
“Alaya, ada baiknya kamu berikan ilmu barumu juga kepada Melva… tolong ya!” Seolah belum puas menggoda Alaya, dengan suara yang tidak terlalu keras, tapi bisa didengar oleh Alaya yang belum benar-benar menjauh, Enzo berkata kepada Alaya yang tampak langsung semakin mempercepat langkah-langkah kakinya agar bisa segera menjauh dari Enzo, agar Enzo tidak benar-benar terus menggodanya.
Sedang Evan yang melihat bagaimana Alaya yang mencoba kabur dari serangan godaan Enzo, hanya bisa tertawa tanpa suara, sambil menutup bibirnya dengan tangannya yang terkepal.
Sepertinya istriku sejak dulu ahli dalam hal melarikan diri, termasuk melarikan diri dariku dulu. Sayangnya, dia tidak memiliki bakat untuk sukses dalam hal melarikan diri dariku.
Evan berkata dalam hati dengan tetap menahan suara tawanya yang sudah hampir meledak melihat sikap dan tindakan Alaya.
“Jadi bagaimana Evan?” Seolah tidak rela membiarkan Evan tidak mendapatkan bagian dari godaannya, Enzo langsung mengalihkan fokusnya pada Evan, begitu melihat Alaya sudah berhasil melarikan diri darinya.
"Apanya yang bagaimana?" Evan bertanya balik kepada Enzo yang langsung meringis.
"Masa tidak tahu apa maksudku? Kamu kan yang baru saja menikah." Enzo berkata sambil menggerakkan siku tangannya, menyenggol lengan Evan yang hanya tersenyum.
"Kamu juga akan menikah juga kan dalam waktu dekat? Rasakan saja sendiri, kenapa aku harus bercerita? Semua orang punya pengalaman sendiri-sendiri." Kata-kata bijak dari Evan membuat Enzo tertawa kecil.
"Habisnya aku merasa penasaran sekali padamu. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu yang sosoknya terlihat selalu tenang dan berwibawa, ternyata ganas juga ya kalau urusan ranjang...." Tanpa basa basi, Enzo langsung mengeluarkan pendapatnya tentang Evan.
Apa maksudnya dengan ganas? Apa lamanya waktu melakukan hal seperti itu dan kuat melakukannya sampai beberapa kali sampai Alaya minta berhenti karena merasa lelah... bisa disebutkan dengan ganas di ranjang?
__ADS_1
Evan berkata bertanya-tanya dalam hati, dengan sikap penasaran, tapi memutuskan untuk tidak bertanya pada Enzo, yang pasti akan semakin mengolok-oloknya.
"Apa maksudnya itu? Jangan sok tahu. Darimana kamu bisa berpendapat seperti itu?" Meskipun dalam hati Evan harus mengakui apa yang dikatakan oleh Enzo mungkin saja adalah benar, tentu saja Evan tidak mau emngakuinya di depan Enzo.
"Apa kamu tidak sadar, begitu banyak tanda cinta yang sudah kamu buat di tubuh Alaya? Untung saja dia memakai syal, kalau tidak, tampilan Alaya hari ini pasti sudah seperti macan tutul. Dan aku yakin, bukan hanya di bagian leher saja kamu membubuhkan tanda cinta itu. Di bagian yang bisa dilihat orang saja kamu berani memberikan begitu banyak tanda, apalagi di bagian yang tertutup rapat di dalam sana." Enzo berkata sambil tertawa kecil.
"Eh...." Kata-kata dari Enzo langsung membuat wajah Evan memerah dan malu, tidak menyangka kalau Enzo akan secermat itu mengamati kulit leher Alaya.
Ini pasti hukum karma karena aku membiarkan Enzo menggoda my princess tadi tanpa membelanya sama sekali, justru hanya menertawakannya.
Evan berkata dalam hati dengan senyumnya yang terlihat kikuk karena godaan Enzo.
"Seperti kata Alaya, sepertinya kamu ini cukup mesum. Kalau aku tidak mengenalmu dari cerita Alvero, aku pasti sudah mengira kalau kamu adalah seorang playboy yang berpengalaman." Bukannya tersinggung, Enzo malah tersenyum lebar mendengar perkataan dari Evan.
"Kata Alvero, jangan pernah percaya dengan kata-kata Enzo tentang wanita. Karena dia pintar bicara seolah-olah memiliki banyak pengalaman, padahal pengalamannya nol besar. Katanya kamu cuma pintad bicara, belum pernah tahu prakteknya, jadi tidak bisa dipercaya." Evan berkata sambil menahan senyum gelinya melihat wajah tidak terima Enzo.
Persis dengan yang dikatakan oleh Alvero tentang pangeran tampan yang satu itu, selalu saja bersikap ekspresif, dan menjadi pencerah suasana.
"Sial! Si Alvero ini selalu saja meremehkanku! Mentang-mentang dia sudah menikah duluan dariku, jadi sok berpengalaman." Enzo langsung memaki Alvero tanpa perduli dia sedang berbicara dengan Evan sekarang.
__ADS_1
Seperti kata Alvero juga, Enzo benar-benar tidak ingin hidup seperti bangsawan pada umumnya, sehingga sikapnya terlihat begitu santai dan tidak terlalu perduli dengan lingkungan istana dengan semua aturan ketatnya. Untung saja dia seorang pangeran Adalvino, kalau tidak pasti para pangeran lain tidak akan membiarkannya begitu saja.
Evan berkata dalam hati begitu mendengar makian Enzo untuk Alvero, yang Evan tahu, semua itu hanyalah candaan Enzo, sebuah kebiasaan Enzo yang selalu tampil ceria di depan orang lain.
"Bukannya dia memang sudah menikah lebih dahulu darimu? Jelas saja dia lebih berpengalaman. Kalau kamu yang lebih berpengalaman dari dia justru akan terasa aneh dan berbahaya sekali. Kasihan Melva dong hanya dapat bekasmu saja." Evan menanggapi kata-kata Enzo dengan tenang.
"Eee... enak saja, begini-begini masih orisinil ini, masih belum tersentuh sama sekali oleh gadis manapun." Enzo berkata sambil membusungkan dadanya di depan Evan dengan sikap pamer.
"Apa ada bukti untuk itu? Kalau lihat dari caramu bicara tentang wanita tadi, sepertinya keperjakaanmu patut diragukan." Ucapan Evan membuat mata Enzo sedikit terbeliak kaget, tidak menyangka kalau Evan akan menyerangnya dengan kata-kata seperti itu.
"Lho, kenapa? Apa ada yang salah lagi? Kalau keperawanan bisa di buktikan entah dengan adanya selaput dara atau pemeriksaan secara medis, kalau keperjakaanmu mana bisa dibuktikan? Apalagi kamu selalu diberitakan sebagai salah satu pengeran Gracetian yang populer dan dekat dengan banyak wanita cantik." Kali ini Enzo bukan hanya membeliakkan matanya, tapi bibirnya langsung melongo mendengar kata-kata Evan yang sulit untuk dibantahnya.
"Eh, aku serius, aku benar-benar masih tersegel rapi...." Enzo berusaha membuat Evan tidak menuduhnya seperti itu.
"Eh, sebentar... kenapa jadi kamu yang berbalik menggodaku? Bukannya harusnya aku yang mengerjaimu sekarang?" Enzo yang baru sadar diri bahwa posisinya sekarang jadi bahan godaan Evan, langsung berkata dengan nada protesnya.
Benar-benar pencair suasana dimanapun dia berada. Dengan keberadaannya, pasti suasana serius dan tegang yang biasanya terlihat di istana bisa mencair dengan baik.
Evan yang mendengar itu langsung berkata dalam hati dengan mulut tertawa, sambil menepuk bahu Enzo yang tindakan dan sikapnya benar-benar membuat Evan merasa geli.
__ADS_1
"Sudah, tidak perlu diteruskan, aku percaya, seorang pangeran Adalvino sepertimu, meskipun tidak suka dengan tata cara hidup di istana, untuk masalah prinsip, kamu pasti masih memegangnya dengan teguh." Evan mengakhiri godaannya pada Enzo begitu mereka berdua sudah semakin dekat dengan lokasi kolam ikan yang menjadi tempat pertemuan mereka dengan Alvero dan Deanda.
“Kamu benar-benar hebat. Diam-diam menghanyutkan. Dengan karaktermu yang selalu tenang, aku hampir tidak percaya, ternyata kamu berani membalikkan keadaan dengan begitu cepat. Memang kamu adalah bukti nyata bagaimana seorang jenderal besar sangat sulit untuk ditaklukan.” Enzo mengakhiri kata-katanya dengan senyum lebar.