Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MAHKOTA


__ADS_3

Begitu memasuki museum itu, mereka disuguhkan dengan banyaknya foto-foto para pendahulu keluarga Adalvino yang memang sudah memegang kekuasaan tertinggi sebagai raja sejak ratusan tahun yang lalu.


Dari foto para nenek moyang Alvero, mereka bisa melihat wajah cantik dan tampan yang membuat Laurel dan yang lain merasa tidak heran kenapa Alvero dilahirkan dengan sosok yang begitu sempurna sebagai seorang pria, karena dari foto-foto itu terlihat jelas tentang bagaimana tampan dan cantiknya pada pendahulu Alvero.


"Ternyata wajah Alaya mirip dengan nenek buyutnya." Elenora yang melihat ke salah satu foto seorang wanita cantik dengan pakaian kebesarannya sebagai permaisuri Gracetian waktu itu berkata sambil mengamati wajah wanita dalam foto itu.


"Ah, aku baru sadar. Seharusnya ketika aku dan Alvero kebingungan mencari info tentang Alaya, aku melihat foto itu." Deanda berkata sambil tersenyum, mengingat bagaimana dia dan Alvero yang waktu itu sempat mencari info liontin yang dikenakan Alaya untuk bisa menebak siapa Alaya sebenarnya.


"Kadang memang sebuah petunjuk datang setelah kita berhasil melewati masalah kita." Cladia berkata sambil tersenyum memandangi barisan foto-foto yang berjajar di sana, dan di bagian terakhir tampak foto Alvero dan Deanda yang sekarang merupakan raja dan permaisuri Gracetian yang sah untuk saat ini.


Di tengah-tengah ruangan yang memamerkan foto-foto keluarga kerajaan Adalvino tampak sebuah meja dengan layar berukuran besar yang tertanam di sana.


"Kalau kalian mau melihat foto-foto keturunan Adalvino yang lain secara lengkap, ada di komputer itu." Deanda berkata sambil menunju ke arah meja dengan layar besar itu.

__ADS_1


Tanpa menunggu Deanda mengatakannya untuk kedua kalinya, Evelyn dan Elenora langsung berjalan ke arah meja itu dan mulai melihat-lihat foto-foto lengkap tentang para keturunan keluarga Adalvino berserta keluarga besar yang lainnya, termasuk keluarga dari pihan istri para raja dan pangeran Adalvino.


Untuk Laurel dan Cladia, lebih memilih untuk berjalan ke arah salah satu ruangan lain di museum itu, dimana ada satu ruangan khusus yang menampilkan foto-foto kejadian penting raja dan permaisuri Gracetian, dan juga putra mahkota Gracetian, yang hingga saat ini belum diganti oleh Alvero kecuali foto-foto Eliana yang disingkirkan dia.


Sehingga foto-foto yang terpasang di sana adalah foto-foto Vincent dan Larena, termasuk foto-foto Alvero sebagai putra mahkota Gracetian waktu itu, dan juga beberapa foto pertunangan dan pernikahan antara Alvero dan Deanda yang dicetak sangat besar, dan diletakkan tepat di tengah-tengah ruangan.


"Cantik sekali kamu waktu hari pernikahanmu. Sayangnya kami tidak datang waktu itu, karena belum mengenalmu." Laurel berkata sambil memandang dengan wajah takjub ke arah foto Deanda yang sedang mengenakan gaun pernikahan mewahnya.


Selain itu, gaun pengantin yang dikenakannya waktu itu adalah gaun rancangan dari para desainer profesional milik grup Xanderson, yang membuat para gadis sungguh iri karena gaun yang begitu indah dan sekaligus mewah berpadu dalam satu kesatuan yang membuat orang terpana karenanya.


Setelah puas melihat-lihat foto-foto di ruangan itu, Deanda sengaja mengajak mereka ke salah satu ruangan yang tidak semua orang bisa bebas masuk ke sana, mengharuskan adanya sidik jari milik Alvero dan Deanda untuk membuka pintunya.


Begitu Laurel, Cladia dan juga Evelyn dan Elenora yang sudah menyusul mereka memasuki ruangan dengan desain modern itu, mata mereka sedikit terbeliak tanpa bisa menutupi kekaguman mereka, karena begitu Deanda menekan salah satu tombol di dinding yang pelindungnya juga harus dibuka dengan akses sidik jarinya, para tamu penting Deanda itu langsung membeliakkan matanya dengan tatapan kagum melihat serangkaian atribut raja dan permaisuri, juga putra mahkota Gracetian.

__ADS_1


Mulai dari jubah kebesaran, tongkat kerajaan, dan juga mahkota yang terlihat begitu indah semua tersaji dalam ruangan bernuansa emas dengan lampu-lampu sorot yang menerangi ruangan yang menyimpan semua benda berharga itu.


Cladia yang sangat familiar dengan batu berharga karena perusahaan milik keluarganya bergerak di bidang perhiasan, langsung mendekat dan menatap lekat kerah batu-batu mulia yang menghiasi baik tongkat, maupun mahkota yang ada di sana.


"Stop Evelyn, jangan menyentuhnya." Dengan suara bernada tegas Cladia langsung menegur Evelyn yang awalnya berniat menyentuh batu mulia yang ada di salah satu sisi mahkota yang merupakan milik Deanda sebagai permaisuri Gracetian.


"Jangan sembarangan menyentuhnya, atau kamu akan mengotorinya, dan membuat keindahannya berkurang karena warnanya bisa kusam karena tangan kita yang kotor." Cladia berkata sambil tersenyum dan matanya terus menelisik ke arah mahkota itu dengan wajah penasaran.


“Siapa yang menetapkan jenis batu mulia yang digunakan untuk mahkota ini Deanda?” Cladia berkata dengan mata yang tidak mau lepas memandang keindahan mahkota milik Deanda itu.


“Ooo, Alvero yang membuatnya. Setiap mahkota permaisuri Gracetian tidak diturunkan ke permaisuri berikutnya, sehingga setiap permaisuri memiliki mahkotanya sendiri-sendiri, biasanya saat mendesainnya, raja Gracetian ikut campur dalam proses itu, dan dia yang melakukan acc terhadap mahkota permaisurinya.” Deanda menjelaskan tentang asal usul mahkota indah miliknya itu.


“Untuk mahkotaku, aku sama sekali tidak ikut campur dalam proses desain sampai mahkota itu benar-benar jadi dan diberikan padaku. Memang ada apa dengan mahkota itu? Memang indah sih, tapi aku tidak melihat ada sesuatu yang berbeda dengan mahkota ini dibandingkan dengan mahkota permaisuri lain, karena aku tidak terlalu mengerti tentang dunia perhiasan. Aku hanya bisa menilai dengan amtaku, kalau mahkota itu memang sangat indah, dan Alvero sangat hebat dalam memadukan warna batu mulia yang menghiasi mahkota itu.” Deanda berkata sambil mengikuti Cladia memandangi mahkota miliknya.

__ADS_1


__ADS_2