
"Earl Sam... di sini tidak ada pintu belakang. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada duke Evan, saya tidak akan bisa melarikan diri dengan mudah." Dokter Jordan segera memotong perkataan Sam, berusaha untuk meyakinkan kalau dia tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada Evan setelah dia keluar dari ruangan itu.
Kata-kata dokter Jordan diucapkannya dengan wajah terlihat sedikit kikuk, karena dia takut kalau Kattie menyadari ada yang aneh jika sampai Sam mengucapkan kata-kata yang salah.
"Sam, kita percayakan semuanya kepada dokter Jordan. Kamu bisa keluar dan berjaga tepat di depan pintu. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk, aku akan segera memanggilmu." Mesti tetap bersikap tenang, tapi kewibawaan Evan dan bagaimana cara dia berkata-kata sudah cukup bagi Sam untuk tahu bahwa Evan sedang tidak ingin dibantah sama sekali kali ini, membuat Sam semakin khawatir, tapi sebagai seorang bawahan yang taat, akhirnya dengan berat hati Sam melangkah keluar dari ruangan itu.
Aku harap dokter Jordan tetap memegang kata-katanya hingga akhir untuk menuruti permintaan duke Evan agar membantunya menangkap duchess Kattie. Kalau sampai dokter itu berani berbuat macam-macam pada duke Evan, aku yang pertama kali akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri.
Sam berkata dalam hati sambil menutup pintu ruangan itu tanpa menoleh ke belakang.
Meskipun dalam kesehariannya Sam tampak tenang dan tidak mudah terpancing emosi seperti Evan, tapi Sam adalah orang yang begitu setia pada Evan dan selalu mendukung Evan.
Beberapa pengawal yang tadinya ikut mengantar Evan dan Sam masuk ke ruang praktek dokter Jordan segera mendekat ke arah Sam yang langsung meletakkan telunjuknya di bibirnya, memberi tanda agar mereka tidak menimbulkan suara ribut.
"Apa semuanya baik-baik saja Earl Sam?" Salah seorang anggota timnya yang mendekat ke arah Sam bertanya dengan suara lirih, sambil melirik ke arah pintu masuk ruang praktek dokter Jordan, meskipun sebenarnya dia tahu kalau dia tidak akan bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam sana.
__ADS_1
"Tetaplah dalam posisi siaga, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tapi kita harus siap menghadapi apapun itu." Sam membalas perkataan itu dengan suara tidak kalah pelannya.
"Pastikan tidak ada seorangpun bisa keluar dari tempatnya tanpa kita ketahui." Sam memberikan peringatan sekaligus perintah, dimana anggota timnya yang lain langsung tahu bahwa mereka harus segera melakukan pengamatan dan penjagaan pada pintu ataupun jendela, semua yang bisa membuat orang dari dalam gedung itu keluar atau masuk.
# # # # # # #
"Bagaimana perasaan Anda Duke Evan?" Begitu proses hipnoterapi selesai, dokter Jordan bertanya sambil menatap ke arah Evan yang tampak memejamkan matanya sekejap.
"Kepalaku terasa lebih ringan Dokter. Terimakasih untuk bantuannya." Evan berkata sambil menoleh ke arah pintu kamar mandi, karena tiba-tiba saja ada suara pintu dibuka dari arah sana.
Dengan senyum mengembang di wajahnya, Kattie berjalan keluar dari kamar mandi.
"Duke Evan...." Dengan suara lembut Kattie memanggil nama Evan yang langsung menatapnya sambil tersenyum ke arah Kattie.
"Kenapa kamu ada di sini? Rasanya tadi aku pergi bersama Sam ke tempat ini." Evan berkata sambil bangun dari posisi duduknya di kursi pasien, dan melangkah mendekati sofa yang ada di salah satu sudut ruang praktek dokter Jordan, dimana biasanya pengantar pasien menunggu di sana, dan juga tempat yang kadang digunakan oleh dokter Jordan untuk berbincang dengan pasiennya yang sedang melakukan konsultasi dengan santai.
__ADS_1
"Ini sudah malam, kenapa kamu masih berkeliaran di luar? Itu akan berbahaya untuk perempuan single sepertimu." Kata-kata Evan yang sudah mengambil posisi duduk di sofa membuat mata Kattie terbeliak.
Selama bertahun-tahun, dia belum pernah mendengar Evan yang berkata dengan penuh perhatian seperti itu, membuat hati Kattie begitu berbunga-bunga, dan semakin yakin kalau hipnoterapi dokter Jordan barusan berhasil dengan sukses.
Untuk beberapa detik, Kattie berdiri diam di tempatnya sambil memandang Evan masih dengan tatapan tidak percayanya, karena Evan menunjukkan tanda-tanda menganggapnya sebagai sosok penting dalam hidupnya.
"Bukannya kamu bisa mengantarku pulang sayang?" Dengan percaya diri, Kattie mencoba memanggil Evan dengan sebutan sayang, dan sikap Evan yang terlihat tenang, tidak menunjukkan wajah kaget atau aura wajah protes karena kata-katanya, membuat Kattie semakin yakin bahwa saat ini, Evan benar-benar sudah menganggapnya sebagai kekasihnya.
"Kebetulan aku sedang tidak ada tugas di markas militer, bagaimana kalau aku sedang bertugas? Apa aku harus membiarkanmu pulang sendiri dengan rasa khawatir?" Kata-kata Evan membuat hati Kattie semakin melayang tinggi.
"Maaf sayang, kalau ternyata aku sudah membuatmu khawatir." Kattie berkata sambil berjalan mendekat ke arah Evan, berencana untuk duduk di samping Evan dan mencoba bersikap mesra pada laki-laki yang sudah begitu lama begitu dia kagumi dan idam-idamkan.
Akan tetapi, sebuah suara pintu yang dibuka dengan sedikit kasar, pintu masuk ruangan dokter Jordan, membuat Kattie, dokter Jordan maupun Evan menoleh secara bersamaan dengan sikap kaget.
"Eh... selamat malam Putri Alaya...." Dengan sikap gugup, dokter Jordan langsung mengucapkan sapaan dan salam penghormatannya pada Alaya yang langsung menatap tajam ke arah Evan dan Kattie secara bergantian.
__ADS_1
Evan sendiri tampak sedang memandang ke arah Kattie sambil tersenyum ke arahnya, seolah tidak melihat kehadiran Alaya di sana, membuat dahi Alaya mengernyit.
"Apa yang sedang kamu lakukan Duke Evan? Kenapa kamu ada di dalam ruangan dokter Jordan bersama dengan duchess Kattie dan terlihat akrab? Kamu bilang kamu hanya akan mencintaiku! Ini diluar rencana kita Evan!" Alaya langsung berkata sambil berjalan mendekat ke arah Evan, sambil tangannya mendorong bahu Kattie yang hampir berada di dekat Evan, agar menjauh dari Evan, sehingga Kattie tanpa bisa melawan, kakinya jadi berjalan mundur ke belakang, dan hampir menabrak dokter Jordan.