Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MULAI BISA MENEBAK SIAPA PELAKUNYA


__ADS_3

Setelah mengamati aspal jalanan di sekitar tergulingnya mobil tronton tersebut dan tidak melihat adanya tanda-tanda usaha keras dari pengemudi untuk menghentikan truk yang dikemudikannya, Evan muali melihat dan mengamati ke sekelilingnya.


Sampai akhirnya mata Evan menangkap adanya suatu yang ganjil dari arah balik mobil tronton itu, dan langsung mengernyitkan keningnya begitu diihatnya di bagian sana juga terlihat macet, meskipun tidak sambil macet total seperti kondisi di belakangnya.


"Kenapa di bagian depan juga terlihat macet?" Evan bertanya kepada Sam.


"Dari informasi yang baru saya dapatkan, dua kilometer dari sini ada pohon tumbang juga yang sedang menghambat lancarnya arus lalu lintas Duke Evan." Jawaban dari Sam membuat Evan langsung menahan nafasnya, karena instingnya mengatakan kalau memang kecelakaan yang terjadi tidaklah normal.


Sepertinya ada yang mau bermain-main denganku dan mencoba untuk melawanku. Kita lihat saja siapa yang akan tersenyum penuh kemenangan di akhir.


Evan berkata sambil melirik ke arah salah satu pengendara mobil yang tampak mencurigakan setelah beberapa kali Evan mencoba mengamatinya.


Diantara banyak orang yang sedang terlihat tidak tenang karena adanya kemacetan, orang itu terlihat santai, dan sesekali menyunggingkan senyum di bibirnya, seolah kemacetan itu justru membawa sebuah berkah besar baginya.


Dengan sikap tegas dan penuh wibawa, akhirnya Evan berjalan mendekat ke arah pengemudi mobil yang di dalam mobilnya tampak 3 orang lain yang tampak duduk bersantai. Satu orang duduk di samping pengemudi, dua orang yang lain di bangku belakang.

__ADS_1


Begitu sampai di samping kaca pengendara mobil, Evan mengetuk-ketuk kaca mobil, membuat orang-orang yang ada di dalam mobil terlihat sedikit kaget, dan secara otomatis langsung membukakan kaca mobil, meskipun dia tidak mengenal Evan yang malam ini mengenakan setelan jas formal untuk menghadiri acara makan malam di istana.


Meski penampilan Evan tidak seperti seorang petugas keamanan, laki-laki itu tetap membukakan kaca mobilnya untuk Evan, karena dalam pikirannya, dalam kondisi macet dan banyak orang, tidak mungkin ada yang berniat jahat padanya seperti merampok atau merampas mobil yang ditumpanginya.


Apalagi Evan dengan wajah tampan, sikap wibawa dan setelah jas yang terlihat mahal yang sedang dikenakannya saat ini, tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda kalau dia adalah seorang penjahat yang berniat buruk padanya, membuat laki-laki itu dengan percaya diri membuka kaca mobil di sampingnya.


Begitu kaca mobil dibuka, dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, Evan langsung tersenyum dengan mata menatap ke arah para penumpang lain yang langsung memandang ke arah Evan dengan sikap kaget.


Salah seorang dari penumpang yang duduk di bagian kursi penumpang di belakang mobil itu tampak dengan buru-buru langsung menarik resleting jaket yang dikenakannya, tepat sedetik setelah Evan melihat ada simbol kerajaan Rodfeel yang terlihat setengahnya oleh Evan, ada di bagian dada pakaian yang dia kenakan, yang sengaja dia tutup rapat dengan jaket di bagian luarnya.


Putra mahkota Christopher sepertinya tahu bahwa lamarannya akan ditolak oleh yang mulia Alvero, dan dia juga tahu alasan apa yang akan digunakan oleh yang mulia Alvero untuk menolak lamaran itu berkaitan denganku, sehingga berusaha menghalangi kedatanganku ke istana Gracetian.


Evan berkata dalam hati setelah melihat apa yang dilihatnya barusan, mulai memberikan jawaban padanya atas apa yang terjadi.


Jadi putra mahkota Christopher, benar-benar menganggap aku sebagai pesaingnya, dan sepertinya dia tidak akan mudah menyerah terhadap penolakan yang mulia Alvero dengan lamarannya. Jika berita yang masih belum diumumkan keluar dari istana putra mahkota Christopher bisa tahu secepat itu, artinya ada pengkhianat yang sudah berani membocorkan info tentang rencana yang mulia Alvero menjodohkan aku dan Alaya.

__ADS_1


Evan kembali berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangannya, kembali fokus pada pengemudi mobil itu.


Karena sedang serius menanggapi situasi yang sedang terjadi saat ini, Evan sampai-sampai tidak sadar kalau sudah dua kali ini, dengan santainya secara spontan, dia menyebutkan nama Alaya tanpa embel-embel putri di depannya, seolah hubungan mereka sudah sedemikian dekatnya.


"Selamat malam Pak, apa boleh aku melihat tanda pengenal Anda?" Pertanyaan dari Evan langsung membuat wajah laki-laki terlihat sedikit panik.


"Eh... mmm... apa saya sudah melakukan kesalahan Pak? Bukannya yang lain juga sedang berhenti di tengah jalan karena kondisi macet?" Laki-laki itu berusaha mencari alasan untuk menolak permintaan Evan.


"Tidak, Anda tidak melakukan kesalahan, hanya saja aku ingin tahu tanda pengenal yang Anda miliki agar saya bisa yakin Anda tidak bersalah, dan tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian malam ini." Dengan tatapan mata tajam, meski sebuah senyum tersungging di bibirnya, perkataan Evan sukses membuat wajah laki-laki menjadi sedikit pias karena kata-kata Evan.


"Ten... tentu saja... kami... eh saya tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini. Kami juga termasuk korban kemacetan karena adanya kecelakaan yang tidak terduga malam ini." Dengan suara terdengar gugup, pengemudi mobil itu langsung menanggapi perkataan Evan.


Melihat itu, Evan hanya tersenyum, dan langsung menegakkan kembali tubuhnya, lalu berjalan ke arah Sam yang berdiri tidak jauh dari situ, tanpa menunggu pengemudi itu menyerahkan kartu identitas pengenalnya seperti permintaan Evan sebelumnya.


Tindakan Evan membuat orang itu justru merasa tidak tenang, karena seolah tanpa melanjutkan investigasinya, laki-laki tampan yang tampak berwibawa itu sudah tahu tentang mereka dan apa yang sudah diperbuat mereka.

__ADS_1


"Sam... urus orang-orang itu dengan baik. Tidak perlu menahan mereka, karena mereka sebenarnya adalah tamu penting dan perlu diperlakukan dengan istimewa, hanya saja cara mereka datang berkunjung dengan cara yang kurang pas. Lakukan saja apa yang perlu dilakukan, setelah itu biarkan mereka kembali pada tuannya." Evan berkata pelan dengan sikap tenang, seolah yang akan dihadapinya bukan masalah besar.


__ADS_2