
“Apa adalagi yang perlu kami siapkan Duke Evan?” Salah satu dari koki itu bertanya kepada Evan yang menanggapinya dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Tidak, terimakasih. Semua sudah sesuai dengan yang aku pesan. Terimakasih untuk bantuan dan kerjasamanya.” Evan berkata sambil melirik ke atas meja makanan dorong yang diatasnya menampilkan makanan yang terlihat lezat dengan penataan dan warna tampilannya yang begitu menggugah selera.
Belum lagi bau kelezatan semua masakan yang sudah terbuka lebar sepenuhnya itu membuat Alaya benar-benar sulit menahan dirinya untuk tidak mendekat dan mencicipinya.
“Baik Duke Evan, kalau begitu kami akan pergi, dan kembali lagi setelah Duke Evan dan putri Alaya menyelesaikan makannya.” Para koki itu segera pamit untuk meninggalkan tempat, membiarkan Evan dan Alaya kembali berdua di dalam kamar itu.
Alaya yang mendengar suara pintu kembali ditutup, dan kembali menyadari kalau dia hanya berdua di ruangan itu bersama Evan, langsung menarik nfas dalam-dalam sambil menggigit bagian bawah bibirnya.
Rasanya bagi Alaya saat ini situasi yang dialaminya sungguh menyiksanya, dan membuat pikirannya tumpul.
“Alaya, apa kamu tidak ingin menikmati makanan ini?” Pertanyaan Evan, sekaligus bagaimana Evan yang dengan santainya sekarang menyebutkan nama Alaya tanpa embel-embel putri, membuat Alaya hampir saja langsung menoleh ke arah Evan dan menunjukkan wajah protesnya, karena bagaimanapun sampai detik ini mereka belum memiliki hubungan apapun.
__ADS_1
Dan Alaya juga tidak berniat memiliki suatu hubungan khusus dengan Evan, justru dia ingin pergi sejauh mungkin dari laki-laki itu, termasuk saat ini, inginnya Alaya, dia bisa segera berpisah dari Evan yang selain membuatnya tidak nyaman karena takut ketahuan sedang berbohong, keberadaan laki-laki tampan itu yang sebenarnya sudah bertengger di hati Alaya sejak bertahun-tahun lalu itu sungguh membuat dada Alaya tidak bisa diajak kompromi saat berada di dekat Evan.
Dada yang terus berdetak kencang, pikiran yang kacau, mata yang sulit teralihkan saat berada di dekat Evan, benar-benar membuat Alaya tidak berdaya sekaligus frustasi.
Antara benci dan cinta, mungkin ungkapan itu sangat tepat jika ditujukan untuk kondisi perasaan Alaya pada Evan saat ini.
“Aku tidak lapar.” Alaya berusaha berkata dengan nada tidak perduli, meskipun setelah dia mengakhiri perkataannya, Alaya menelan ludahnya sendiri karena rasa lapar dan ingin menikmati semua makanan itu.
“O, begitukah? Tapi tidak baik kalau dalam kondisi kurang sehat, asupan gizi dalam tubuhmu kurang. Itu akan memperlambat kesembuhanmu. Aku dengar yang mulia Alvero ingin mengajakmu berlatih di gedung pelatihan beladirinya.” Kata-kata Evan tanpa sadar membuat Alaya langsung menoleh ke arah Evan, meskipun tubuhnya masih terbaring miring, membelakangi Evan.
Dan rasa senang itu hampir saja membuat Alaya bersikap santai dengan menyebutkan Alvero seperti dia menyebutkan nama itu pada orang yang dekat dengannya.
“Kalau tidak percaya, tanya saja pada yang mulia sendiri. Hanya saja dia memberikan satu syarat untuk itu.” Kata-kata Evan sukses membuat Alaya membalikkan tubuhnya yang awalnya miring membelakangi Evan, jadi miring menghadap ke arah Evan, yang langsung sedikit mengalihkan pandangannya, karena dengan gaun tidurnya yang bertali tipis, dan posisi tubuh Alaya yang miring ke arahnya, membuat Evan mau tidak mau disuguhkan dengan pemandangan indah karena bagian dari bukit kembar Alaya yang tertekan oleh kasur, membuatnya sedikit naik ke atas dan sedikit mengintip dari balik chemise yang dikenakannya.
__ADS_1
“Apa syarat yang dikatakan oleh yang mulia Alvero?” Alaya langsung bertanya kepada Evan, tanpa sadar posisinya berbaring saat ini sungguh membuat Evan canggung, karena baginya, belum waktunya bagi dia untuk bisa melihat apa yang tersuguh di depannya saat ini.
“Yang mulia mengatakan kamu boleh memakai tempat itu sepuasnya, asal aku bisa menemanimu berlatih disana….”
“Kenapa harus seperti itu? Apa hubungannya antara aku berlatih di sana dan Duke Evan? Kita kan tidak memiliki hubungan dekat seperti itu?” Dengan sikap polosnya, tanpa menyadari sepenuhnya apa yang baru saja dia katakan, Alaya menyampaikan pendapatnya kepada Evan, yang mau tidak mau harus kembali menoleh ke arah Alaya untuk menjawab pertanyaan dari gadis cantik itu.
Tanpa diduga-duga oleh Alaya, tiba-tiba saja, Evan melangkah lebih mendekat kea rah tempat tidur, hingga kedua kaki jenjangnya bersentuhan dan menempel pada bagian samping tempat tidur Alaya, membuat gadis itu langsung mengarahkan matanya ke lantai tanpa berani menatap ke arah Evan.
Dan yang membuat tubuh Alaya tersentak kaget dengan sikap gugup, Evan tiba-tiba membungkukkan tubuhnya dan mengarahkan wajahnya ke wajah Alaya yang langsung menahan nafasnya, dengan mata sedikit tertutup.
“Kalau hubungan kita yang sebentar lagi akan bertunangan, dan juga menikah dikatakan hubungan yang kurang dekat. Mau sedekat apalagi yang kamu inginkan? Atau mungkin maksudmu kamu ingin kita mulai mencoba untuk lebih dekat sekarang?” Kata-kata dengan nada lembut yang dibisikkan Evan ke telinga Alaya, hampir saja membuat Alaya kehabisan nafas karena terlalu lama menahan nafasnya tanpa sadar.
Hah!
__ADS_1
Alaya langsung bernafas lega meski hanya dalam hati, karena Evan yang melihat bagaimana cara Alaya menahan nafasnya, sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa gadis itu mulai kehabisan oksigen, dengan cepat kembali meluruskan tubuhnya yang tinggi, agar Alaya bisa bernafas normal kembali.