
"Semoga semua berjalan lancar seperti yang sudah kamu siapkan untuk mereka my Al." Deanda berkata sambil tersenyum dengan wajah penuh harap bahwa rencana mereka membantu Evan dan Alaya bisa menikmati indahnya pernikahan mereka tanpa terganggu dengan kondisi yang ada sekarang bisa berjalan dengan lancar.
"Apa pernah rencanaku gagal sweety?" Alvero berkata sambil tersenyum dengan sikap bangga, membuat Deanda hanya bisa meringis melihat sikap narsis suaminya yang selalu terlihat begitu percaya diri dengan kemampuan dan kehebatan dirinya sendiri.
"Aku tahu... selalu berhasil dengan baik." Deanda berkata sembil tersenyum dan memeluk pinggang Alvero yagn sudah lebih dulu melingkarkan lengannya ke bahu Deanda.
"Sebenarnya ini bukan rencanaku, tapi rencana kita. Bukannya kamu yang merengek padaku untuk membantu Evan dan Alaya hari ini?" Alvero berkata dengan sedikit menundukkan kepalanya agar bisa memandang wajah istrinya yang cantik dengan lebih jelas.
"Eh... aku tidak merengek my Al. Aku meminta bantuanmu tadi... dan kamu dengan senang hati dan rela membantuku. Bahkan kamu terlihat lebih bersemangat dari aku sendiri." Deanda berkata sembil mengerlingkan matanya ke arah Alvero.
"Begitukah sweety? Kalau begitu... bagaimana kala sekarang ganti aku yang meminta bantuan padamu?" Alvero berkata sambil menggerakkan tubuh Deanda, menariknya hingga mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Memang apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu my Al? Apa kamu sendang ada masalah?" Deanda bertanya sambil menatap wajah tampan Alvero dengan wajah bertanya-tanya.
"Ada... bantu aku menidurkan kembali juniorku, dengan memberinya kegiatan olahraga yang bisa membuatnya kembali tertidur setelah dia puas." Tanpa menunggu jawaban dari Deanda, Alvero langsung melangkah maju ke depan, membuat Deanda mau tidak mau jadi berjalan mundur, sampai kedua kakinya menyentuh pinggiran tempat tidur.
__ADS_1
Setelah itu dengan gerakan lembut Alvero langsung menggerakkan tangannya di bagian punggung Deanda, agar dia bisa merebahkan tubuh Deanda di atas tempat tidur dengan hati-hati.
Astaga yang mulia! Bisa-bisanya dia meminta lagi setelah sebelum Alaya datang kami melakukannya dua kali. Apa dia belum merasa lelah? Apa karena dia selalu melakukannya dengan begitu hati-hati takut menyakiti bayi kami, sehingga dia tidak pernah merasa puas tentang hal itu? Sebenarnya darimana datangnya kekuatan yang mulia yang rasanya tidak pernah surut?
Deanda berkata dalam hati dengan mata menatap ke arah Alvero, dengan tatapan tidak percayanya.
"Tapi my Al... bayi kita...."
"Hust... aku tahu... kita akan melakukannya dengan hati-hati. Kamu boleh memegang kendali hari ini, agar kamu tahu bagaimana melakukannya dengan aman dan nyaman untukmu." Alvero berkata sambil memandangi wajah cantik Deanda, dan salah satu tangannya sibuk menjelajah kesana kemari, di balik pakaian tidur yang dikenakan Deanda, yang dalam hitungan detik sudah terlihat begitu berantakan gara-gara ulah Alvero.
Selain Deanda tidak akan tega jika harus menolak permintaan Alvero, dia sendiri, selalu saja tidak bisa berkata tidak begitu merasakan setiap sentuhan lembut dari Alvero, yang juga membuatnya tidak pernah merasa puas dan bosan, karena seperti apa yang dirasakan oleh Alvero padanya, Deanda begitu menginginkan Alvero dan penyatuan mereka yang dipenuhi dengan luapan rasa cinta setiap kali mereka melakukannya.
# # # # # #
Hah... kak Deanda dan kak Alvero benar-benar membuatku tampil berbeda dengan penyamaran ini. Tapi sungguh ide yang cemerlang. Mereka memang hebat dalam hal menyelesaikan masalah yang ada. Benar-benar layak sebagai raja dan permaisuri Gracetian dimana kebijaksanaan dan kecerdikan mereka begitu diperlukan untuk membuat negara ini aman dan makmur.
__ADS_1
Alaya berkata dalam hati sambil mengamati pakaian pelayan istana yang dikenakannya.
Saat ini memang Alaya mengenakan pakaian pelayan istana Gracetian lengkap dengan aksesoris tanda pengenal yang dipakainya di bagian dadanya, dan rambut yang dicat, sehingga menutupi warna rambut asli dari Alaya.
Deanda dan Alvero menjelaskan kalau pakain penyamaran yang paling tepat untuknya adalah pakaian pelayan istana, karena sebelumnya kepergian nyonya Rose ke penthouse Alvero juga membawa para pelayan, dan sebelum pergi, nyonya Rose menjelaskan kalau dia mendapat tugas untuk membersihkan penthouse milik Alvero, karena akan datangnya tamu penting ke sana, tanpa menyebutkan tentang siapa tamu itu.
Dengan posisi tinggi yang dimiliki oleh nyoya Rose sebagai kepala pelayan, tentu saja mereka, para pelayan yang mendengar info itu tidak ada yang berani bertanya lebih detail tentang hal itu.
Apa Evan sudah sampai di penthouse kak Alvero?
Alaya bertanya-tanya dalam hati sambil memandang ke arah jalan rahasia yang menuju penthouse, dimana dari jauh tampak penjagaan yang ketat di depan sana.
Dada Alaya saat ini begitu berdebar-debar dipenuhi dengan rasa bahagia, tidak sabar, tapi juga merasa sedikit khawatir, bercampur aduk menjadi satu, menanti pertemuannya dengan Evan dan membayangkan bagaimana berwarna bahagianya kehidupan mereka ke depannya.
NOTE: Untuk apra pembaca setia yang tercinta, mohon maaf jika beberapa hari ke depan, novel ini hanya bisa up satu episode dikarenakan adanya kesibukan di dunia nyata. Semoga para pembaca tetap menunggu dengan setia kelanjutan dari novel ini. Terimakasih untuk dukungannya selama ini.
__ADS_1