
Jujur saja, Danella merasa begitu terbeban jika pernikahan antara Evan dan Alaya hanyalah sekedar pernikahan politik tanpa didasari oleh rasa cinta, karena kebahagiaan Evan adalah segalanya bagi Danella.
Selama ini Danella berusaha mempertemukan Evan dengan para gadis yang menurut Danella bisa sesuai untuk Evan, dan mungkin saja bisa membuat Evan jatuh cinta, sampai pada akhirnya, Danella harus mengakui bahwa ternyata tidak semudah itu menemukan gadis yang bisa menarik perhatian Evan, apalagi membuatnya jatuh cinta.
Kehadiran Deanda waktu itu pernah membuat Danella sungguh berharap akhirnya Evan menemukan tulang rusuknya yang sudah lama hilang, sehingga pernikahan antara Alvero dan Deanda sedikit banyak membuat Danella sedikit kecewa dan takut kalau-kalau sampai di masa tuanya dia tidak akan memiliki kesempatan untuk memiliki seorang menantu apalagi cucu, jika Evan lebih memilih untuk membujang selamanya.
Karena itu, tidak mengherankan kalau ucapan Evan tentang rasa tertariknya pada Alaya, membuat Danella merasa begitu bahagia sekaligus lega, karena selain terhadap Deanda dulu Evan memang tidak pernah menunjukkan rasa tertariknya pada para gadis, sebanyak apapun pesta bangsawan yang pernah dihadiri Evan, dan sebanyak apapun gadis yang sudah berusaha diperkenalkan Danella padanya.
“Apa kamu serius Evan? Apa artinya itu…. Ah… pada akhirnya aku akan benar-benar bisa melihat hari pernikahanmu. Aku akan memiliki seorang menantu, dan juga akan segera memiliki seorang cucu….” Danella berkata dengan suara ceria dan wajah penuh aura kebahagiaan, yang membuat Evan hanya bisa tersenyum.
Cucu? Acara pernikahanku saja masih belum terlaksana, belum ditetapkan tanggalnya, mama bahkan sudah memikirkan tentang cucunya. Hah! Mama benar-benar membuatku tidak bisa berkata-kata.
Evan berkata dalam hati sambil tersenyum, ikut bahagia melihat wajah bahagia Danella.
“Ma… sudah puas kan? Kalau begitu sebaiknya Mama tidur, karena besok ada banyak hal yang perlu kita bicarakan terkait rencana pertunanganku dengan putri Alaya.” Kata-kata Evan membuat mata Danella terbeliak dengan sempurna.
“Apa ada perubahan rencana? Apa kalian akan mempercepat pertunangan kalian?” Dengan wajah terlihat tidak sabar, Danella berkata sambil menatap Evan dengan wajah terlihat begitu antusias.
__ADS_1
Medengar pertanyaan dari Danella, Evan hanya bisa menganggukkan kepalanya, sebagai tanda membenarkan perkataan Danella.
“Ka….”
“Sudah Ma, besok ya.” Evan langsung memotong perkataan Danella sambil melompat turun dari tempat tidurnya, lalu dengan lembut tapi bertenaga, meraih kedua pergelangan tangan Danella, memaksanya untuk bangkit dari duduknya di pinggiran tempat tidur, lalu merengkuh tubuh itu dalam pelukan lengannya, untuk kemudian mengajaknya berjalan menuju pintu keluar kamarnya.
“Eh. Evan….”
“Selamat malam Duchess Carsten, selamat menikmati tidur nyenak malam ini, dan semoga mimpi indah….” Evan berkata pelan sambil mencium pipi Danella yang akhirnya menyerah, hanya bisa tersenyum sambil memandang anak kesayangannya dengan sikap lega.
Dan tanpa sadar, dalam hati Evan begitu menantikan hal itu untuk bisa segera terjadi, seperti Danella yang tidak sabar tentang hal itu.
# # # # # # #
“A… apa maksud Kak Alvero?” Mata Alaya langsung membulat sempurna begitu mendengar info dari kalau rencana pertemuan kedua keluarga, antara keluarga Carsten dan keluarga Adalvino akan dipercepat, yang rencananya akan diadakan lebih dari seminggu lagi, tapi Alvero baru saja memberinya info pertemuan akan dipercepat, menjadi 2 hari lagi.
“Seperti yang baru saja kamu dengar…. Keluarga Carsten dan keluarga Adalvino akan melakukan pertemuan untuk membahas tanggal dan waktu pertunanganmu dengan duke Evan yang juga akan dilakukan secepat mungkin." Alvero kembali mengulang perkataannya.
__ADS_1
“Eh. Kak….” Sikap Alvero yang mengatakan hal itu dengan sikap santai, membuat Alaya hampir saja berteriak menyatakan protesnya di depan Alvero.
Sayangnya, adanya orang lain seperti Vincent dan Larena membuat Alaya menahan diri untuk tidak sampai terlarut dalam emosinya, dan berusaha menjaga sopan santunnya.
“Maaf Alaya, aku tahu itu memang bukan keputusan yang mengenakkan untukmu, tapi aku sebagai raja Gracetian harus segera memutuskan hal itu sebelum diluar sana putra mahkota Christopher dan putra mahkota Hector membuat masalah.” Alvero berkata untuk menenangkan Alaya yang wajahnya terlihat begitu kesal.
“Untuk putra mahkota Christopher, kamu lihat sendiri bagaimana keras kepala dan tidak sopannya dia. Sedang putra mahkota Hector, seperti yang dikatakannya waktu itu pada media, pagi ini dia baru saja memberikan info kepada pihak kerajaan kita untuk rencananya berlibur di Gracetian. Meskipun alasannya bukan kunjungan kerja seperti putra mahkota Christopher, tapi kamu tahu kalau dia memiliki niat tersembunyi dengan datang ke Gracetian. Yang pasti, dia benar-benar ingin bersaing dengan putra mahkota Christopher tentang kamu.” Alvero melanjutkan bicaranya, membiarkan Alaya mulai memikirkan statusnya sebagai seorang putri Gracetian yang memang tidak bisa lagi bertindak dengan seenaknya.
Semua gerak-gerik, tindakan, keputusan Alaya, sebagai putri Adalvino, memberikan efek yang begitu besar bagi kerajaan.
Tugas dan tanggung jawabnya sebagai putri sudah membuat Alaya tertekan, dan sekarang dia harus mengikuti perintah Alvero, untuk bisa menjaga agar Gracetian, tidak terhubung dengan dua kerajaan lain yang selalu terlibat pertikaian itu.
“Apapun itu, aku bersedia melakukannya untuk Gracetian, tapi tidak menikah dengan duke Evan.” Alaya berkata sambil menatap ke arah Alvero dengan wajah kesal.
Aku… tidak mau menikah dengan laki-laki yang pernah ingkar janji padaku. Cukup sekali aku tertipu dengan mulut manisnya! Kali ini aku tidak akan tertipu lagi dengan sikap hangat dan wajah malaikatnya.
Alaya berkata dalam hati sambil mengepalkan salah satu tangan yang ada di samping tubuhnya.
__ADS_1