
"Baik, aku akan memberi waktu untuk Duke Evan untuk memikirkan ideku malam ini. Jika Duke Evan tidak setuju, mungkin Duke Evan bisa memberiku saran yang lebih baik dari ideku itu. Dan apabila besok Duke Evan tidak setuju untuk langsung menikah dengan Alaya besok, artinya besok aku akan membawa Alaya kembali ke istana...." Dengan sikap tenang, Alvero mengatakan hal yang membuat Danella, Deanda apalagi Evan memandang ke arah Alvero dengan sikap kaget.
"Eh...." Evan langsung bergumam pelan, dengan wajah terlihat tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alvero, bahwa raja muda itu akan membawa Alaya pergi dari tempat kediamannya, kembali ke istana, padahal Evan ingin merawat dan menemani Alaya sampai gadis itu terbangun.
Dan itu hanya bisa dilakukan Evan, jika Alaya tetap berada di kediamannya seperti sekarang ini.
Melihat reaksi Evan, Alvero sedikit menaikkan salah satu sudut bibirnya, menyeringai kecil.
Kita lihat saja malam nanti, apa kamu akan rela jika aku benar-benar membawa pergi Alaya dari tempat ini besok jika kamu berani menolak ideku.
Alvero berkata dalam hati dengan sikap percaya diri, bahwa besok Evan tidak akan mungkin bisa menolak permintaannya untuk segera menikah dengan Alaya.
"Kenapa harus seperti itu Yang Mulia? Saya berjanji akan merawat Alaya dengan baik di tempat ini. Saya sudah mengaturkan dokter terbaik di bidangnya untuk merawat Alaya. Mereka akan berusaha keras untuk menyembuhkan Alaya." Evan mencoba memberikan penjelasan kepada Alvero untuk tidak membawa Alaya pergi dari tempat tinggalnya.
__ADS_1
Akhirnya… muncul juga sifat protektifmu terhadap wanita yang kamu cintai. Aku yakin kamu tidak akan bisa menolak ideku tadi. Sikapmu benar-benar bisa ditebak dengan mudah duke Evan.
Dengan percaya diri, Alvero berkata dalam hati.
"Kenapa Alaya harus tetap tinggal di sini? Bukankah untuk saat ini kalian berdua tidak... ah maksudku belum memiliki hubungan apapun yang bisa dianggap orang lain suatu hal yang normal jika Alaya tinggal di kediaman Duke Evan? Apa kira-kira pandangan orang jika mereka tahu Duke Evan yang bahkan belum bertunangan dengan Alaya, membawa Alaya tinggal bersama di sini?" Kata-kata Alvero membuat semua yang ada di ruangan itu tertegun.
Meskipun saat ini Alaya sedang terbaring sakit, tapi apa yang dikatakan oleh Alvero memang benar.
Tanpa ikatan apapun, jika orang lain diluar sana tahu Alaya sedang berada di dalam kediaman Evan, apalagi di kamar Evan, orang akan segera mencari celah untuk menjadikan itu berita heboh untuk menyerang Evan maupun Alaya.
"Sebagai kakak kandung Alaya, aku tidak akan mengijinkan nama baik Alaya tercemar dan dianggap sebagai gadis murahan karena hal seperti ini. Bagaimanapun sebagai seorang putri, Alaya harus bisa menjaga diri dan nama baiknya di depan seluruh rakyat. Aku tidak mau rakyat kecewa padanya hanya karena adanya kesalahpahaman tentang dia." Alvero kembali berkata dan hatinya semakin bersorak melihat wajah Evan yang berubah canggung karena kata-katanya barusan.
"Bukan aku tidak percaya pada Duke Evan, yang pastinya tidak akan pernah melanggar aturan dan norma yang ada, tapi masyarakat yang hanya melihat sekilas akan langsung melakukan penilaian dan tidak akan perduli dengan fakta yang ada." Alvero kembali menabahkan kata-kata yang membuat Evan semakin terdiam.
__ADS_1
"Selain alasan Alaya sudah menjadi istri sah dari Duke Evan, aku tidak akan mengijinkan Alaya untuk tetap tinggal di sini dan menjadi bahan perbicangan orang jika suatu ketika mereka mengetahui hal itu. Aku juga bisa memberikan para dokter terbaik, bahkan bukan hanya dokter dari negeri ini saja. Aku akan mencari dokter terbaik yang ada si seantero bumi jika itu dibutuhkan. Jadi tidak ada alasan untuk tetap membiarkan Alaya tetap tinggal di sini sebelum adanya ikatan pernikahan diantara kalian berdua." Penekanan kata-kata Alvero yang jelas-jelas membuat posisi Evan terpojok dan sulit untuk membantahnya, membuat Danella dan Deanda saling mencuri pandang dengan wajah tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab atau bahkan membantah perkataan Alvero barusan.
Sepertinya, hingga saat ini, tidak ada orang yang bisa melawan akal yang mulia Alvero, untuk bisa segera mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti yang dulu aku alami, baik Evan dan Alaya, sepertinya tidak akan memiliki kesempatan untuk menghindar dari keinginan yang mulia Alvero. Akal dan strategi yang mulia, selalu sulit untuk dilawan oleh siapapun, termasuk aku ketika itu, selalu dibuat mati kutu dan tidak berkutik olehnya.
Mendengar perkataan Alvero, Deanda hanya bisa menahan nafasnya sambil berkata dalam hati.
Kali ini, bahkan seorang Deanda pun bisa menebak bahwa besok, jawaban Evan tidak akan jauh dari kata setuju dengan usul Alvero, yang selalu saja berhasil membuat lawan bicaranya terpojok dan tidak berkutik.
“Baiklah kalau begitu, aku dan permaisuri akan kembali ke istana. Besok aku akan menunggu jawaban dari Duke Evan. Dan aku harap, itu adalah jawaban terbaik yang bisa memberikan jalan keluar bagi semua masalah yang sedang terjadi sekarang.” Alvero berkata sambil bangkit berdiri, lalu mengulurkan salah satu tangannya ke arah Deanda, untuk membantu Deanda berrdiri, sekaligus mengajak Deanda untuk pulang kembali ke istana.
# # # # # # #
Begitu Evan sudah kembali dari mengantarkan Alvero dan Deanda keluar dari tempat tinggalnya, hal yang pertama kali dilakukan oleh Evan adalah melihat keadaan Alaya, dan mencari informasi, apakah ada perkembangan pada kondisi Alaya.
__ADS_1
Saat Evan masuk ke kamarnya, tempat Alaya terbaring di atas tempat tidurnya, Evan langsung berjalan mendekat ke arah tempat tidur, lalu menundukkan wajahnya untuk melihat sosok gadis cantik yang membuatnya perasaannya sungguh seperti air dalam wadah yang di goyang dan diaduk kesana kemari tanpa bisa menghentikan itu pada dirinya.
Cukup lama Evan berdiri tanpa bergerak dengan mata tidak beralih sedikitpun menatap sosok Alaya yang masih terbaring dengan tubuh terlihat lemah, sampai pada akhirnya, Evan memberi tanda kepada tim dokter dan para perawat untuk meninggalkan tempat, membiarkannya hanya berdua di dalam kamar itu bersama Alaya yang masih belum juga sadarkan diri.