
Meeting hari ini benar-benar membuat Evan jenuh, sehingga beberapa kali mata hijau Evan tampak melirik ke arah handphonenya, seolah saat ini dia justru sangat berharap ada seseorang yang tiba-tiba melakukan panggilan telepon padanya, atau memberikannya sebuah pesan penting, agar dia bisa mendapatkan alasan untuk bisa segera menghentikan pembicaraannya dengan earl Jerkin.
Evan benar-benar merasa bosan dan tidak nyaman, karena earl Jerkin yang terus menerus menyampaikan tentang keluhannya terhadap peraturan baru Evan tentang sistem keamanan di perbatasan, yang bagi earl Jerkin, membuat bisnisnya menurun karena beberapa barang-barang import yang biasa bisa didapatkannya dengan mudah, sekarang jadi mendapatkan pembatasan karena aturan baru dari Evan.
Evan sendiri sengaja melakukan itu untuk memperketat masuknya barang-barang dari luar negeri yang beberapa diantaranya ternyata adalah barang-barang selundupan, dan juga barang-barang yang tidak sesuai dengan standar atau barang-barang dengan kelengkapan dokumen yang kurang, sehingga Evan mencurigai bahwa ada kerjasama yang tidak benar antara orang-orang Gracetian yang bertugas di perbatasan dengan para pengimport itu.
Setelah kelompok pemberontak di bawah kepemimpinan Eliana dan Rolland berhasil dikalahkan dan dibekuk waktu itu, Evan yakin beberapa kaki tangan mereka yang bukan merupakan prajurit yang ikut berperang waktu itu, masih tersebar di berbagai sudut negara Gracetian.
Karena itu, Evan tidak ingin suatu saat mereka kembali menyusun kekuatan mereka untuk memberontak, sehingga sebisa mungkin, Evan terus menyisir setiap tempat yang baginya mencurigakan untuk benar-benar melumpuhkan sisa-sisa kekuatan para pemberontakan di segala bidang, termasuk perdagangan dengan luar negeri.
Evan tahu kalau earl Jerkin bukanlah kaki tangan Elliana, tapi Evan juga tahu, dia banyak berhubungan dengan orang-orang yang dulunya merupakan pendukung Eliana untuk mendapatkan keuntungan pribadi, agar bisa memperkaya dirinya sendiri.
Hal itu membuat Evan tidak respect terhadap sosok earl Jerkin, apalagi selain terus menerus mengeluh, earl Jerkin selalu menyodor-nyodorkan anak gadisnya agar Evan mau berkenalan dengannya, dan yang pasti Evan sadar maksud dari earl Jerkin adalah untuk menjodohkan anak gadisnya dengannya.
Putri Alaya Adalvino? Apa benar ini nomer gadis itu? Tapi mana berani seseorang tiba-tiba mengklaim dirinya sebagai putri Alaya dan meminta bertemu denganku? Rasanya hanya orang gila yang berani melakukan hal senekat itu di negara ini.
__ADS_1
Dengan berkata dalam hati, mata Evan sedikit terbeliak melihat kata-kata pertama dari pesan itu. Dan keningnya langsung mengernyit ketika membaca kata-kata selanjutnya yang mengatakan tentang keinginan Alaya untuk bertemu dengannya.
Eh, tapi kenapa tiba-tiba adik dari yang mulia Alvero ingin bertemu denganku? Apa ada sesuatu yang genting yang sudah terjadi di istana saat ini? Tapi tidak mungkin tidak ada laporan apapun tentang hal itu, jika memang ada sesuatu yang terjadi disana.
Tanpa memperdulikan ocehan dari earl Jerkin, Evan mulai menebak-nebak apa maksud Alaya ingin menemuinya.
“Maaf earl Jerkin, ada hal penting yang harus saya kerjakan sekarang. Untuk semua keluhan earl Jerkin, asisten pribadiku yang akan membantu mencatat semuanya itu.” Evan berkata sambil memberikan tanda kepada Sam, yang merupakan asisten peribadinya, yang sedari tadi berdiri dengan sikap siap siaga di samping temapt Evan duduk.
“Eh, tapi Duke Evan….”
“Dan mungkin Anda bisa langsung menghubungi tuan Sam jika masih ada keluhan yang ingin Anda sampaikan earl Jerkin.” Evan kembali menambahkan kata-katanya, tanpa perduli dengan wajah bingung Jerkin yang tiba-tiba saja seperti diusir secara halus oleh Evan.
Dan kali ini Evan tidak merasa bersalah karena sebenarnya, Jerkin sendiri sudah melewati batas waktu janji temu yang sudah ditetapkan dari awal dengannya.
“Duke Evan, begini, ada satu hal paling penting yang masih ingin saya sampaikan. Masalah Ramona….”
__ADS_1
“Maaf, karena urusanku kali ini sangat mendesak, aku tidak bisa lagi berlama-lama dengan Anda earl Jerkin. ” Evan langsung memotong perkataan earl Jerkin kembali begitu mendengar laki-laki itu mulai menyebutkan nama Ramona, anak gadis kebanggaannya yang selalu dia unggul-unggulkan di depan Evan.
“Eh, Duke Evan….”
“Silahkan Earl Jerkin, duke Evan ada urusan penting yang harus diselesaikannya sekarang, dan urusan itu tidak bisa ditunda.” Sam seabgai asisten Evan, dengan sigap memberikan tanda melalui tangannya mempersilahkan earl Jerkin untuk keluar dari ruangan Evan.
Seperti biasanya, Sam yang sudah cukup lama menjadi tangan kanan Evan, bisa langsung mengerti tentang apa yang diinginkan Evan, meskipun Evan tidak menjelaskan dengan detail apa yang diinginkannya pada Sam.
Earl Jerkin sendiri, akhirnya hanya bisa pasrah begitu Sam memintanya untuk mengikutinya pergi meninggalkan ruangan Evan, karena bagaimanapun earl Jerkin tahu kalau Sam juga merupakan seorang earl, sehingga dia tidak mungkin bersikap kasar atau tidak sopan pada Sam.
“Huft…” Begitu earl Jerkin keluar dari ruangannya, Evan langsung mengehembuskan nafasnya melalui bibirnya dengan wajah lega, seolah dia baru saja terlepas dari sebuah masalah besar.
Setelah itu, sambil tersenyum, Evan langsung meraih handphonenya, untuk membalas pesan dari Alaya.
Selamat siang putri Alaya. Kita bisa aturkan waktu yang terbaik untuk itu. Kira-kira kapan putri Alaya ada waktu untuk bertemu denganku? Aku akan berusaha untuk mengatur jadwalku agar bisa sesuai dengan jadwal putri Alaya.
__ADS_1
Balasan pesan dari Evan, membuat Alaya langsung tersenyum lebar.