
“Hah! Benar-benar gelang yang sangat merepotkan, seperti orang yang sudah memberikannya padaku.” Alaya bergumam pelan sambil menarik nafas panjang setelah kembali gagal melepaskan gelang kaki tersebut.
“Bagaimana kalau aku tarik saja ya biar putus dan tidak lagi melingkar disana.” Suara pelan dari bibir Alaya kembali terdengar, dan tangannya sudah bersiap untuk menarik gelang itu dengan kasar dari kakinya, ketika sebuah ketukan dari arah pintu kamarnya terdengar, dan membuatnya langsung mendongakkan kepalanya, menatap ke arah pintu dengan wajah bertanya-tanya, karena setahunya, belum ada orang yang tahu tentang keberadaannya di hotel ini, karena handphonenyapun sedang tidak ada di tangannya sekarang ini, sehingga dia tidak bisa memberitahukan kepada siapapun keadaan dan posisinya saat ini.
Akhirnya Alaya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamar hotelnya untuk melihat siapa yang datang.
“Selamat diang Tuan Putri…. Layanan kamar untuk Tuan Putri.” Suara ramah dari salah satu dari dua pelayan hotel yang sedang berdiri di depan ointu kamarnya, segera menyapa Alaya yang langsung mengernyitkan dahinya, karena pelayan itu memanggilnya dengan sebutan tuan putri dengan sikap begitu ramah dan hormat.
Padahal tadi saat memesan salah satu kamar di hotel ini, Alaya merasa dia tidak menuliskan identitas dirinya, terutama namanya dengan begitu lengkap.
Meskipun wajahnya sebagai seorang putri Gracetian banyak dikenal banyak orang, tapi kalau orang itu tidak tahu pasti dan belum pernah bertatapn muka secara langsung dengannya, tidak mungkin akan berani menyapanya dengan begitu percaya diri seperti pelayan itu. Dan lagi, kamar yang dipesan olehnya bukanlah kamar dengan tipe presidential suit room, meskipun juga bukan sebuah kamar standar, tapi kamar dengan tipe junior suite.
(Junior suit room juga sering dikatakan studio (STU). Kamar jenis junior suite, biasanya mudah dikenali karena memiliki luasan ruangan lebih besar dari pada kamar jenis standar, suoperior, maupun deluxe.
Hal lain yang membedakannya dengan kamar lainnya, kamar hotel junior suite adalah memiliki ruang tamu. Meski begitu, ruang tamunya ada di satu ruangan dengan tempat tidur. Karena fasilitasnya itu, harganya juga tentu berbeda dengan kamar lain yang tidak mempunyai ruang tamu.
Antara kamar dan ruang tamu, biasanya dipisahkan oleh sebuah lemari berukuran cukup besar, yang digunakan sebagai sekat untuk memisahkan antara tempat tidur dan ruang tamu).
__ADS_1
“Eh….” Sebuah gumaman pendek segera terdengar dari bibir Alaya yang menatap kedatangan kedua pelayan itu masih dengan tatapan yang bertanya-tanya.
“Kami mau mengantarkan makan siang untuk Tuan Putri….” Pelayan itu kembali berkata, dengan menjelaskan tujuan kedatangannya ke kamar Alaya.
“Lho… rasanya aku belum memesan apapun untuk makan siangku?” Alaya langsung bertanya kepada pelayan yang awalnya sudah bersiap untuk mendorong meja makanan dorong yang ada di sampingnya.
“Sejak Tuan Putri memesan kamar di tempat ini, kami pihak hotel mendapatkan perintah langsung dari yang mulia Alvero untuk melayani Tuan Putri Alaya dengan baik, termasuk masalah makanan yang tiga kali dalam sehari harus kami kirimkan kepada Putri Alaya.”
“Begitukah?” Alaya bertanya kepada pelayan itu dengan tatapan mata menyelidik, karena sudah menyebutkan nama Alvero, yang meskipun adalah pemilik dari hotel ini, tapi dia belum menghubungi sama sekali kakak laki-lakinya itu begitu tersadar dari kondisinya.
“Benar Putri Alaya. Untuk menu siang ini, kami pihak hotel memberikan makanan dengan menu-menu terbaik sesuai jadwal masakan dari hotel ini karena belum menerima perintah apapun tentang makanan yang disukai oleh Putri Alaya. Akan tetapi yang mulia Alvero berpesan, jika ada permintaan khusus dari Putri Alaya, Putri bisa memberikan info kepada bagian front office hotel melalui telepon dari kamar yang ditempati Putri sekarang.” Penjelasan dari pelayan hotel itu membuat Alaya menahan nafasnya sebentar.
Alaya langsung mengomel dalam hati begitud pikirannya mulai menerka-nerka apa yang sednag terjadi sekarang.
Dan bukan sekadar tukang ikut campur urusan orang. Aku baru tahu sekarang kalau duke Evan memiliki bakat menjadi seorang penguntit juga. Cih… dia pasti sudah meminta orang suruhannya untuk menguntit kemana aku pergi setelah keluar dari rumahnya, benar-benar membuat aku merasa begitu tidak nyaman. Rasanya ingin sekali aku mengomeli laki-laki itu, kenapa dia tidak secepatnya pergi dari kehidupanku dan tidak menggangguku lagi. Sungguh merepotkan duke yang satu itu!
Alaya kembali mengomel dalam hati, karena dia sadar betul bahwa keterlibatan Evan dalam kehidupannya saat ini membuat tekadnya untuk bsia benar-benar melupakan Evan dan move on dari sosok tampan laki-laki itu semakin sulit untuk dia lakukan.
__ADS_1
“Tuan Putri… bolehkah kami masuk sekarang untuk mengantarkan makanan ini?” Akhirnya salah satu pelayan itu bertanya kepada Alaya karena cukup lama Alaya termenung dengan posisinya yang masih berdiri di tengah-tengah pintu masuk kamarnya yang tidak terbuka sepenuhnya itu.
“Eh iya… silahkan.” Alaya berkata sambil memandang ke meja makanan dorong yang baru saja didorong masuk ke dalam kamarnya, melewati tempatnya berdiri, dan memuat hidung mancungnya bisa mencium bau harum masakan yang ada di bawah tudung saji itu.
Masa bodoh apa yang sudah direncanakan duke Evan dan kak Alvero padaku sekarang ini, yang penting sekarang aku akan menikmati menu makan siangku yang sepertinya sungguh menggugah selera makan.
Alaya kembali berkata dalam hati sambil menelan ludahnya tanpa sadar.
Kelemahan terbesar masalah makanan enak yang dimiliki Alaya, yang sepertinya sudah diketahui oleh Evan dengan baik, sehingga membuat suami Alaya itu memberikan perintah kepada pihak hotel, dengan mengatasnamakan Alvero, setelah mendapat ijin sepenuhnya dari Alvero untuk melakukan hal itu.
# # # # # #
“Akhirnya…. Makanan enak yang membuatku kenyang, sehingga otakku kembali terisi penuh dengan banyak ide dan rencana hebat.” Alaya berkata sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, dan menariknya kuat-kuat, untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku setelah beberapa waktu tidak sadarkan diri sebelumnya.
“Sekarang sudah waktunya kembali berpikir. Aku harus segera melaksanakan rencanaku sebelumnya untuk menghadapi duke Evan.” Alaya berkata sambil berjalan ke arah samping tempat tidurnya dimana terdapat nakas di samping tempat tidurnya, dan di atasnya tergeletak sebuah telepon.
Dengan senyum ceria di wajahnya, tangan Alaya langsung bergerak cepat memutar nomer handphone milik Alea, salah satu nomer handphone yang dihafalnya di luar kepala.
__ADS_1
“Putri Alaya… apa benar Anda adalah Putri Alaya?” Alea langsung terpekik kaget begitu mendapatkan telepon dari Alaya, tapi sedetik kemudian dia yang kebetulan sedang berada di lorong istana langsung melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang menguping pembicaraannya dengan Alaya di telepon.
“Haduh… apa maksudmu? Tentu saja aku Alaya, apa ada Alaya lain yang kamu kenal?” Alaya langsung menjawab pertanyaan Alea dengan nada protes.