Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
OMELAN PANJANG ALAYA


__ADS_3

Dengan gerakan pelan, Evan membuka tudung saji yang di bawahnya berisi berbagai makanan enak yang merupkan kesukaan dari Alaya.


Begitu dia membukanya, Evan yang melihat semua piring kosong di bawahnya sedikit kaget, namun sedetik kemudian Evan tertawa kecil tanpa suara dan menutup bibirnya dengan punggung telapak tangannya yang tergenggam.


Wah…. Selera makan istriku benar-benar bagus ternyata. Melihat semua makanan yang dilahapnya hingga tandas ini, itu artinya dia sudah benar-benar melewati masa kritisnya dan akan segera pulih.


Evan berkata dalam hati dengan tatapan masih tidak percaya, tubuh kurus istrinya itu ternyata mampu menampung makanan sebanyak yang diberikan oleh para pelayan, yang sebenarnya bisa dimakan oleh 3 orang atau lebih.


Evan sengaja meminta para pelayan menyediakan beberapa macam masakan meskipun untuk setiap porsinya tidak besar, karena Evan tidak tahu apa yang akan diinginkan oleh Alaya untuk dimakan setelah dia sadar.


Akan tetapi karena semua makanan yang disediakan dilahap habis oleh Alaya, tentu saja porsinya benar-benar jumbo untuk seorang gadis seperti Alaya, yang setahu Evan, gadis yang dia kenal rata-rata begitu menjaga pola makannya, karena begitu takut menjadi gemuk.


Sepertinya selera makanmu sungguh dahsyat my princess. Syukurlah kalau begitu. Aku harap setelah ini aku bisa menangani kemarahanmu. Meskipun dia belum tahu kami berdua sudah menikah, tapi membawanya tanpa ijin ke rumahku, bahkan membawanya ke dalam kamarku, cukup untuk menjadi sebuah alasan bagi dia untuk jengkel dan marah padaku.


“Ehem….” Evan berdehem pelan sambil dengan sengaja mendorong meja dorong makanan itu dengan kakinya sehingga kaki meja maknaan dorong itu bertabrakan dengan nakas yang ada di samping tempat tidur dan menimbulkan suara cukup keras.


Mendengar suara deheman sekaligus benturan antara kaki meja makan dorong dan nakas yang membuat sendok maupun garpu yang bergoyang dan menimbulkan suara dentingan cukup nyaring itu, tubuh Alaya terlihat tersentak kaget, dan pikiran cerdasnya langsung bisa tahu apa yang sedang dilakukan oleh Evan barusan.

__ADS_1


Matilah aku! Kalau duke Evan membuka tudung saji makanan itu, dia pasti akan langsung tahu kalau aku yang memakan semua makanan itu. Dan itu artinya, dia juga akan tahu kalau sekarang aku sedang berpura-pura masih dalam kondisi tidak sadar diri.


Dengan wajah mulai terlihat bingung dan keringat dingin mulai keluar sedikit demi sediki di keningnya, Alaya mulai khawatir dengan apa yang akan terjadi dengannya setelah ini, dan dia tahu kalau dia harus memutuskan dengan cepat apakah dia akan terus berpura-pura atau bangun menyambut dan menghadapi kedatangan Evan.


Dan Alaya tahu, cepat atau lambat, dia memang harus berhadapan dengan Evan yang saat ini sedang tersenyum sambil melirik ke arahnya.


“My princess… kamu masih mau tetap pura-pura tidur, atau kamu ingin menjadi seperti seorang putri tidur yang dibangunkan dengan sebuah ciuman? Tentu saja tidak ada pangeran, tapi ada seorang duke di sini. Apa kamu mau membuat cerita dongeng baru, pangeran yang digantikan oleh seorang duke?” Mendengar pertanyaan Evan dengan suara santai, tapi mengandung sebuah ancaman bagi Alaya itu, membuat dengan gerakan reflek, Alaya menarik selimut yang menutupi tubuhnya, sedikit melemparkannya ke samping, dan langsung bangun dari posisi tidurnya, duduk di pinggiran tempat tidur.


Mata Alaya langsung memandang ke arah Evan dengan wajah kesal yang ditunjukkannya, sedang Evan yang berdiri dengan kedua tangan menyilang di depan tubuhnya, bersidekap memandang Alaya dengan wajah terlihat ramah, tatapan mata hijaunya yang lembut, dan bibir yang menyungingkan senyum manis.


Sebuah pamandangan yang sebenarnya sangat mematikan bagi Alaya, membuat otot-otot di tubuh Alaya melemah dan jantungnya berdetak dengan kencang di dalam sana.


“Apa kamu sudah merasa lebih baik? Perlu dokter untuk memeriksa keadaanmu?” Pertanyaan Evan membuat Alaya sedikit mengalihkan pandangan matanya ke samping dan mengeluarkan sebuah dengusan.


“Dokter tadikan sudah bilang aku sudah membaik? Buat apa pura-pura menanyakan kondisiku?” Alaya berkata sambil bangkit dari duduknya, berdiri tepat di hadapan Evan yang karena tubuhnya yang jauh lebih tinggi dari Alaya harus sedikit menundukkan wajahnya untuk dapat menatap wajah Alaya dengan jelas.


“Aku tidak menyangka kalau Duke Evan ternyata laki-laki yang tidak mengerti tentang tata krama dan bagaimana bertindak seperti norma yang ada di negara ini. Di Gacetian, meski sebuah negara di kawasan Eropa, standar normanya bahkan tidak kalah tinggi dengan negara-negara di Asia. Tapi Duke Evan sebagai seorang duke dengan label jenderal besar Gracetian, bisa-bisanya melakukan hal memalukan seperti ini.” Tanpa memberikan kesempatan kepada Evan untuk menjawab pertanyaannya, Alaya langsung mengomel di hadapan Evan.

__ADS_1


“Lho… memang ada yang salah yang sudah aku lakukan?” Evan bertanya dengan santainya dan wajah innocent seperti seorang anak kecil, mmebuat Alaya semakin emosi.


“Jelas saja salah. Beraninya Duke Evan membawaku tanpa ijin ke tempat….”


“Bagaimana caraku ijin pada orang yang sedang tidak sadarkan diri?” Lagi-lagi, dengan santainya Evan lamgsung memotong perkataan Alaya, dia berkata kepada Alaya dengan wajah yang sengaja dia buat seperti orang yang sedang berpikir keras akibat kata-kata Alaya, dan itu membuat level kejengkelan Alaya semakin meningkat drastis.


“Itu pasti hanya sebuah alasan Duke Evan karena tidak mau disalahkan. Padahal Duke Evan jelas-jelas salah dan hanya mencari-cari alasan untuk membenarkan diri. Duke Evan bisa saja membawaku ke rumah sakit atau ke istana,  memberitahu kak Alvero atau kak Deanda tentang kondisiku. Mereka berdua pasti akan segera datang dan bertindak. Tapi Duke Evan justru membawaku ke tempat ini, padahal kita berdua tidak memiliki hubungan apapun. Dan sedari awal Duke Evan tahu, aku tidak mau menikah dengan Duke Evan… mmphhh…..” Mulut Alaya yang terus mengomel tiba-tiba terdiam begitu dirasakan ada sesuatu yang hangat dan kenyal tiba-tiba saja membungkam bibirnya.


Pada akhirnya, Evan tidak bisa lagi mengendalikan rasa gemasnya begitu melihat bagaimana Alaya yang terus mengucapkan omelan panjangnya, sehingga membuat naluri laki-laki Evan yang mendominasi, langsung membungkam bibir Alaya dengan bibirnya.


“Du… duke Evan!” Alaya langsung berteriak keras sambil mendorong tubuh Evan dengan kedua tangannya, dengan wajah benar-benar terlihat marah.


Bisa saja Evan dengan kekuatan fisik yang dimilikinya menahan penolakan dari Alaya itu, apalagi tubuh Alaya yang baru tersadar itu belum pulih sepenuhnya kekuatanya, tapi sebagai laki-laki yang memiliki prinsip menghormati wanita, apalagi Evan begitu mencintai Alaya, Evan memilih untuk menghentikan tindakannya, dan mundur dua langkah ke belakang.


Setelah Evan menjauh, dengan sikap kesal, Alaya langsung mengusap bibirnya dengan punggung telapak tangannya.


“Aku mau pergi dari sini! Dan jangan berusaha untuk menghalangiku!” Tanpa ingat lagi dengan sopan santun yang harus dia tunjukkan pada seorang duke yang posisinya lebih tinggi darinya, Alaya kembali berteriak di depan Evan.

__ADS_1


Dan tanpa menunggu jawaban dari Evan, Alaya dengan gerakan cepat tanpa perduli bahwa dia tidak membawa apapun, termasuk handphonenya, Alaya langsung bergegas keluar dari kamarnya, dan tidak memperhatikan lagi sekitarnya, termasuk wajah terheran-heran para dokter dan perawat yang kebetulan ada di dekat ruangan itu.


__ADS_2