
“Ah….” Mereka berdua, baik Evan maupun Alaya mengakhiri penyatuan tubuh mereka dengan sebuah lenguhan yang menunjukkan bahwa mereka sama-sama puas dan merasa begitu menikmati penyatuan mereka barusan, lebih nikmat dari sore tadi karena baru pertama kalinya mereka melakukannya, sehingga untuk malam ini, mereka sudah lebih mengerti dan tahu cara menikmatinya dengan baik.
“Aku harap, bisa segera tumbuh calon penerus Carsten di sini.” Evan yang masih dalam posisinya mengungkung tubuh Alaya berkata lembut sambil tangannya mengelus perut rata Alaya yang masih memejamkan matanya karena kenikmatan yang masih saja terasa begitu nyata baginya, setelah dia juga melakukan pelepasannya bersamaan dengan Evan.
“I love you my princess… really-really love you. I am yours and you are mine. Your love is all I need to feel complete in life.” (Aku mencintaimu my princess… sangat-sangat mencintaimu. Aku adalah milikmu dan kamu adalah milikku. Cintamu adalahs emua yang kubutuhkan untuk merasa lengkap dalam hidup).
Evan mengakhiri percintaan mereka dengan mengecup mesra bibir Alaya dan mengucapkan kata-kata cintanya sebelum akhirnya dia merebahkan diri di samping Alaya dengan posisi miring, sehingga dia bisa memeluk sebentar tubuh Alaya sebelum dia membersihkan diri dari sisa-sisa bukti kegiatan panas mereka di kamar mandi.
“Thank u for you love to me Evan. Thank you for being my rainbow after the storm. I love you too, more than you know.” (Terimakasih untuk cintamu padaku Evan. Terimakasih karena telah menjadi pelangiku setelah badai. Aku juga mencintaimu, lebih dari yang kamu tahu).
__ADS_1
Alaya membalas kata-kata Evan sambil mengecupi lengan Evan yang langsung tersenyum dan menggerakkan tangannya, mengangkat kepala Alaya agar kepala wanitanya itu bersandar di lengan kokohnya, menunjukkan bahwa mulai saat ini, Evan akan selalu bersedia memberikan lengannya untuk Alaya bersadar, mempercayakan hidupnya dalam rengkuhan lengan itu, memberikan perlindungan sepenuhnya kepada Alaya mulai sekarang.
Dan tindakan Evan itu, sungguh membuat rasa haru yang menghantam dada Alaya, bahkan terasa begitu menyesakkan dadanya saat ini.
“Aku tahu, karena cintamu yang begitu besar, bahkan sekian tahun berlalu, kamu tetap setia menungguku dan tetap mencintaiku. Aku tahu kamu adalah wanita yang paling mencintaiku, dan aku harus memperlakukanmu dengan baik seumur hidupku.” Evan berkata sambil tersenyum dan mencium puncak kepala Alaya yang berada dalam rengkuhan lengannya, dengan tubuh masih sama-sama polos tanpa sehelai benangpun, sehingga mereka berdua bisa saling merasakan kehangatan tubuh masing-masing pasangannya.
“Mulai sekarang, aku akan selalu mencintaimu, dan tidak akan lagi pernah melupakanmu barang sedetikpun. Dan seumur hidupku, aku akan membayar saat-saat dimana aku kehilangan arah dan membuat kita terpisah begitu lama. Dan karena itu kita jadi kehilangan masa-masa indah untuk bisa kita nikmati bersama. Mulai saat ini, aku akan menjadi satu-satunya pria yang akan paling mencintaimu, melindungimu, menemanimu dalam suka dan duka, sehat dan sakit, kaya dan miskin, sampai maut memisahkan.” Evan berkata sambil mengucapkan kata-kata yang pernah dia ucapkan saat pernikahan mereka waktu itu, meski saat itu Alaya dalam kondisi tidak sadar.
“Sekali lagi, di hadapanmu, Alaya Adalvino, yang aku ambil sebagai istriku, aku mengucapkan kembali janji pernikahan kita. Sebuah janji yang sudah seharusnya kamu dengar, agar kamu tahu, aku begitu mencintaimu, dan akan menjadikan kamu satu-satunya wanita dalam hidupku….” Belum lagi selesai Evan mengucapkan kata-katanya, Alaya langsung memeluk tubuh Evan dengan wajahnya yang sebelumnya dia sembunyikan di dada Evan, untuk menyembunyikan tangisnya.
__ADS_1
Tapi kali ini, Alaya tidak ingin lagi menyembunyikan apapun dI hadapan Evan, termasuk gejolak emosi yang sedang dirasakannya saat ini.
Entah dia sedang marah, bersedih, senang, bahagia, kecewa, tidak suka, khawatir, takut, kecewa, termasuk juga cintanya, Alaya bertekad mulai sejak saat ini, tidak ada satupun yang akan dia sembunyikan lagi dari hadapan Evan, suaminya tercinta, satu-satunya laki-laki dimana dengan rela dan poenuh cinta dia sudah menyerahkan jiwa dan raganya untuk prianya itu.
Mulai saat ini, Alaya ingin selalu menunjukkan apapun yang sedang dirasakannya di hadapan Evan, yang saat ini baginya adalah segala-galanya untuknya, setengah dari nyawanya.
“Aku…. Alaya Adalvino… akan selalu… mencintai Evan Carsten, dalam segala situasi… yang kami hadapi, dan… tidak akan pernah sekalipun… menjauh darinya… dan tidak akan pernah… melepaskan tangannya dalam kondisi apapun… sampai mau memisahkan kami berdua.” Dengan suara terbata-bata dan airmata haru yang membasahi pipinya, bahkan membuat matanya tidak bisa lagi melihat wajah Evan dengan jelas, Alaya berkata sambil memeluk Evan dengan erat.
Begitu berhasil menyelesaikan kata-katanya, suara tangis Alaya semakin keras, membuat Evan menarik nafas panjang, tersenyum dengan lembut dan tak henti-hentinya mengelus kulit punggung Alaya yang masih polos dan berada dalam dekapannya.
__ADS_1
“I love you my princess… I love you. More and more… day by day, I will always love you.” Berkali-kali Evan terus mengucapkan kata-kata cintanya, yang membuat Alaya semakint erharu dan justru sulit untuk menghentikan tangisannya, meski Evan sudah berusaha menenangkannya melalui elusan lembut tangannya pada punggung mulus Alaya.
Akhirnya untuk beberapa saat Evan membiarkan Alaya memuaskan tangisnya, meluapkan perasaannya yang sekian lama terpendam karena kondisi Evan yang tak kunjung kembali padanya waktu itu, seolah tangis Alaya mewakili perasaan rcinta dan rindunya terhadap Evan yang sudah menumpuk sekian lama di dalam dadanya, dan Alaya ingin memuaskannya sekarang ini dalam pelukan Evan yang sesekali terus mengucapkan kata cintanya pada Alaya dan menciumi puncak kepala Alaya dengan mesra.