
Para tenaga medis itu hanya bisa melongo begitu melihat bagaimana Alaya yang berjalan dengan sikap terburu-buru, setengah berlarian melewati mereka.
Alaya sempat terdiam sebentar begitu menyadari bahwa saat ini dia keluar dari kamar tanpa alas kaki, sehingga dia langsung masuk kembali ke kamar, menoleh kesana kemari dan langsung memakai alas kaki seadanya begitu matanya menemukan alas kaki entah milik siapa di dekat pintu.
Evan sendiri tetap diam di tempatnya, sambil memandang Alaya yang tampak uring-uringan dan terburu-buru itu.
Begitu Alaya kembali keluar dengan langkah-langkah lebar, mata para tenaga medis langsung melihatnya untuk kemudian saling berpandangan dengan wajah heran, dan seolah baru tersadar dari hipnotis, setelah sosok Alaya pergi menghilang, mereka justru baru mengeluarkan komentar mereka.
"Lho, itu kan putri Alaya?"
"Kok bisa ya?"
"Kapan putri Alaya sadar?"
Berbagai ungkapan rasa heran terdengar dari bibir para tenaga medis itu, yang beberapa diantaranya terus menggerakkan mata menatap ke arah perginya Alaya dan pintu kamar Evan secara bergantian dengan wajah heran dan juga bingung.
"Sam! minta semua orang melonggarkan pengamanan dengan tidak berjaga di sepanjang akses jalan keluar dari rumah ini. Kosongkan semua pos penjagaan sekarang juga. Dan sampaikan kepada semua orang agar langsung menyingkir dan bersembunyi, atau pura-pura tidak tahu jika putri Alaya lewat. Biarkan dia keluar dari tempat ini tanpa ada seorangpun yang menghalanginya." Evan langsung memberikan perintah kepada Sam agar tidak membuat Alaya kesulitan untuk pergi dari rumahnya.
"Tapi kamu harus tetap mengikuti putri Alaya kemanapun dia pergi. Jangan biarkan putri Alaya dalam dalam bahaya, dan awasi kemana dia pergi, agar tidak ada seseorang yang mengganggunya dan mempersulitnya." Evan melanjutkan perintahnya sambil berjalan ke arah jendela kamarnya, mencoba melihat sosok Alaya yang mungkin sudah keluar ke arah jalanan rumahnya menuju pintu keluar.
"Putri Alaya tidak membawa apapun kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya, jadi pastikan kemanapun dia pergi dan apapun yang dia inginkan, dia tidak mengalami kesulitan dengan uang." Perintah lanjutan dari Evan, membuat Sam yang diperintahkan untuk dengan diam-diam mengikuti Alaya segera bergerak cepat.
__ADS_1
"Baik Duke Evan." Dengan suara terdengar tegas, Sam langsung menjawab perintah Evan.
Untuk beberapa saat setelah memberikan perintah kepada Sam, Evan terus berdiri dengan sikap mengamati jalan penghubung antara rumah dan gerbang rumahnya dari balik jendela kamarnya, menanti sosok Alaya muncul di tempat itu dan melihat apa yang akan dilakukan istrinya itu.
Satu-satunya akses jalan untuk bisa keluar dari kediaman Evan, memang terlihat dari jendela kamar Evan.
Dari bangunan rumah Evan menuju pintu gerbang tebentang jalan beraspal sejauh ratusan meter, dimana di samping kanan dan kiri jalan itu tampak pepohonan yang cukup rimbun.
Karena berpikir kalau Evan pasti akan mengerahkan para pengawal yang ada di rumahnya untuk mencegahnya pergi, Alaya berjalan dengan hati-hati dan mengendap-endap menyusuri jalan keluar lewat balik pepohonan itu, begitu dia keluar dari pintu rumah Evan.
Evan yang bisa melihat bagaimana Alaya yang sedang berusaha keluar dari lingkungan rumahnya sambil mengendap-endap dengan sikap waspada, meskipun beberapa petugas keamanan justru pergi menjauh dan menghindarinya begitu dari jauh melihat sosoknya hanya bisa tersenyum geli.
"My princess ternyata orang yang benar-benar lucu, membuatku semakin gemas melihatnya. Setelah ini, apalagi yang akan dilakukannya ya? Ide gila apalagi yang sedang dipikirkannya? Sepertinya aku harus segera ikut menyusul Sam yang sedang mengikutinya. Dan melihat apa yang dilakukannya setelah ini." Evan bergumam pelan sambil menutup tirai jendela kamarnya, dan keluar untuk bisa segera menyusul Alaya.
"Duke Evan...." Begitu para tenaga medis melihat sosok Evan yang keluar dari kamarnya, salah satu dari dokter yang merupakan ketua dari tim medis itu segera menyapa Evan dengan sikap hormat.
"Maaf sudah membuat Anda sekalian menunggu cukup lama. Seperti yang Anda lihat, putri Alaya sudah sadar kembali dan sepertinya kondisinya sudah jauh lebih baik. Ini putri sengaja pergi untuk mencari udara segar, mungkin karena begitu lama tidak sadarkan diri membuatnya bosan." Dengan cepat Evan segera memberikan alibi untuk membuat orang tidak curiga dengan tindakan Alaya yang tiba-tiba keluar dari kamar dengan sikap terburu-buru.
"Terimakasih untuk bantuan kalian semua. Kalian bisa kembali ke rumah sakit dan bertugas seperti biasanya." Perkataan Evan disambut dengan anggukan kepala oleh semua anggota dari tim medis yang sejak Alaya dibawa ke rumah Evan, terus berjaga-jaga untuk merawat Alaya secara bergantian.
"Sama-sama Duke Evan. Kami senang sekali melihat Putri Alaya yang sudah sehat kembali dan tampak begitu energik meskipun baru sadar." Dokter itu berkata dengan wajah menunjukkan ikut senang melihat perkembangan kesehatan dari Alaya.
__ADS_1
"Terimakasih untuk dukungannya terhadap putri Alaya."
"Kalau begitu, kami pamit dulu Duke Evan, semoga semuanya berjalan lancar dan Duke Evan maupun putri Alaya teruse diberikan kesehatan." Dokter itu berkata sambil memberikan tanda kepada anggota timnya yang lain untuk segera membereskan semua peralatan milik mereka dan kembali ke rumah sakit.
# # # # # #
"Evan!" Suara Danella langsung membuat langkah Evan yang sudah hampir mencapai pintu keluar rumahnya terhenti seketika begitu mendengar suara panggilan dari Danella.
"Eh... ya Ma?" Danella dengan buru-buru langsung mendekat ke arah Evan begitu Evan menghentikan langkahnya.
"Kamu mau kemana? Pergi ke kantor dinasmu? Apa kondisi Alaya sudah lebih baik? Sudah ada perkembangan?" Danella yang biasanya mengunjungi Alaya setelah Evan pergi ke markas besar tempatnya bekerja, langsung menanyakan kondisi Alaya.
"Kondisinya sangat baik, dia bahkan sudah bisa berlarian kesana kemari seperti layaknya orang sehat lainnya." Evan berkata dengan suara terlihat lega dan senang atas pulihnya kesehatan Alaya.
"Eh.... apa benar seperti itu?" Danella langsung bertanya dengan wajah bingung setelah mendengar perkataan Evan yang diucapkannya dengan sikap geli, karena mengingat kembali bagaimana Alaya yang berusaha keluar dari tempat kediamannya seperti seorang pencuri yang mengendap-endap di sekitar pepohonan tadi.
"Itu artinya, istrimu sudah sadar sepenuhnya? Apa benar begitu Evan?" Tanpa menunggu jawaban Evan dari pertanyaan sebelumnya, Danella kembali bertanya kepada Evan dengan wajah panasaran bercampur dengan wajah bahagia.
"Tentu saja benar, dia sudah sadar sepenuhnya, hanya saja dia belum sadar akan status barunya sebagai seorang duchess Carsten." Evan menjawab pertanyaan Danella yang langsung mengernyitkan dahinya dengan wajah semakin heran.
"Apa kamu belum menjelaskan tentang hal itu dan meminta maaf padanya karena pernikahan kalian dilakukan tanpa persetujuannya, dalam kondisi dia tidak sadar?" Pertanyaan Danella berikutnya langsung membuat Evan tersenyum, maklum dengan sikap khawatir Danella yang sejak rencana pernikahan secara sepihak itu dia ceritakan pada Danella, wanita berhati lembut itu terus mengkhawatirkan tentang bagaimana perasaan dan reaksi Alaya jika mengetahui tentang hal itu.
__ADS_1