
"Tidak bisakah kamu menceritakannya padaku sekarang?" Alaya bertanya kepada Evan dengan wajah memohonnya, membuat Evan yang sedang menyetir mobilnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah kepala Alaya.
"Kamu ini, tidak sabaran ya." Evan berkata sambil mengacak pelan rambut Alaya yang masih menatap Evan dengan wajah penuh harap.
"Tidak bisakah?"
"Sabar ya, sebentar akan aku ceritakan semuanya padamu dan Alvero, supaya kita dapat mengatur strategi terbaik untuk menangkap mereka." Evan kembali berkata kepada Alaya yang akhirnya menghela nafasnya.
"Evan... kata kak Alvero kamu pernah mengalami kecelakaan hebat dan membuatmu amnesia dan melupakanku." Alaya mencoba memancing Evan, meskipun dia tidak yakin usahanya akan berhasil melihat selama ini setiap rencananya pasti akan gagal jika yang dilawannya adalah Evan.
"Hih... kenapa sulit sekali melawanmu?" Alaya berkata sambil mencubit tangan Evan yang langsung tertawa mendengar keluhan dari Alaya.
"Apanya yang sulit? Bahkan hatiku sudah terpenjara karenamu, bagaimana bisa aku melawanmu?" Evan berkata sambil tetap tersenyum, meskipun matanya menatap lurus ke depan fokus pada jalanan.
Senyum Evan, sejak dulu memang selalu mematikan. Pantas saja duchess Kattie sampai begitu tergila-gila padanya.
Alaya berkata dalam hati sambil memandang wajah suaminya yang sedang tersenyum tanpa bosan-bosannya.
"Evan... kenapa hanya aku yang terlupakan olehmu?" Pertanyaan Alaya, membuat senyum Evan langsung menghilang dari wajahnya, berganti dengan wajah merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafkan aku Alaya... aku benar-benar bodoh sehingga tidak menyadari bahwa ada seseorang sengaja ingin memisahkan kita. Bahkan dia yang sudah merusak hubungan kita sempat aku anggap sebagai pahlawan yang sudah menyelamatkanku, sehingga aku sempat merasa berhutang budi padanya." Evan berkata sambil membelokkan setir mobil yang dikendarainya, menuju pintu gerbang istana Gracetian.
Empat penjaga yang berjaga dengan posisi berdiri tegak di samping kanan dan kiri pintu gerbang istana langsung membungkukkan tubuhnya dan menyilangkan tangan kanannya di dada, dan memberikan salam penghormatan pada Evan, begitu mereka melihat siap yang datang, setelah Evan menurunkan sebagian kaca yang ada di bagian samping kursi pengemudi.
"Sebentar lagi kita sudah sampai, setelah bertemu kakakmu Alvero dan Deanda, aku akan menceritakan semuanya pada kalian." Evan berkata sambil menarik kepala Alaya lalu menyandarkan ke bahunya, setelah itu Evan mencium kepala Alaya dengan lembut, sengaja menarik nafasnya dalam-dalam saat mencium rambut Alaya, menikmati bau harum dari rambut Alaya, yang membuatnya bahagia bisa berada di samping Alaya sebagai suaminya untuk saat ini.
Begitu turun dari mobil, salah seorang dengan pakaian pengawal kerajaan segera mendekat untuk membantu Evan memarkirkan mobilnya, dan salah seorang pengawal lainnya langsung membukakan pintu mobil untuk Alaya.
"Ayo...." Evan segera mengajak Alaya masuk ke istana begitu Alaya turun dari mobilnya.
"Kemana kita pergi untuk menemui kak Alvero? Apa kamu sudah membuat janji dengannya?" Alaya bertanya sambil menjajari langkah-langkah Evan yang sengaja tidak terlalu cepat, agar Alaya yang tubuhnya lebih pendek darinya tidak perlu terlalu keras mencoba menjajajari langkah-langkahnya.
"Seperti biasa di dekat kolam ikan." Duke Evan yang memang mulai hafal dengan tempat-tempat yang ada di istana, termasuk tempat favorit Alvero saat sedang mengadakan pertemuan pribadi dan berbincang-bincang dengan orang yang dekat dengannya langsung menjawab pertanyaan Alaya.
"Selamat malam Duke Evan...." Suara Enzo yang tiba-tiba datang dari arah lain dan mendekati ke arah Evan dan Alaya langsung membuat Evan dan Alaya menoleh dan membalas sapaan Enzo dengan senyuman yang justru membuat Enzo langsung mengernyitkan dahinya dengan wajah heran.
"Kalian...." Enzo hanya mengucapkan satu kata dengan jari telunjuknya menunjuk ke arah Evan dan Alaya.
"Kenapa dengan kami Kak Enzo?" Dengan sikap santai Alaya bertanya kepada Enzo yang langsung menatap ke arah Alaya yang malam ini sengaja memakai pakaian berkerah dan mengikat lehernya dengan sebuah syal dengan gaya fancy braid.
__ADS_1
(Berbicara mengenai Syal Leher, Syal adalah salah satu aksesoris berbentuk kain pakaian sederhana yang biasa dikenakan pada bagian leher. Syal Leher memiliki fungsi untuk menghangatkan penggunanya pada bagian leher yang rawan untuk terkena penyakit.
Bukan cuma rambut yang bisa dikepang, syal leher juga bisa dikepang supaya tampil beda dengan gaya syal pada umumnya. Kalau ingin mencoba fancy braid, seseorang harus menyiapkan syal ringan berukuran persegi panjang. Buatlah simpul sesuai ukuran leher. Berikutnya, ambil ujung kanan syal dan tumpuk di atas ujung kiri lalu masukkan ke bagian bawah lingkaran leher. Ambil ujung kiri syal dan tumpuk di atas ujung kanan lalu ulangi proses tersebut hingga ujung syal selesai ditumpuk. Jangan lupa meregangkan sedikit jalinan syal agar bentuk leher tetap terlihat jelas meski tertutup oleh syal).
Pandangan mata Enzo terlihat begitu menyelidik, seperti seorang ayah yang menangkap basah putri kesayangannya bersama kekasihnya yang pulang larut malam, melewati jam malam yang sudah ditetapkan dalam keluarganya.
"Apa kalian berdua sudah....?" Enzo bertanya sambil mengerucutkan kedua jari-jari tangannya, lalu menggerakkannya seperti gerakan paruh burung yang saling mematuk.
"Uhuk...." Alaya langsung tersedak oleh ludahnya sendiri begitu mendengar pertanyaan dari Enzo itu.
"Hust! Apa maksud pertanyaanmu Kak Enzo?" Alaya berkata lirih dengan nada penuh penekanan kepada Enzo, dan dengan gerakan cepat, Alaya langsung menarik lengan Enzo, dan mengajak pangeran tampan yang juga hampir menikah itu menjauh dari Evan yang hanya bisa tertawa kecil melihat tindakan istrinya, sambil berjalan dengan langkah pendek di belakang mereka berdua.
Apalagi Evan bisa melihat wajah Alaya yang merah padam karena malu dengan pertanyaan Enzo yang begitu terus terang tadi.
"Eh...." Enzo yang tiba-tiba saja ditarik oleh Alaya tampak kaget dan bergantian memandang ke arah Alaya yang sedang menyeret lengannya, dan ke arah Evan.
"Kenapa Kakak bertanya hal vulgar seperti itu?" Alaya berkata dengan nada protesnya.
"Lho... siapa yang vulgar coba? Aku hanya bertanya karena kaget kenapa kalian berdua tampak akur, padahal baru beberapa waktu lalu kamu sibuk mencari cara agar duke Evan membencimu dan menolak perjodohan kalian berdua, seolah jijik sekali kamu dengan duke Evan… mmphhh…" Enzo langsung menjawab dengan nada protes juga.
__ADS_1
“Husttt… jangan dilanjutkan, please…” Alaya langsung berkata sambil salah satu telapak tangannya berusaha untuk membungkam bibir yang langsung menarik tangan Alaya menjauh dari bibirnya, sambil melirik Evan yagn hanya tersenyum kecil melihat tingkah istri dan saudara sepupunya tersebut.
"Lagi pula, siapa suruh kamu tidak pintar dan rapi menyembunyikan hal seperti ini?" Enzo berkata sambil tangannya menunjuk ke arah syal Alaya yang terlihat sedikit tersingkap, sehingga menunjukkan salah satu tanda cinta dari Evan yang berwarna merah di kulit Alaya yang putih, sehingga terlihat begitu kontras dan mencolok, sehingga orang justru menjadi fokus menatap ke arah kissmark itu, begitu melihatnya.