
"Aku lebih suka kamu tetap menjadi jenderal besar kebanggaan bagi rakyat Gracetian, seorang duke yang bertanggung jawab penuh terhadap keamanan negara ini. Apalagi, dengan penampilanmu mengenakan pakaian kebesaran jenderal besarmu, kamu tampak begitu gagah dan tampan. Aku sangat suka melihat penampilanmu itu." Evan sedikit mengernyitkan dahinya mendengar komentar Alaya tentang dirinya, tapi begitu mengingat bahwa Alaya pernah ke kantornya yang ada di markas besar militer dan pasti pernah melihat foto-fotonya yang berjajar di dinding kantornya, Evan hanya bisa tersenyum.
"Lain waktu, jika ada kesempatan, aku ingin kembali melihat-lihat foto-fotomu yang tergantung di dinding kantormu. Kali ini, aku ingin mengamatinya sampai puas, tanpa ada yang menggangguku." Dengan suara manja dan tatapan matanya yang tampak berbinar Alaya berkata kepada Evan.
"Tidak perlu seperti itu my princess. Kalau mau mengagumiku bukankah kamu punya yang aslinya? Kenapa harus mengagumi foto sedang sosok aslinya sudah menjadi milikmu?" Evan berkata sambil dengan gerakan cepat, mengambil posisi duduk di samping Alaya.
"Bukannya foto hanya bisa dilihat saja my princess? Sedangkan yang asli, bisa kamu sentuh, dan juga kamu nikmati dari ujung kepala sampai ujung kaki...." Evan berkata sambil menarik salah satu dari tangan Alaya, menggenggamnya erat dan langsung mengarahkannya ke senjata pusakanya yang mulai terbangun dari tidurnya setelah pergulatan panas mereka semalam.
Mata Alaya langsung melotot begitu merasakan sesuatu milik Evan yang berkedut dan ukurannya mulai membesar.
"Evan... aku masih ingin bersantai bersamamu. Bolehkan nanti saja menuruti keinginan juniormu? Apalagi... aku tidak mau melakukannya dengan kondisi berantakan seperti ini, sedang kamu terlihat sudah begitu rapi dan harum...." Evan yang mendengar suara manja Alaya dengan nada memohonnya, hanya bisa tersenyum dan menjauhkan tangan Alaya sebelum si junior semakin menjadi dan tidak bisa menahan diri lagi.
"Kamu ini... aku tidak perduli dengan penampilanmu. Bagiku, kamu akan tetap terlihat begitu menarik dan menggairahkan...." Evan berkata sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Alaya, berniat mencium kembali bibir istrinya itu.
Namun dengan gerakan cepat, Alaya justru langsung menutup bibirnya sendiri dengan kedua telapak tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku...bahkan belum menyikat gigiku...." Alaya berkata sambil mengernyitkan dahinya, membuat Evan kembali menjauhkan wajahnya dengan senyum tetap tersungging di wajah tampannya yang tampak lembut.
__ADS_1
"Kamu ini... kenapa tidak percaya diri di hadapanku? Padahal itu bukan masalah bagiku. Bahkan tampilanmu yang baru bangun dari tidurmu, bagiku tetap terlihat sebagai wanita paling cantik yang pernah aku temui selama aku hidup." Evan berkata lembut sambi mengelus dan sedikit merapikan rambut Alaya yang memang terlihat sedikit berantakan, meskipun bagi Evan, penampilan Alaya itu tidak mengurangi sedikitpun kecantikan wanita miliknya itu.
Bahkan Evan ingat dengan jelas bagaimana tadi saat terbangun, meski Alaya terlihat masih tertidur lelap dengan bibir sedikit terbuka dan ada sedikit ada warna putih di ujung bibirnya, menunjukkan ada bekas air liur yang mongering di sana, bagi Evan, Alaya tetaplah terlihat cantik.
Dan tentu saja, Evan tidak ingin membahas masalah itu jika tidak ingin Alaya menjadi malu dan justru menghindar darinya.
"Apa kamu memiliki rencana pagi ini? Kenapa kamu ikut bangun begitu pagi?" Evan berkata sambil menyalakan tombol on pada teko listrik yang tadi dibawanya, setelah dia menghubungkannya dengan listrik.
"Apa kamu mau menyindirku? Jelas-jelas kamu bangun jauh lebih pagi daripada aku, tapi sudah berkata seperti itu." Alaya berkata sambil sedikit memberengut, membuat tawa renyah Evan kembali terdengar.
“Hari ini, aku tidak memiliki rencana lain selain menghabiskan waktu berdua dengan istri tercintaku.” Evan berkata sambil melirik dengan tatapan menggoda ke arah Alaya yang mencebikkan bibirnya.
“Tentu saja serius. Seperti kata Alvero, dia mau memberikan kesempatan untuk kita berdua menjalani bulan madu kita sambil menunggu suasana mereda di luar sana. Setelah aku berhasil membekuk duchess Katiie dan duke Hugo, kita akan segera mengadakan konferensi pers, dan menjelaskan tentang pernikahan kita yang memang sah dan tidak adal masalah.” Evan berkata sambil memandang ke arah teko listrik yang sudah mulai menunjukkan uap panas dari ujung lehernya, menunjukkan air sudah hampir mendidih.
“Kalian berdua… entah kamu ataupun kak Alvero sepertinya selalu bertindak dengan penuh perhitungan.” Alaya berkata sambil mengikuti tatapan mata Evan yang memandang ke arah kettle listrik itu.
Dengan cepat, Evan membuka salah satu toples kaca yang berisi teh dan mengambil dua sendok dan memasukkannya dalam teko kaca, lalu menuanginya dengan air mendidih dari dalam teko listrik yang baru saja dia matikan tepat sebelum dia menuangkan air di dalamnya.
__ADS_1
Semua gerakan Evan yang terlihat begitu elegan saat membuat seduhan teh, membuat mata Alaya sulit beralih darinya.
Evan menunggu beberapa saat sebelum akhirnya menuangkan teh yang tadi dia seduh ke dalam cangkir keramik.
“Aku dan Alvero memiliki tanggungjawab yang tidak memperbolehkan kami bersikap sembrono dan sebebas orang lain dalam bertindak, karena apapun keputusan kami akan berdampak besar bagi kerajaan ini.” Evan yang duduk sambil menyilangkan kakinya, berkata sambil memiringkan wajahnya, menatap ke arah Alaya yang duduk disampingnya.
“Ya, aku tahu. Maaf kalau aku mungkin belum bisa sepenuhnya mengikuti cara berpikirmu dan memahami apa yang kamu lakukan sebagai seornag duke.” Alaya berkata sambil menghela nafasnya, sadar bahwa selama ini dia selalu hidup bebas di luar negeri, jauh dari aturan istana yang ketat, sehingga baginya masih sulit untuk bisa benar-benar bersikap dan berpikir seperti layaknya seorang bangsawan seharusnya, seperti Alvero maupun Evan.
“Dengan berjalannya waktu, kamu pasti bisa. Apalagi kamu adalah gadis yang cerdas dengan nilai-nilaimu yang cukup tinggi selama kamu menjalani pendidikanmu. Bahkan kamu pernah memenangkan salah satu lomba matematika di negara tempat kamu tinggal dulu.” Alaya langsung membeliakkan matanya begitu mendengar perkataan Evan.
“Darimana kamu tahu?” Pertanyaan Alaya dengan wajah penasarannya membuat Evan tesenyum geli.
“Tentu saja. Apa lagi-lagi kamu lupa kalau suamimu seorang duke? Bahkan belum lagi kamu sampai kembali ke istana setelah menerobos markas besar waktu itu, aku sudah mendapatkan info lengkap tentang kehidupanmu di luar negeri.” Evan berkata sambil mengingat bagaimana Alaya yang berani-beraninya masuk ke markas militer untuk menemuinya dan memintanya menolak rencana perjodohan mereka.
Sikap Alaya justru membuat Evan semakin ingin dekat dan tahu semua hal tentang Alaya saat itu juga.
“Pasti itu semua perbuatan Sam kan?” Alaya langsung berkata sambil mendengus pelan, karena sudah bisa menebak siapa yang mendapatkan tugas dari Evan untuk menyelidiki masa lalunya.
__ADS_1
“Memang itulah gunanya Sam, selalu melakukan apa yang aku perintahkan dan membantuku mendapatkan apa yang aku inginkan.” Evan berkata dengan sikap tenang seperti biasanya sambil salah satu tangannya meraih salah satu cangkir berisi teh yang tadi sudah dia seduh.