terkuras sedikitpun, justru membuat semangat dan gairahnya semakin menggebu-gebu.