Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
RASA PENASARAN EVAN


__ADS_3

"Ehem...." Akhirnya Evan berdehem pelan sambil melirik ke arah meja dorong makanan yang dia tasnmya penuh dengna makanan lezat itu, setelah sebelumnya, Evan menyunggingkan senyum kecil begitu melihat wajah Alaya yang begitu memerah dan langsung menarik nafas lega setelah dia menegakkan tubuhnya kembali, menjauhkan wajahnya dari wajah Alaya, yang hampir saja membuatnya hilang kendali dengan mengecup pipi gadis cantik itu.


Hah, apa yang terjadi pada diriku sebenarnya, kenapa sekarang aku merasa begitu sulit untuk mengendalikan diri di hadapan seorang gadis?


Evan berkata dalam hati sambil mengingat-ingat, bagaimana dalam waktu dekat ini, dia masih tidak bermasalah saat sedang berada di dekat seorang gadis, tapi di dekat Alaya, bahkan dia hampir kehilangan pikiran warasnya yang biasanya selalu bisa mengendalikan situasi dengan baik.


Dengan kesadaran penuh, Evan yang awalnya ingin menggoda Alaya dan ingin membuat gadis itu menghentikan kebohongannya, pada akhirnya justru dia yang hampir saja tergoda untuk mencium pipi Alaya.


Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya? Jika sekedar tertarik, aku memang tertarik pada Alaya, dan aku yakin, dengan berjalannya waktu, aku bisa mencintainya dengan baik. Tapi apa yang aku rasakan sekarang ini, sepertinya bukan sekedar rasa tertarik. Dan kenapa perasaanku padanya, rasanya tidak asing? Keberadaannya dalam hatiku, seperti orang yang sudah lama aku kenal. Apa kami pernah bertemu sebelumnya... sebelum dia menjadi putri Gracetian?


Evan berkata dalam hati sambil menghela nafasnya, karena tiba-tiba saja, kepalanya sedikit terasa sakit saat dia berusaha mengingat-ingat tentang apakah dia dan Alaya pernah bertemu di masa lalu.


Aku tidak tahu dengan pasti, tapi sepertinya, aku memang sudah tidak bisa lagi berpaling darimu my princess. Jadi, apapun yang kamu lakukan, aku pastikan, aku tetap akan memutuskan untuk menikah denganmu, dan menjadikanmu milikku seutuhnya. Aku, Evan Carsten, tidak akan pernah melepaskanmu lagi, apalagi membiarkanmu menjadi milik laki-laki lain.


Evan berkata dalam hati dengan mata hijaunya yang indah dan teduh menatap ke arah Alaya, tanpa Alaya sadari, bahwa laki-laki tampan itu sudah bertekad bulat untuk bisa menikah dan memilikinya, dan tidak akan lagi membiarkan pria lain mendekatinya, apalagi merebutnya dari tangannya.


Sebuah tekad yang bagi Evan baru sekarang dia nyatakan pada dirinya sendiri, yang selama ini belum pernah dia pikirkan, meski dulunya dia sempat begitu menyukai Deanda.


Akan tetapi dengan Alaya, rasanya Evan merasa dunianya tidak akan lagi lengkap jika dia tidak bisa menjadikan Alaya sebagai miliknya.

__ADS_1


Bahkan rasa posesif yang dulunya bukan menjadi ciri khas Evan, tiba-tiba muncul begitu saja jika itu tentang Alaya.


"Oke kalau kamu belum merasa lapar, aku akan makan lebih dahulu, karena aku sudah merasa lapar sekali, karena begitu mendengar kabar kalau kamu sakit, aku meninggalkan makan siangku begitu saja." Kata-kata Evan sukses membuat wajah Alaya terlihat kikuk, karena dari kata-kata itu seolah-olah Evan sedang mengatakan kalau demi Alaya, dia buru-buru datang ke istana.


Melihat reaksi Alaya, entah mendapatkan keyakinan darimana, Evan yakin kalau Alaya sebenarnya juga memiliki rasa suka padanya, paling tidak rasa tertarik.


Tapi kenapa my princess berusaha begitu keras untuk membuatku membatalkan perjodohan kami berdua? Seolah-olah aku sudah melakukan sebuah kesalahan besar padanya dan membuat dia tidak ingin berada di dekatku. Apa ada sesuatu yang sudah terjadi diantara kami berdua yang membuat dia terlihat tidak ingin dekat denganku yang aku tidak tahu?


Evan berkata dalam hati sambil mengambil posisi berdiri di dekat meja makanan dorong dan mulai mengambil beberapa menu yang terjadi di sana, meskipun sebenarnya dia belum merasa lapar.


Akan tetapi untuk memancing Alaya, Evan harus berpura-pura lapar dan menikmati makanan itu, meskipun sebenarnya makanan manis dan pedas, bukanlah selera Evan.


Jika karena ada trauma pada Alaya karena pernikahan orangtuanya yang sempat bermasalah, aku bisa mengerti kalau dia tidak ingin menikah sebelum dia siap. Tapi melihat bagaimana cara dia menolakku, ini bukan tentang dia tidak ingin menikah, tapi karena dia tidak mau menikah denganku. Sepertinya aku harus segera meminta Sam untuk menyelidiki apa yang terjadi pada my princess di masa lalu, dan apa hubungannya denganku.


Evan terus mencoba menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada Alaya, dan langsung menghentikan pemikirannya begitu rasa sakit di kepalanya kembali menyerangnya.


"Makan saja semuanya kalau memang duke Evan lapar." Alaya kembali berkata dengan berpura-pura tidak perduli, sambil menggerakkan tubuhnya miring ke samping, kembali membelakangi Evan.


"Aduh, mana mampu aku menghabiskan semuanya. Semoga kamu mau membantuku." Evan berkata sambil mulai menikmati makanan itu, dengan menggunakan meja makanan dorong itu sebagai meja untuk meletakkan piringnya.

__ADS_1


"Krek...." Suara Evan membuka kulit lobster bakar madu, membuat Alaya kembali menelan air liurnya, membayangkan bagaimana lezatnya makanan favoritnya itu.


"Sepertinya koki itu sangat ahli dalam memasak lobster ini. Mmmm... enak sekali." Seolah berkata pada dirinya sendiri, Evan mulai menikmati makanannya.


Dan bukan hanya itu saja, seorang Evan sebagai duke di Gracetian, selalu saja bersikap elegan sebagai seorang bangsawan dalam hal sekecil apapun, mulai dari sikapnya saat berbicara, berjalan, berinteraksi dengan orang lain, termasuk saat menikmati makanannya.


Kaum bangsawan di Gracetian, diajarkan untuk selalu bersikap sopan dan hati-hati saat menikmati makanan mereka... tidak terlalu cepat atau lambat, tidak berbicara, dan juga tidak bersuara saat menikmati makanannya.


Akan tetapi Evan yang tahu bahwa kehidupan Alaya selama bertahun-tahun ini sangat jauh dari cara hidup seorang bangsawan, membuat Evan dengan sengaja membuat berbagai macam suara saat dia menikmati makanan kesukaan Alaya itu, termasuk saat dia membuka kulit lobster, dan sengaja menghisap bumbu yang menempel pada lobster itu.


Dan suara-suara yang sengaja diciptakan oleh Evan itu, membuat rasa lapar Alaya semakin menjadi.


Aku tidak yakin my princess yang memiliki hobi makan itu bisa bertahan lama dengan godaan semua makanan lezat kesukaannya ini.


Evan berkata sambil mencoba menikmati makanan yang dia santap, meskipun sebenarnya dia tidak terlalu suka.


Sial! Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku benar-benar lapar….!


Alaya berteriak dalam hati, dengan sikap frustasi, karena memang sebenarnya dia orang yang tidak bisa menahan rasa lapar dengan baik.

__ADS_1


Akhirnya, dengan gerakan cukup cepat, Alaya bangun dari tidurnya, membuat Evan yang pura-pura tidak melihat tindakan Alaya menyembunyikan senyum kemenangannya, melihat tanda-tanda kalau Alaya pada akhirnya akan menyerah padanya.


__ADS_2