Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
AFTERNOON TEA


__ADS_3

"Hah, Alvero benar-benar ingin menunjukkan perasaannya kepadamu saat dia menetapkan batu mulia yang tersusun di mahkotamu Deanda." Cladia berkata sambil tersenyum ke arah Deanda, yang terus terang tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Cladia padanya.


“Apa maksudnya menunjukkan perasaan melalui batu mulia?” Deanda langsung bertanya kepada Cladia.


“Setiap batu mulia, memiliki artinya sendiri, seperti bunga mawar dan melati yang memiliki arti yang berbeda. Bahkan sama-sama mawar, dengan warna yang berbeda, akan memiliki arti yang berbeda pula, sama dengan batu mulia.” Cladia mulai memberikan penjelasannya kepada Deanda.


"Salah satu batu mulia yang digunakan Alvero untuk membuat mahkotamu adalah blue diamond, batu permata paling legendaris yang pernah ada di dunia, selain batu mulia langka yang memang hanya dihasilkan oleh negara Gracetian. Beberapa batu mulia lainnya berupa zamrud dan peridot, yang meskipun di mahkota ini ukurannya tidak sebesar blue diamond, tapi makna dari batu mulia ini pasti ada hubungannya dengan perasaan Alvero padamu." Lagi-lagi Cladia berkata sambil tersenyum mengingat bahwa zamrud dianggap sebagai simbol cinta sejati yang mengikat pasangan, harapan dan kesetiaan, dan juga membawa kebijaksanaan bagi pemakainya.


(Peridot adalah batu permata berwarna hijau kekuningan, dan peridot diyakini dapat menyembuhkan masalah sistem pencernaan, ginjal, dan hati. Batu permata ini berpengaruh positif terhadap kesejahteraan psikologis juga. Selain itu, membantu melawan depresi dan emosi negatif. Peridot adalah simbol martabat, kebenaran, kesetiaan, serta cinta dan kesetiaan).


Begitu Cladia menjelaskan tentang semua arti batu mulia itu, sebuah senyum lebar tersungging di wajah Deanda dengan wajah sedikit memerah, karena tidak menyangka kalau batu-batu itu memiliki arti yang begitu dalam seperti yang dikatakan oleh Cladia barusan.


# # # # # #


Alvero yang baru saja melirik ke arah jam di pergelangan tangannya langsung menyunggingkan senyumnya begitu melihat kehadiran Deanda dan yang lain ke arah taman yang biasanya digunakan untuk acara afternoon tea kerajaan.


Setelah puas mengelilingi sebagian istana Gracetian, meskipun tidak sampai seperempatnya, semua wanita cantik itu segera berganti pakaian dan menyusul para prianya yang sedang bersiap mengikuti acara afternoon tea.

__ADS_1


“Apa kalian sudah puas menikmati keindahan istana Gracetian?” Ornado yang melihat kedatangan Cladia segera menggerakkan tangannya, meraih pergelangan tangan Cladia dan sedikit menariknya, membawanya Cladia mendekat ke arahnya.


“Belum….” Jawaban singkat dari Cladia membuat Ornado mengernyitkan dahinya.


“Bagaimana aku bisa puas kalau yang aku lihat masih sebagian kecil dari istana Gracetian?” Perkataan Cladia membuat Ornado menahan nafasnya, sedang Laurel langsung meringis.


“Ad, itu kode-kode kalau Cladia ingin lebih lama tinggal di Gracetian.” Laurel segera berkata sambil menahan senyum gelinya, apalagi meliaht wajah Ornado langsung terliaht tidak tenang padahal biasanya, tidak banyak hal yang bisa merubah sikap dingin Ornado.


“Apa itu benar amore mio?”


“Iya sih, tapi aku tidak mau kalau tidak ada kamu bersamaku. Hari-hari ini adalah waktu yang sibuk untukmu karena sedang ada perbaikan sistem management, sehingga tidak mungkin kamu pergi berlibur terlalu lama. Jadi dilain waktu kita berkunjung lagi kesini.” Perkataan bijak dari Cladia, membuat Ornado langsung menarik nafas lega.


“Hallo Alaya, apa kamu sudah bangun dari mengerammu di kamar?” Alvero langsung menyapa Alaya dengan godaannya begitu mengangkat panggilan telepon dari adik tersayangnya itu.


“Memangnya aku induk ayam? Dibilang mengeram?” Di seberang sana Alaya berkata sambil memayunkan bibirnya karena olok-olok Alvero yang menyamakannya dengan induk ayam.


“Aku hampir tidak bisa membedakannya karena kamu begitu sulit dibubungi dan menurut info, kamu tidak keluar kamar sama sekali. Aku bahkan hampir mengirimkan Ernest dan Erich untuk mendobrak kamar yang kamu tempati, untuk memastikan kamu baik-baik saja di dalam sana.” Tanpa perduli protes dari Alaya, Alvero melanjutkan godaannya kepada Alaya yang hanya bisa meringis.

__ADS_1


Membayangkan Alvero benar-benar mengirimkan Ernest dan Ercih untuk mendobrak pintu kamar yang ditempatinya, membuat Alaya bergidik ngeri.


“Memang apa yang bisa terjadi padaku? Bukannya selama ini aku baik-baik saja?”


“Baik-baik saja? APak amu tidak ingat sudah pingsan berhari-hari dan membuat Evan mengucapkan janji pernikahannya tanpa didengar langsung oleh pengantinnya?” Jawaban Alvero membuat Alaya hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Kenapa kamu mencariku?” Alvero yang tahu sebentar lagi waktunya dia membuka acara afternoon tea langsung mengalihkan pembicaraannya.


“Eh… itu… jam berapa kira-kira kalian datang ke tempat ini?”


“Kenapa? Apa kamu masih butuh waktu berduaan dengan Evan? Kalian belum merasa puas?” Pertanyaan Alvero pada Alaya lagi-lagi membuat Alaya bingung untuk menjawabnya.


“Bukan begitu Kak… Cuma ingin tahu saja supaya kami bisa bersiap-siap dan tidak kaget dengan kedatangan kalian.” Alaya berkata dengan suara ragu.


“Setelah acara afternoon tea, kami akan segera berangkat ke sana. Masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi sebelum kami tiba di sana. Masih ada cukup waktu bagimu dan Evan untuk mencetak duke Carsten junior sebelum kami datang. Jangan lupa kunci rapat-rapat pintu kamar kalian.” Dengan santainya Alvero berkata kepada Alaya, membuat mata Alaya terbeliak sempurna karena kaget.


Untung saja Evan sedang tidak ada di dekat Alaya, sehingga laki-laki tampan bermata hijau itu tidak akan bertanya macam-macam pada Alaya karena penasaran dengan pembicaran Alaya dengan Alvero.

__ADS_1


Dan kebetulan, hanya ada Deanda yang ada di dekat Alvero yang sedang melakukan panggilan pada Alaya, sehingga pembicaraan Alvero dengan Alaya tidak didengar orang lain.


__ADS_2