
Evan sendiri terlihat langsung mengulum senyum geli begitu mendengar kata-kata Alvero yang setahunya sangat jarang terlihat bercanda, kecuali dengan Deanda tentunya.
Sedikit banyak, setelah mengenal Deanda, sifat dingin Alvero lambat laun menjadi berubah sedikit hangat, meskipun Alvero tidak termasuk golongan orang yang memiliki sifat ramah seperti Evan, yang membuat siapapun menjadi nyaman saat berada di dekatnya, terutama para gadis yang selama ini begitu memjua dan mengincar Evan agar mereka dijadikan sebagai duchess Carsten.
“Apa yang terjadi pada putri Alaya Evan? Kenapa kamu dan yang mulia Alvero tampak santai padahal sedang membicarakan tentang kondisi penyakit putri Alaya?” Danella langsung bertanya kepada Evan yang dilihatnya terlihat begitu tenang, padahal calon istrinya dikabarkan sakit.
Dengan cepat Danella segera berjalan mendekat ke arah Evan, dan berdiri tepat di samping putranya itu.
"Bukan sakit yang serius Ma. Tenang saja... aku akan membuatnya cepat sembuh dan kemabli beraktifitas seperti biasanya." Evan berkata sambil memeluk bahu Danella dengan hangat.
"Memangnya sakit apa? Kamu bukan dokter, mana bisa menyembuhkan penyakit seseorang?" Danella berkata dengan nada tidak suka melihat Evan yang terlihat menyepelekan kondisi sakit Alaya, padahal dia, meskipun belum memiliki hubungan apapun dengan Alaya merasa cukup khawatir dengan kondisi calon menantunya itu.
"Kenapa aku tidak bisa menyembuhkannya? Bagaimana kalau penyakitnya karena dia memerlukan kehadiranku di sisinya? Bukankah itu bukan penyakit yang berbahaya?" Evan berkata sambil tersenyum.
Meskipun tidak mengerti apa maksud Evan mengatakan hal seperti itu tentang penyakit Alaya, akhirnya Danella tersenyum lega.
"Baguslah kalau itu bukan sesuatu yang serius. Kali ini aku tidak mau kehilangan kesempatan mendapatkan istri untukmu. Kamu harus menjaganya dengan baik, jagnan mempermainkannya, apalagi jangan sampai kamu menyakitinya. Kamu harus berjanji pada mama untuk menjadikan dia wanita yang paling bahagia di sisimu. Ikuti jejak papamu sebagai pria sejati yang begitu mencintai keluarga dan kerajaan ini...." Kata-kata Danella terputus sejenak.
__ADS_1
"Apalagi, sebentar lagi kamu akan masuk ke dalam lingkungan istana dengan menikahi putri Alaya. Jangan mempermalukan keluarga Carsten dengan menjadi pria yang tidak bertanggungjawab di masa depan." Danella melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum dengan hangat ke arah Evan.
"Hah... sepertinya tanggung jawabku sebagai pemimpin keluarga Carsten cukup berat ya? Belum lagi sebagai pemimpin di kemiliteran Gracetian terlihat begitu melelahkan dan membuat stress... kira-kira... apa aku sanggup menanggungnya?" Evan berkata seolah sedang berkata pada dirinya sendiri.
Mendengar kata-kata Evan itu, tangan Danella langsung bergerak ke arah wajah tampan anaknya yang sedang tersenyum lembut ke arahnya.
"Apa itu pertanyaan untuk anakku yang tampan dan hebat ini? Tentu saja dia lebih mampu dari siapapun untuk itu." Evan langsung tersenyum lebar mendengar pujian dari Danella.
"Semua kesuksesan dan apapun pencapaian besarku, karena adanya mama yang hebat sepertimu. I love you Mom." Evan berkata sambil meraih tangan Danella, lalu mencium punggung tangan Danella dengan penuh kasih sayang, membuat wajah Danella dipenuhi dengan aura kebahagiaan.
Dalam hati Danella merasa begitu bersyukur, bisa memiliki anak sehebat dan sebaik Evan, harta yang begitu berharga bagi Danella, yang selalu membuatnya ingat akan cintanya pada suaminya tercinta yang sayangnya pergi begitu cepat dari sisinya.
"Semoga kamu selalu mendapatkan yang terbaik dan kamu selalu hidup dengan bahagia Evan." Danella berbisik pelan, sambil melepaskan kepergian Evan yang diikuti dengan dua mobil berisi para pengawalnya, di belakang mobil yang dikendarainya.
# # # # # # #
Alaya dengan santainya membaca sebuah novel dengan posisi tengkurap di atas tempat tidurnya dengan kedua kakinya dilipat, menghadap ke arah atas dan bergoyang-goyang kesana kemari, ketika dilihatnya layar handphonenya menyala, dan ada nama Alea yang muncul di sana.
__ADS_1
"Hallo Alea...."
"Putri, ini benar-benar gawat... Putri harus segera memikirkan jalan keluar kalau tidak ingin dalam masalah." Alaya yang mendengar kata-kata yang terdengar begitu panik membuat dahi Alaya mengeryit.
"Hei... kenapa denganmu Alea?"
"Duke Evan...."
"Kenapa dengan duke Evan? Kamu bertemu dengannya? Jangan bercanda Alea... mau apa duke Evan datang ke istana?" Alaya berkata sambil terkikik pelan, karena dalam pikirannya, pembicaraannya dengan Alvero tadi sudah cukup jelas, dan menunjukkan tanda bahwa Alvero setuju dengannya untuk menunda pertemuan antara keluarga Carsten dan keluarga Adalvino.
"Benar Putri! Duke Evan datang ke istana, dan dari sekilas pembicaraan yang aku dengar ketika duke Evan bertemu dengan ibu suri Larena, beliau mengatakan ingin menjenguk Putri Alaya yagn dikabarkan sakit oleh yang mulia Alvero." Dengan suara berusaha sepelan mungkin, Alea berkata kepada Alaya, berusaha untuk memberikan peringatan pada putri cantik itu tentang kedatangan Evan untuk menjenguknya.
"Ap... Apa?" Alaya yang sebelumnya terlihat tenang langsung bangun dari posisinya dan melompat turun dari tempat tidur." Wajah Alaya langsung terlihat panik begitu mendengar kabar dari Alea.
Kak Alvero! Kenapa dia menghubungi duke Evan dan memberitahunya kalau aku sedang sakit?
Alaya berteriak dalam hati sambi berlarian ke sana kemari dengan wajah bingung.
__ADS_1
Hah! Tentu saja kak Alvero harus menghubungi duke Evan untuk membatalkan pertemuan besok. Heh...! Tapi kenapa dia harus datang kesini? Harusnya dia tinggal menyetujui permintaanku untuk membatalkan pertemuan besok! Hah! Benar-benar!
Begitu menyadari pemikirannya yang salah, Alaya kembali berkata dalam hati disertai dengan omelan panjang dengan tetap sibuk berlarian, yang akhirnya membawanya ke pintu kamarnya, dan dengan sengaja langsung mengunci pintu itu dari dalam dengan gerakan yang begitu terburu-buru, padahal biasanya, Alaya sangat jarang mengunci pintu kamarnya, apalagi banyak penjaga yang berkeliaran setiap waktu di sekitar istana, untuk memastikan semuanya aman dan dalam kendali.