Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
OBROLAN TIRA DAN ERNEST


__ADS_3

“Tidak apa-apa Tuan Ernest, aku yang bersalah karena tidak melihat dengan baik ke depan saat berjalan.” Tira berkata sambil tersenyum ke arah Ernest.


“Apa Putri Tira baik-baik saja?” Dengan nada suara yang merasa bersalah, Ernest langsung menanyakan kondisi Tira.


“Ah, tentu saja baik-baik saja Tuan Ernest. Atau mungkin Tuan Ernest yang terluka?” Mendengar pertanyaan itu Ernest dengan cepat langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sedang Tira sendiri bukannya tanpa alasan dia menanyakan kondisi Ernest, karena dari yang dia tahu, Ernest masih dalam masa pemulihan setelah mengalami cidera cukup parah ketika dia dan yang lain, termasuk Alvero dan Evan bertempur menghadapi kelompok Eliana di bunker Tavisha beberapa waktu lalu.


“Saya baik-baik saja Putri. Terimakasih untuk pembelaan yang sudah Putri lakukan untuk saya tadi.” Dengan suara terdengar pelan dan ragu, akhirnya Ernest mengucapkan terimakasihnya.


“Lho, tadi Tuan Ernest mendengar semuanya? Aku jadi malu, maaf ya kalau ada kata-kataku yang menyinggung Tuan Ernest.” Tira langsung berkata sambi menyungingkan senyum manisnya ke arah Ernest.


“Kenapa harus tersinggung Putri? Justru Putri yang sudah membela saya, padahal mungkin Putri belum tahu juga masalah siapa yang benar atau salah.” Perkataan Erenst membuat Tira langsung tertawa kecil.


“Hanya orang bodoh yang percaya kalau Tuan Ernest bisa khilaf terhadap pelayan seperti dia. Siapa yang tidak tahu tentang semua prestasi yang Tuan Erenst capai selama menjadi pengawal pribadi yang mulia Alvero. Tuan Ernset bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi yang mulia. Apalagi yang perlu diragukan dari Tuan Ernest? Aku percaya Tuan Ernest, seperti yang mulia Alvero mempercayai Tuan Ernest.” Tira berkata sambil tersenyum, membuat Ernest mau tidak mau jadi merasa canggung, karena mendapatkan pujian dari seorang putri cantik seperti Tira, yang sebenarnya boleh dikata hampir tidak pernah saling berbincang satu sama lain dan tidak cukup saling mengenal.


Jika saja mereka bertemu di sekitar istana, berpapasan atau bertemu pada acara resmi seperti afternoon tea, mereka hanya akan saling bertukar senyum, dengan Ernest memberikan salam penghormatannya kepada Tira yang merupakan seorang putri.


Apa yang mereka berdua lakukan tidak pernah lebih dari hal-hal yang bersifat formal seperti itu, membuat kali ini Ernest benar-benar merasa canggung.

__ADS_1


Pertama kalinya bagi Ernest antara dia dan Tira berbicara dalam suasana sedikit santai, dan pembelaan Tira padanya di depan para pelayan membuat hati Ernest terasa berdesir.


“Tuan Ernest jangan terlalu memikirkan kata-kata omong kosong mereka para pelayan, mereka sebenarnya hanya ingin menyebarkan berita yang tidak masuk akal, sesuai dengan pemikiran mereka tanpa melihat kebenaranya.” Tira berusaha menghibur Ernest yang wajahnya terlihat sedikit kikuk karena pujian untuknya itu.


“Tidak Tuan Putri, saya tidak perduli dengan apapun kata mereka, asal orang-orang terdekat saya tetap mempercayai saya. Toh, sudah ada bukti nyata dari rekaman cctv tentang apa yang sudah dilakukan pelayan itu.” Dengan sikap tenang dan senyum ramahnya, Ernest berkata kepada Tira yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil sedikit menggerak-gerakkan bibirnya ke samping kanan dan kiri.


“Aku senang mendengar sikap optimis dari Tuan Ernest. Kalau begitu… tetap semangat ya Tuan Ernest. Aku pergi dulu. Lain kali saat ada waktu, mungkin kita bisa mengobrol lagi.” Begitu Tira mengatakan itu, Ernest segera memberikan salam penghormatannya untuk Tira yang langsung tersenyum sambil menggerakkan tangannya ke arah Ernest sebagai tanda menerima salam penghormatan dari Ernest, untuk kemudian Tira berlalu dari hadapan Ernest.


Tidak salah jika putri Tira dikenal banyak yang menyukainya sejak kecil, sikapnya yang adil pasti menjadi salah satu alasan kenapa banyak orang yang menyukainya.


Setelah Tira berlalu dari hadapannya, Ernest langsung menarik nafasnya sambil berkata dalam hati, memuji salah satu putri Gracetian yang sampai saat ini masih lajang itu.


# # # # # # #


“Tentu saja aku benar-benar akan berangkat sekarang.” Dengan cepat Alaya menjawab pertanyaan Alea.


“Apa tidak lebih baik nanti sore saja sekalian menunggu Tuan Alexis berangkat kesana?” Alea berusaha melakukan negosiasi dengan Alaya yang langsung mengernyitkan dahinya.


“Memang kenapa harus menunggu uncle Alexis? Aku tidak mau. Terlalu lama. Lagipula di sana nanti ada uncle Red dan yang lain. Aku bisa menghabiskan waktu bersama mereka, daripada harus dterkurung di istana seperti sekarang ini.” Alaya berkata sambil meraih tas ransel miliknya.

__ADS_1


Terkurung di istana kan kemauan anda sendiri? Padahal bisa saja putri berangkat bekerja seperti biasanya. Justru harusnya itu adalah tindakan yang paling aman bagi semuanya, termasuk aku…. Nasibku… semoga putri tidak berbuat macam-macam di luar sana kalau tidak nyawaku sebagai taruhannya.


Alea berkata dalam hati dengan hati gundah, karena niat Alaya untuk membuat Evan memutuskan rencana pernikahan mereka, Alea juga ikut merasa selalu was-was saat berada di dekat Alaya, takut kalau putri cantik dan sembrono itu tiba-tiba melakukan sesuatu diluar kendalinya.


Apalagi sebagai anak didik Alexis, kemampuan beladiri Alaya, berada di atas Alea sendiri, karena semasa di luar negeri, Alexis melatihnya dengan begitu intensif.


“Alea! Ayo kita pergi sekarang! Mumpung kak Alvero dan kak Deanda juga sudah berangkat ke kantor.” Alaya langsung mengajak Alea yang dilihatnya masih diam berdiri di tempatnya.


“Putri… apa Putri sudah berpamitan dengan ibu suri Larena dan yang mulia Vincent?” Tiba-tiba Alea mengatakan sesuatu yang begiktu saja muncul di pikirannya, yang dia harap bisa membuat Alaya tidak jadi berangkat ke Goldie Tavisha sekarang.


“Ist… aku bukan anak kecil lagi, kenapa juga harus meminta ijin untuk hal sederhana seperti ini. Lagipula, kalau mereka membutuhkanku, pasti akan langsung menghubungi nomer teleponku.” Alaya berkata sambil menarik pergelangan tangan Alea dan mengajaknya dengan sedikit berlarian ke arah mobil Alaya yang tadinya memang sudah disiapkan oleh Alea.


# # # # # # #


“Terimakasih untuk suguhan rotinya Uncle Red, selalu nikmat seperti biasanya.” Alaya yang baru saja menghabiskan suguhan roti hangat dari kedai Black Rose yang ada di Goldie Tavisha dan menghabiskan beberapa saat waktunya dengan mengobrol bersama Red, langsung mengucapkan terimakasihnya pada Red.


“Apa rencana putri Alaya selanjutnya? Apa Putri akan kembali ke istana sekarang?” Alaya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Red.


“Tidak Uncle Red. Aku masih ingin di sini sekalian menunggu uncle Alexis yang katanya nanti sore sepulang bertugas akan berkunjung ke tempat ini.” Alaya menjawab pertanyaan Red sambil mendorong piring kosong di depannya, yang tadinya berisi roti yang baru matang itu.

__ADS_1


“Sambil menunggu, aku akan mengunjungi rumah pohon kak Deanda. Tapi sebelumnya aku akan berkeliling sebentar menikmati kesejukan udara di Goldie Tavisha ini.” Alaya berkata sambil bangkit dari duduknya.


__ADS_2