
Saat ini, semua mata langsung fokus, memandang ke arah pintu masuk dengan wajah yang terlihat begitu penasaran, dengan pikiran mereka masing-masing yang berbeda satu sama lainnya.
Alvero sungguh mengharapkan tamu yang baru datang itu adalah Evan, sebaliknya dengan Christopher, dia sangat berharap kalau sampai semuanya selesai, Evan tidak perlu mununjukkan barang hidungnya barang sebentar di tempat ini.
Alaya sendiri, masih sibuk berkutat dengan pikirannya yang masih merasa begitu jengkel dengan Christopher yang melamarnya secara tiba-tiba dan merusak kehidupan damainya.
Dan di sisi lain, Alaya juga masih merasa jengkel dengan sikap Evan yang tanpa keberatan menerima rencana perjodohan mereka berdua.
Tidak mungkin itu duke Evan kan? Aku sudah menyusun rencana yang cukup matang untuk membuatnya tidak bisa datang ke istana hari ini, sampai pembicaraanku dengan yang mulia Alvero selesai. Akan lebih mudah bagiku untuk memaksa yang mulia Alvero memikirkan kembali lamaranku jika tidak ada duke Evan di tempat ini.
Christopher berkata dalam hati sambil membayangkan apa yang sudah dia lakukan beberapa waktu lalu, saat dia memerintahkan para bawahannya untuk mengatur bagaimana agar perjalanan Evan bermasalah dan menghalangi laki-laki itu untuk bisa sampai di istana tepat waktu.
Christopher yang ikut memandang ke arah pintu masuk ruangan itu sedikit menahan nafasnya,
“Selamat malam Yang Mulia Vincent, Ibu suri Larena.” Sosok Erich yang datang mengantar Larena dan Vincent, langsung membuat Ernest menyapa mereka berdua sambil memberikan salam penghormatannya kepada mereka.
“O, Anda berdua sudah datang? Putra Mahkota Christopher Anda pastinya tidak akan keberatan kan dengan kehadiran yang mulia Vincent dan ibu suri Larena dalam yang ingin bergabung dengan kita?” Alvero langsung berkata dengan sikap hormat kepada kedua orangtuanya itu.
__ADS_1
“Tentu saja tidak Yang Mulia Alvero, karena bagaimanapun mereka berhak ikut serta dalam pembicaraan kita karena mereka adalah orangtua kandung dari putri Alaya. Saya justru merasa terhormat karena mereka bisa ikut bergabung bersama dalam pembicaraan kita malam ini.” Christopher langsung menjawab pertanyaan Alvero dengan sikap percaya diri, tanpa menyadari bahwa kehadiran kedua orangtuanya itu adalah keinginan dari Alvero, yang memang sudah direncanakannya.
Meskipun sebenarnya, pada awalnya Vincent dan Larena merasa tidak perlu ikut hadir dalam pembicaraan itu, dan menyerahkan semuanya kepada Alvero, yang mereka yakin lebih dari mampu untuk mengurus hal penting seperti itu.
Beberapa waktu lalu, Alvero memang sengaja mengirimkan pesan kepada Larena dan Vincent untuk ikut bergabung di tengah-tengah pembicaraannya dengan Christopher.
Selain karena mereka berdua adalah orangtua kandung Alaya, namun di sisi lain, Alvero ingin mengulur-ulur waktu sambil menunggu kedatangan Evan ke istana.
Entah apa yang terjadi pada duke Evan saat ini, tapi aku berharap dia dalam kondisi baik-baik saja, dan dia bisa segera datang ke tempat ini.
Christopher sendiri tampak langsung menyungingkan senyum lega begitu melihat siapa yang baru saja datang, Vincent dan Larena yang justru dnegan tiba-tiba memberinya ide untuk membuat Alvero mau memikirkan kembali masalah penolakannya.
Ernest sendiri, begitu berencana menutup kembali pintu ruang kerja Alvero, tempat mereka berada sekarang ini, tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya begitu melihat sosok Alexis yang sedang bergerak dengan terburu-buru ke arah ruangan itu.
Yang membuat mata Ernet tampak membulat sempurna adalah ketika dia melihat siapa yang sedang berada di samping Alexis, berlari-lari kecil dengan gerakan bergegas juga.
Dan orang itu adalah Evan, dengan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan, namun dengan gerakan cepat, sambil tetap berlarian, Evan menyunggar rambutnya yang berwarna keemasan itu dengan jari-jari tangannya, agar terlihat lebih rapi, meskipun tidak bsia serapi penampilan Evan biasanya.
__ADS_1
“Selamat malam Duke Evan.” Suara sapaan Ernest kepada Evan, yang juga didengar oleh Alvero dan yang lainnya yang ada di ruangan itu, lansung membuat semua yang ada di sana menoleh kembali secara bersamaan ke arah pintu masuk ruangan itu.
Senyum di wajah Christopher yang sebelumnya terlihat begitu manis dan bersemangat langsung hilang begitu saja begitu dia mendengar Ernest menyebutkan nama Evan.
Tidak mungkin….
Chistopher berkata dalam hati dengan tatapan mata tidak percaya, memandang ke arah pintu masuk, dimana beberapa detik kemudian, Evan dengan senyum lebar di wajahnya, berjalan dengan sikap elegan dan berwibawa, memasuki ruang kerja Alvero, dengan kedua tangannya menutup kembali kancing jasnya yang tadinya sengaja dia buka, ketika dia mengendarai sepeda motor dan berlarian masuk ke dalam istana, untuk memenuhi janjinya pada Alvero.
Begitu melihat sosok Evan benar-benar berjalan memasuki ruangan itu dengan langkah-langkah yang terlihat pasti dan tenang, membuat wajah Christopher tidak bisa menyembunyikan sikap kecewanya.
Karena mau tidak mau, Christopher harus mengakui bahwa kehadiran Evan saat ini merupakan bukti dari kegagalan usaha yang dilakukan oleh anak buahnya untuk menghalangi Evan datang ke istana.
Tanpa disadari oleh yang lain, melihat kenyataan itu membuat rahang Christopher terkatup erat, merasa kecewa sekaligus ingin memarahi dan menghukum semua orang yang bertanggung jawab atas tugas gagal yang diberikannya itu.
“Selamat malam Yang Mulia, maaf saya datang terlambat.” Begitu masuk dan berjalan mendekat ke arah mereka yang sedang berkumpul, Evan segera menyapa Alvero dan memberikan salam penghormatannya pada raja Gracetian yang langsung tersenyum lega tersebut begitu melihat sosok Evan.
Alaya sendiri, tanpa disadari oleh dirinya sendiri , hampir saja bangkit berdiri untuk membantu Evan merapikan pakaian yang dikenakannya, yang terlihat sedikit berantakan di bagian kerah di lehernya, karena terpaan angin kencang ketika Evan tadi mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang boleh dibilang tidak pelan sama sekali, akan tetapi sangatlah kencang.
__ADS_1