
Rasanya bagi Evan baru kali ini begitu tidak bosan-bosannya mengamati seorang gadis, yang tanpa sadar sudah membuat dadanya berdesir setiap mata mereka beradu pandang, dan mata Evan tidak ingin berhenti menatap ke arah gadis itu.
Meskipun Evan adalah sosok laki-lakin tampan yang selalu bersikap ramah dan sopan, tapi dia bukan tipe pria yang bisa dengan mudah tertarik pada seorang gadis, dan ingin berlama-lama berbincang dengan seorang gadis.
“Emmm Evan… apa sekarang aku sudah boleh bertanya?” Alaya kembali bertanya setelah dia selesai melakukan pemesanan.
Alaya berharap, sambil menunggu pesanan datang, dia bisa mengobrol dengan Evan, dan mengobati rasa penasarannya pada Evan.
“Apa yang mau kamu tanyakan padaku?” Dengan sikap tenang dan santai Evan bertanya balik kepada Alaya yang langsung meringis.
“Yang pertama… bagaimana kamu tahu siapa namaku?”
“Yang kedua?” Belum lagi Evan menjawab pertanyaan pertama Alaya, dia justru sudah bertanya balik, membuat Alaya sedikit memberengut.
“Yang pertama kan belum dijawab?” Alaya langsung menyampaikan protesnya.
“Ah ya….” Dengan pura-pura lupa, Evan berkata sambil tersenyum, senyum manis yang sampai detik ini, meskipun sudah bertahun-tahun mereka berpisah, masih saya diingat dengan jelas oleh Alaya.
Dan ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya di Gracetian, Alaya bisa melihat kalau senyum manis itu, tidak berubah sedikitpun.
“Tentu saja aku tahu, karena papaku adalah sahabat dekat mamamu dan juga uncle Alexis.” Mata Alaya langsung terlihat berbinar begitu mendengar jawaban dari Evan.
“Benarkah? Apa papamu pernah berkunjung kemari?” Dengan bersemangat Alaya berusaha mengorek keterangan tentang Evan.
__ADS_1
“Pernah beberapa kali. Tapi hanya sekali dia pernah mengajakku kesini. Karena itu aku tahu siapa namamu.”
“Eh… apa artinya itu sebelumnya kita pernah bertemu?”
“Jelas saja pernah, karena itu aku mengenalimu, meskipun sudah bertahun-tahun lalu kita bertemu. Itupun sebenarnya aku tidak begitu jelas melihat wajahmu karena kamu sedang ketakutan, setelah itu menangis sampai mukamu penuh airmata dan tidak bisa terlihat dengan jelas.” Mata Alaya langsung melotot mendengar itu.
“Yang benar saja? Untuk alasan apa aku menangis di depanmu? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?” Alaya kembali menyatakan protesnya yang berhasil membuat Evan semakin merasa gemas dan semakin betah berada di dekatnya.
“O ya? Tidak pernah?” Evan berkomentar dengan tangannya yang hampir saja bergerak ke arah Alaya dan mencubit pipinya dengan gemas.
Tapi seorang Evan yang begitu pandai mengendalikan diri, tentu saja tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu.
Jika ingin mendapatkan gadis ini, aku harus bisa mengikat hatinya terlebih dahulu, agar hatinya menjadi milikku. Dan untuk mendapatkan hatinya, aku harus membuatnya tidak bisa berpaling dariku, dan selalu berada di dekatku. Dan aku harus mendapatkannya, apapun yang terjadi.
“Waktu itu kamu sedang dibully di depan sekolahmu, ketika menunggu uncle Alexis menjemputmu….” Evan mulai menarik perhatian Alaya dengan menceritakan masa lalu, dan juga jasanya yang pernah menolong Alaya dari para teman-teman pembullynya.
“Kamu… adalah kakak laki-laki yang waktu itu? Yang memberikan pelajaran pada para pembullyku yang kurang ajar itu dengan memukul pantatnya?” Alaya dengan wajah penasarannya, langsung memotong perkataan Evan.
Dan anggukan kepala Evan membuat mata Alaya terlihat berbinar senang.
“Wah… terimakasih untuk waktu itu. Waktu melihat mereka menangis karena bokongnya kamu pukul, aku sangat senang sekali, karena ternyata masih ada orang yang membelaku, meskipun kamu tidak kenal denganku waktu itu. Karena kamu yang begitu hebat dalam beladiri, aku jadi bersemangat mengikuti pelatihan beladiri dari uncle Alexis. Apa kamu tahu… sungguh tidak mudah berlatih beladiri bersama uncle Alexis. Dia orang yang sangat disiplin dan keras dalam mengajari beladiri. Beberapa kali bahkan aku harus gagal dan harus terus mencoba. Suatu waktu, sepertinya kamu perlu berlatih bersama uncle Alexis, agar kamu tahu betapa hebatnya ucle Alexis, dan….”
Akhirnya Alaya terus bercerita tanpa henti, dengan Evan yang terus memperhatikan dan menjadi pendengar yang baik untuknya.
__ADS_1
Alaya kembali menceritakan tentang hari itu dengan wajah terlihat begitu ceria, karena memang hari itu juga merupakan hari yang bersejarah untuknya.
Selain bertemu Evan untuk pertama kalinya, ditolong Evan untuk pertamakalinya, hari itu juga pertama kalinya Alaya memiliki tekad yang begitu besar untuk berlatih beladiri.
Setelah hari itu, entah apapun alasannya, Evan selalu berusaha untuk bertemu dengan Alaya di setiap kesempatan, saat dia ada waktu luang, di tengah-tengah tugasnya melakukan penyelidikan tentang penyelundupan senjata illegal yang masuk ke Gracetian secara tiba-tiba.
Dua hari sebelum Evan kembali pulang ke Gracetian setelah menemukan jawaban atas pencariannya dan juga karena adanya sekelompok preman yang terorganisir, yang sedang berbuat onar di area kota Tavisha, Evan sempat menyatakan perasaan cintanya pada Alaya.
Bagi Evan, Alaya adalah gadis pertama yang sudah membuat hatinya bergetar dan merasakan apa itu jatuh cinta, sehingga Evan tidak ingin kehilangan Alaya barang sebentar.
Karena itu Evan sengaja menyatakan perasaan cintanya pada Alaya sebelum kembali ke Gracetian agar mereka berdua memiliki ikatan sebagai sepasang kekasih, sehingga tidak ada laki-laki lain yang memiliki hak untuk mendekati Alaya.
Dan saat itu, tanpa meminta waktu, tanpa menunda-nunda, tanpa berpikir panjang, begitu Evan selesai mengungkapkan perasaan cintanya, Alaya langsung menjawab ya, dan bersedia menjadi kekasih Evan pada saat itu juga.
Semua ingatan itu, kembali membuat Alaya ingat tentang kata-kata terkahir Evan sebelum mereka benar-benar berpisah hari itu, dua hari setelah mereka benar-benar menjadi sepasang kekasih, waktu yang sangat singkat sebelum mereka berpisah dalam waktu cukup lama, karena Evan yang tak pernah kembali muncul di hadapan Alaya, membiarkan gadis itu tetap dalam penantian panjangnya yang tidak berujung.
Aku sangat mencintaimu Alaya, tidak akan pernah ada gadis lain yang bisa membuatku jatuh cinta seperti orang gila seperti cintaku padamu. Selamanya… aku akan selalu mencintaimu, hanya kamu…. Tunggulah sampai aku menyelesaikan masalah keamanan di Gracetian, setelah itu aku akan kembali padamu, dan memperkenalkan diri secara resmi kepada mamamu sebagai laki-laki yang mencintaimu, dan membawamu ke negara kelahiranku Gracetian, dan memperkenalkanmu kepada mamaku.
Setiap kali mengingat kata-kata terakhir Evan yang begitu manis dan meyakinkan sebelum mereka berpisah waktu itu, selalu berhasil membuat Alaya begitu bersemangat untuk menjalani penantiannya.
Apalagi, setiap kali ada berita tentang Evan yang diketahui oleh Alaya, dia melihat, tidak pernah sekalipun Evan terlibat berita sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis, sampai Alaya mengejarnya ke Gracetian.
Dan setelah statusnya kembali sebagai putri Gracetian, Alaya justru menemukan kenyataan pahit bahwa Evan benar-benar sudah melupakannya, dan terdengar kabar yang dibenarkan oleh Enzo sebagai sepupunya, bahwa Evan sempat begitu menyukai Deanda, istri dari Alvero, kakak kandungnya.
__ADS_1