
Dan itu membuat Alaya mengingat kembali bagaimana pertemuan mereka setelah Alaya kembali ke Gracetian dengan statusnya yang baru sebagai putri Gracetian.
Setelah kembali ke Gracetian sebagai putri untuk pertama kalinya Alaya dan Evan bertemu di acara afternoon tea, dimana Evan dan Alaya tanpa sengaja saling bertabrakan.
Setelah itu bayangan Alaya meloncat ke saat dimana dia dengan berani menerobos markas berkas kemiliteran hanya untuk bertemu Evan dan meminta agar laki-laki tampan berambut emas itu menolak rencana perjodohan dari Alvero untuk mereka berdua.
Sikap tenang dan aura wibawa yang ada pada Evan hampir saja membuat Alaya tidak bisa mengeluarkan kata-katanya karena sibuk dengan dadanya yang terus bergetar hebat saat itu.
Bahkan setelah itu ingatan saat Evan berbisik padanya saat Alaya marah dan meminta waktu berbicara secara pribadi di ruang kerja Alvero, membuat Alaya harus menahan nafasnya agar bisa mengendalikan debaran di dadanya saat mengingat semua kejadian itu.
Ketika ingatan Alaya hampir saja melompat kembali saat dia masih tinggal di luar negeri hari itu, kejadian beberapa tahun yang lalu, hari dimana dia dan....
"Putri Alaya...." Alaya yang sedang berada dalam lamunannya langsung tersentak kaget, dan menoleh ke arah Alea yang langsung tersenyum.
"Sedang melamunkan siapa hayo? Apa mungkin... sebenarnya kamu sudah memiliki seorang kekasih ketika tinggal di luar negeri?" Alea langsung bertanya sambil menyungingkan senyum menggoda di wajahnya.
__ADS_1
"Ist... mana ada cerita seperti itu...."
"Ya.... itu alasan yang paling masuk akal yang bisa membuatmu menolak pernikahanmu dengan duke Evan. Bagaimana? Apa kekasihmu seorang rakyat biasa? Sehingga kamu tidak berani memperkenalkannya pada yang mulia Alvero? Apa dia tampan? Apa dia tahu sekarang kamu akan dijodohkan dengan duke Evan? Kapan dia menyusul kemari?" Mendengar berbagai pertanyaan Alea yang bagi Alaya sungguh terdengar tidak masuk akal, Alaya kembali mencubit lengan Alea dengan gemas, membuat cubitannya kali ini cukup keras.
"Auwww...." Cubitan itu mau tidak mau membuat Alea terpekik pelan, namun kemudian gadis itu langsung tertawa kecil mendapatkan perlototan dari Alea.
"Maaf ya, hanya bercanda. Jadi apa sebenarnya yang membuatmu tidak bisa menerima duke Evan?" Alea bertanya kembali kepada Alaya, kali ini dengan wajah serius.
"Maaf, sampai saat ini, aku belum bisa mengatakan itu. Hanya saja, aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak mencintaiku, itu saja." Alea langsung menarik nafas panjang.
"Tapi duke Evan tetap memilih untuk setuju menikah denganmu. Itu artinya paling tidak dia memiliki rasa tertarik padamu. Dan jika dipupuk, itu akan menjadi sebuah perasaan cinta, apalagi putri Alaya merupakan sosok putri yang sangat cantik dan menarik, bukankah begitu?" Alaya langsung menggelengkan kepalanya mendengar perdapat Alea yang bagi orang lain sangat masuk akal, tapi tidak bagi Alaya.
Seorang pria yang betul-betul mencintai seorang wanita, tidak akan dengan mudah mengingkari janji yang pernah keluar dari bibirnya, dan melupakan sosok wanita yang dicintainya, meskipun itu sudah lama berlalu.
Alaya berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangan matanya menjauh dari jangkauan Alea, agar gadis itu tidak bisa melihat mata Alaya yang tiba-tiba terasa sedikit panas saat mengingat kembali tentang janji itu.
__ADS_1
"Hah, jangan menyebutkan nama duke Evan terus di depanku atau kepalaku akan bertambah sakit. Sekarang kamu beritahukan saja padaku apa idemu untuk membuat duke Evan membenciku." Alaya berkata sambil menyungingkan senyumnya, untuk menutupi rasa sedih yang baru saja menghantam hatinya.
"Ternnyata putri Alaya tetap bersikeras untuk membuat duke Evan menyerah terhadap perjodohan ini...." Alea berkata dengan nada pasrah, seolah dia sedang berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku benar-benar serius tentang hal itu, jadi segera beritahukan kepadaku tentang rencana yang bisa segera aku praktekkan." Perkataan Alaya akhirnya membuat Alea hanya bisa mengikuti kemauan putri cantik itu.
"Ada banyak cara, salah satunya, cari info tentang apa yang tidak dia sukai, seperti makanan atau minuman, dan tunjukkan kalau kamu justru sangat menyukai itu, dan paksa dia untuk ikut menikmatinya bersamamu, pasti akan sangat menyebalkan baginya." Alaya langsung mengangguk-anggukkan kepalanya begitu mendengar perkataan Alaya.
"Kalau begitu, kamu cari info makanan dan minuman yang dibenci duke Evan secepatnya." Alaya yang dengan santai menyampaikan perintahnya kepada Alea, membuat mata Alea langsung membulat karena kaget.
"Kenapa jadi aku yang harus mencari info tentang itu? Bukannya Putri lebih bisa mencari info itu dari orang-orang terdekat duke Evan? Putri lebih memiliki akses ke mereka." Dengan wajah heran Alea bertanya kepada Alaya.
"Karena aku tidak mau berhubungan, berkomunikasi, berbicara sekecil apapun dengan duke Evan. Lebih baik aku menghindarinya...."
Karena jika aku terus berada di dekatnya, berhubungan dengannya, aku tidak yakin bisa terus bertahan dan menahan diriku. Seharusnya, aku tidak kembali ke Gracetian... seharusnya... aku tetap diluar sana dan melupakan semuanya, seperti dia melupakan janjinya padaku.
__ADS_1
Alaya melanjutkan kata-katanya dalam hati sambil menghela nafasnya, ada rasa sesak di dadanya setiap dia teringat akan sebuah janji yang awalnya membuatnya memiliki kekuatan untuk kembali ke Gracetian dan mengambil kembali haknya saat itu.