Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
KEBAHAGIAAN DANELLA


__ADS_3

“Darimana Mama tau kalau aku dan yang mulia Alvero tadi melakukan pertemuan di istana? Ah…. Itu pasti gara-gara info dari Sam. Anak itu benar-benar harus diberi pelajaran, berani-beraninya melaporkan kepada orang lain tentang semua kegiatanku” Evan bergumam pelan dengan wajah serius, membuat Danella langsung tersenyum sambil melepaskan diri dari pelukan Evan.


Danella yang tahu meskipun sedang berwajah serius, Evan sedang menggodanya, dengan berpura-pura marah pada Sam, langsung tertawa kecil.


Evan tahu, bagi Danella Sam sudah seperti anak kedua baginya. Asisten pribadi Evan yang sudah lama ikut bergabung dalam militer itu, karena selalu ada di samping Evan, membuat seringkali Danella juga bertemu dengannya.


Pada akhirnya, karena seringnya Danella bertemu dengan Sam saat mengikuti Evan kemanapun, membuat hubungan Danella dan Sam menjadi ukup dekat.


Apalagi dengan adanya Sam, seringkali Danella bisa menanyakan jadwal kegiatan Evan yang kadang memang sulit untuk dilacak keberadaannya, membuat Danella dan Sam sering saling mengirim pesan dan berbagi info.


Saat Sam tiba-tiba tidak tahu adanya perubahan jadwal Evan yang tidak dikonfirmasi Evan padanya, Sam akan menanyakan langsung pada Danella, karena Sam tahu benar bagaimana karakter Evan.


Jika di lingkungan pekerjaan Evan tidak bisa diketemukan, maka dia pasti sedang ada urusan dengan Danella, mama yang begitu disayangi oleh Evan.


“Jangan memarahi Sam, aku yang memaksanya memberikan info tentang kamu. Dan aku tidak menyangka kalau kamu mempercepat tugasmu di pinggiran dan buru-buru kembali ke kota ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu pulang mendadak? Dan juga kenapa tiba-tiba kamu pergi ke istana menemui yang mulia Alvero?” Danella langsung mencerca Evan dengan berbagai pertanyaan setelah menyebutkan pelaku yang sudah membuatnya bisa mengetahui tentang keberadaan dan apa yang sedang dilakukan oleh Evan sepanjang hari ini.


“Sudah terlalu malam Ma. Besok pasti aku akan ceritakan semuanya, karena memang Mama harus tahu tentang pembicaraanku dengan yang mulia Alvero tadi…”

__ADS_1


“Kenapa harus menunggu sampai besok pagi? Harusnya sekarang saja.” Danella langsung memotong perkataan Evan.


“Jangan membuat mama tidak bisa tidur karena rasa penasaran Evan.” Danella kembali berkata sambil memandang ke arah Evan dengan tatapan penuh harap dan memohon.


Sikap Danella hampir saja membuat Evan tertawa keras.


Sikap ceria Mama, juga tindakannya yang kadang terburu-buru seperti Alaya... apa itu yang membuat papa begitu mencintai mama? Sifat Mama, ada miripnya dengan Alaya. Dan apakah itu juga alasan yang sama kenapa aku begitu tertarik dengan Alaya?


Evan bertanya-tanya pada dirinya sendiri dalam hati.


Hah… kenapa sekarang sebentar-sebentar, sedikit-sedikit, aku selalu mengkaitkan kejadian yang ada di sekitarku dengan Alaya? Sepertinya aku benar-benar sedang membutuhkan istirata total untuk menjernihkan pikiranku.


“Pokoknya Mama harus tidur sekarang, kalau tidak, sampai besok pagipun aku tidak akan bercerita apapun, karena pembicaraanku dengan yang mulia Alvero bukan hal yang bisa dianggap enteng. Perlu pemikiran dan sikap bijaksana tentang hal itu.” Kata-kata Evan diucapkan dengan suasana santai, tapi Danella bisa menangkap bagaimana seriusnya Evan saat ini.


Dan jika Evan sudah mengambil sikap terlihat serius seperti ini, Danella tahu kalau apa yang dikatakan Evan sebelumnya, tidak akan tergoyahkan dan tidak bisa dinganggu gugat.


Danella yang sudah begitu hafal dengan sifat anak semata wayangnya itu akhirnya memilih untuk tidak lagi menanyakan tentang itu.

__ADS_1


Toh, Evan selalu memegang janjinya, sehingga bagi Danella dia harus dengan rela hati, bisa mengubur rasa penasarannya malam ini.


“Kalau begitu, mama akan benar-benar menagihnya besok.” Danella berkata sambi tertawa kecil.


“Iya Ma, aku pasti akan memberitahukannya pada Mama besok pagi. Sekarang, lebih baik Mama kembali ke kamar dan beristirahat. Selamat malam Ma….” Evan mengakhiri kata-katanya dengan sebuah kecupan ringan di bahu Danella yang langsung tersenyum melihat bagaimana mesranya perlakukan Evan padanya.


“Kalau begitu, satu pertanyaan saja sebelum mama beristirahat malam ini. Tolong jawab dengan jujur.” Evan yang mendengar perkataan Danella langsung mengeryitkan dahinya dengan heran.


“Evan… kamu tahu bagi mama apapun yang membuatmu bahagia, mama akan mendukungnya. Tapi jika itu sesuatu yang tidak membuatmu bahagia, tolong jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Tidak perlu demi orang lain, siapapun itu, raih kebahagiaanmu sendiri, karena kamu yang yang menjalaninya, bukan orang lain.” Danella berkata dengan suara pelan, rasanya dia merasa tidak rela jika Evan harus menjadi orang yang harus berkorban demi orang lain, tanpa memikirkan kebahagiaannya sendiri.


“Apa maksud Mama?” Evan langsung menanggapi perkataan mamanya dengan cepat.


“Bagaimanana perasaanmu kepada putri Alaya? Kalau kamu memang tidak memiliki perasaan apapun padanya, lebih baik kamu menolak perjodohan ini meskipun ini permintaan bahkan perintah langsung dari yang mulia Alvero.” Evan sedikit tersentak kaget begitu mendengar perkataan dari Danella.


"Mama tahu kamu dan papamu begitu loyal terhadap kerajaan Gracetian, tapi ini bicara tentang masa depan dan kebahagiaanmu, mama tidak rela kalau hanya demi ketaatan pada pemimpin kamu mengorbankan pernikahan yang harus kamu jalani seumur hidup....." Danella melanjutkan bicaranya.


“Meskipun mama merasa senang sejak pertama kali bertemu dengan putri Alaya dan merasa akan cocok dengannya, tapi perasaanmu adalah yang paling penting bagi mama. Jangan pernah menikah dengan orang yang tidak kamu cintai Evan, atau pernikahanmu akan seperti di sebuah neraka dan….”

__ADS_1


“Aku sangat tertarik dengan putri Alaya… jika itu yang memang ingin Mama dengar dari bibirku.” Evan langsung memotong perkataan Danella.


“Entah itu hanya sekedar suka atau aku benar- benar sudah jatuh cinta padanya, tapi aku tidak merasa keberatan untuk menikah dengan putri Alaya, bukan sekedar karena itu adalah pemintaan dari yang mulia Alvero. Bahkan aku sudah mulai menantikan kapan saat kami bisa menikah dengan tidak sabar.” Jawaban Evan yang terdengar tenang tapi begitu tegas, membuat Danella langsung tersenym lega dengan mata yang terlihat berkabut dan memerah, karena rasa bahagia yang sedang memenuhi dadanya saat ini.


__ADS_2