Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MENGUMPULKAN BUKTI


__ADS_3

"Apa kamu sudah mengenaliku Dokter? Atau aku perlu memanaskan pikiranmu dengan meletuskan satu timah panas untuk menghangatkan kepalamu?" Evan berkata sambil tersenyum ke arah dokter Jordan.


Sebuah wajah tampan bak malaikat dengan senyum manis bagi orang lain yang mungkin melihat Evan yang sedang tersenyum, tapi bagi dokter Jordan, senyum Evan seperti seringai senyuman dari malaikat pencabut nyawa yang memiliki wajah tampan.


"Hanya sebagai info saja Dokter. Tembakanku boleh dikata tidak pernah meleset dari sasaran. Tapi aku tidak pernah memaksa orang lain untuk percaya pada kemampuanku itu. Jadi jika Dokter ingin mencobanya, aku tidak keberatan untuk mengabulkannya." Evan berkata sambil menarik pelatuk dari pistol yang sedang diarahkannya di kening dokter Jordan, membuat seluruh otot di tubuh dokter Jordan menegang dan mengharuskan dirinya sendiri untuk menelan air ludahnya berulang kali dengan keringat dingin mulai membasahi bagian punggungnya.


Meskipun dia bisa selamat hari ini, dokter Jordan tahu bahwa setelah hari ini kehidupannya tidak akan mungkin bisa seperti yang dulu-dulu, karena yang dilawannya adalah seorang duke dengan posisi jenderal besar yang dimilikinya.


Bagi Evan, rasanya ingin sekali dia benar-benar menarik pelatuk dari pistol di tangannya karena orang di depannya, sudah membuatnya melupakan gadis yang begitu dicintainya, tapi begitu Evan teringat bahwa dengan memanfaatkan dokter Jordan, dia bisa mendapatkan kesempatan mendapatkan ingatannya kembali tentang Alaya, lebih cepat dan lebih pasti hasilnya, membuat Evan begitu menahan dirinya untuk tidak benar-benar meletuskan timah panas agar menembus kepala dokter Jordan.


"Ampuni saya Duke Evan... saya mengaku bersalah. Tidak seharusnya saya melakukan hal seperti itu pada Duke Evan." Dengan nada memohon dan wajah pucatnya, berkata kepada Evan yang sebenarnya ingin sekali menghajar wajah laki-laki di depannya sampai bebak belur.


Karena itu, Evan sengaja mengatupkan kedua rahangnya dengan erat untuk menahan dirinya agar tidak mengikuti emosinya sehingga benar-benar menghajar dokter Jordan, sedangkan untuk saat ini, Evan ingin dokter itu mengembalikan semua memorinya yang hilang karena hipnoterapi.


"Kamu bersalah padaku? Memang apa yang sudah kamu lakukan padaku?" Evan berkata sambil menatap ke arah Sam yang berdiri di tempatnya dengan sikap siaga, dan di tangan kanannya memegang sebuah alat perekam untuk merekam pembicaraan antara Evan dan dokter Jordan.


“Saya… sudah melakukan hipnoterapi pada Duke Evan tanpa ijin dari Duke Evan bertahun-tahun yang lalu….” Dengan suara lirih dan rasa takut dokter Jordan menjawab pertanyaan Evan.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan dengan hipnoterapi itu?”


“Untuk menghapuskan semua ingatan Duke Evan terhadap Putri Alaya, yang waktu itu menjadi kekasih Duke Evan di luar negeri.” Dokter Jordan kembali menjawab pertanyaan Evan dengan apa adanya, tanpa berusaha dia tutup-tutupi lagi, karena sebagai seorang dengan IQ tinggi seperti dokter Jordan, Evan pasti sudah mengetahui semuanya dengan jelas sebelum dia datang ke tempat ini, dan saat ini Evan hanya sedang melakukan tes padanya, untuk menilai tentang kejujurannya.


(Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan suatu indikator untuk mengukur kecerdasan seseorang. Kecerdasan yang dimaksud, yaitu kecerdasan yang terbentuk atas proses pembelajaran dan pengalaman hidup.


IQ menggambarkan kemampuan seseorang dalam berpikir, mengingat, memahami, mengevaluasi, mengolah, menguasai lingkungan, dan bertindak secara terarah. Biasanya, IQ memiliki kaitan yang erat dengan intelektual, logika, kemampuan menganalisis, pemecahan masalah matematis, dan strategis.


Selain itu, IQ juga memiliki keterkaitan dengan keterampilan berkomunikasi, merespons atau menanggapi hal-hal yang ada di sekitarnya, serta kemampuan mempelajari materi-materi bilangan, seperti matematika.


Melalui sekolah, kecerdasan ini diasah dengan berpikir secara rasional. Misalnya, saat kita belajar tentang matematika, kita dilatih untuk memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah dari soal itu).


“Aku dan Dokter tidak pernah memiliki hubungan apapun, meskipun hanya sekedar teman atau bisnis tertentu. Kenapa dokter ingin menghapuskan ingatanku terhadap putri Alaya? Apa untungnya bagi dokter Jordan melakukan hal seperti itu?” Dokter Jordan sedikit menahan nafasnya begitu mendengar perkataan Evan yang baginya jelas-jelas sebuah pertanyaan jebakan untuk mengatakan yang sebenarnya siapa dalang di balik semua rencana busuk tentang hipnoterapi yang pernah dia lakukan pada Evan itu.


“Apa Dokter memiliki dendam pribadi denganku?” Evan kembali melontarkan pertanyaannya begitu melihat wajah dokter Jordan yang bingung dan tidak juga menjawab pertanyaan darinya barusan.


“Tidak Duke Evan… tidak… saya tidak akan berani melakukan hal buruk seperti itu pada Duke Evan tanpa ada yang memberikan perintah.” Dokter Jordan berkata dengan wajah semakin memucat.

__ADS_1


“Kalau begitu siapa yang sudah memberimu perintah untuk melakukan itu padaku? Dan apa alasan dia melakukan itu?” Rasanya dokter Jordan ingin sekali tidak menjawab pertanyaan dari Evan itu, karena bagaimanapun Kattie adalah sepupunya, tapi melihat bagaimana seriusnya tatapan mata Evan, dan juga Sam yang terus menatap tajam ke arahnya dengan aura mengintimidasi, membuat dokter Jordan bahkan tidak berani untuk berkelit.


Apalagi melihat bagaimana tatapan Sam yang terlihat jelas seperti singa yang menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsanya yang lengah.


“Duchess Kattie Brown yang memberikan perintah itu….” Akhirnya dokter Jordan mengatakan yang sebenarnya pada Evan.


“Alasannya? Karena aku tidak pernah menyinggungnya.” Evan bertanya dengan sikap tidak sabar.


“Sejak dulu duchess Kattie berharap bisa menikah dengan Duke Evan, karena itu adalah satu-satunya harapan untuk dia bisa tetap mempertahankan statusnya sebagai seorang dhuchess Gracetian." Dokter Jordan menjawab dengan suara pelan dan ragu.


Alasan yang menunjukkan bagaimana serakahnya duchess Kattie, dan tidak perdulinya gadis itu dengan perasaan orang lain.


Evan berkata dalam hati dengan sikap meremehkan Kattie, karena jawaban dokter Jordan yang sebenarnya sudah bisa dia duga sedari awal membuat rasa respek Evan terhadap Kattie semakin hilang, meskipun dia dulu sempat menghormati Kattie sebagai bentuk ucapan terimakasih karena sudah menyelamatkannya, dan sejak awal Evan tidak ingin memberikan rasa lebih selain itu.


"Aku hanya akan memberimu dua pilihan, kembalikan ingatanku dan aku akan membiarkanmu tetap tinggal di Gracetian meskipun mulai sekarang setelah ini kamu dilarang untuk melakukan proses hipnoterapi karena kamu setelah ini gelar doktermu akan dicabut, tanpa aku mencabut gelar kebangsawananmu. Pilihan kedua, tidak perlu membantuku mengembalikan ingatanku, aku akan membuat kamu dan seluruh keluargamu terusir dari Gracetian, aku akan membuatku keluar dari Gracetian tanpa bisa membawa apapun, entah itu keluarga atau hartamu, termasuk gelar kebangsawanan dan title doktermu." Evan berkata sambil menatap tajam ke arah dokter Jordan yang tampak sedikit terdiam.


"Kalau kamu memilih pilihan kedua, sekarang juga kamu bisa pulang ke rumah dan mengemas semua barangmu." Evan kembali berkata kepada dokter Jordan.

__ADS_1


Mau tidak mau, aku harus memilih pilihan pertama, karena tanpa gelar kebangsawanan dan titel dokterku, bagaimana bisa aku hidup di luar negeri. Apalagi tanpa aku membantu duke Evan, dia sebenarnya bisa menemukan ahli hipnoterapi lain untuk memulihkan ingatannya, meskipun tidak secepat jika aku yang melakukannya kembali.


Dokter Jordan mulai menimbang-nimbang jawaban apa yang harus dia berikan pada Evan, karena sebenarnya, diantara dua pilihan itu sama-sama berat baginya.


__ADS_2