Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
PERINGATAN DARI ERICH


__ADS_3

“Apa benar yang dikatakan oleh Erich? Apa yang terjadi pada putri Tira? Apa ada yang sedang mengganggu pikirannya?” Ernest bergumam pelan sambil menoleh ke belakang, dimana sosok Tira sebenarnya sudah menghilang dari pandangan matanya, namun masih menyisakan rasa penasaran dalam hati Ernest, sekaligus merasa khawatir kalau-kalau memang terjadi sesuatu yang buruk pada Tira.


"Ernest! Ayo! Fokus!" Seolah tahu kalau Ernest sedang memikirkan Tira dan membuatnya melamun lagi, Erich langsung memanggil Ernest kembali, sehingga dengan cepat Ernest menyusul Erich sambil berlarian ke adah saudara kembarnya itu, berusaha mengalihkan pikirannya dari Tira yang sebenarnya sedikit sulit untuk dilakukannya.


"Dengarkan aku baik-baik Ernest, jangan memulai sesuatu yang jelas-jelas hanya akan menyakitimu. Dan kamu tahu, aku akanb sulit memaafkan orang yang berani menyakitimu. Jadi aku harap jangan membuat aku bermusuhan dengan putri Tira karena kamu sakit hati padanya." Dengan suara tegas, Erich langsung berkata dengan suara tegas dan wajah serius.


Setelah mengucapkan kata-katanya pada Ernest, Erich tampak mengatupkan gerahamnya dengan cukup erat, sehingga Ernest bisa melihat otot-otot yang menonjol di pipi Erich, yang Ernest tahu, sedang berusaha menahan dirinya untuk tidak mengucapkan kata-kata yang terdengar lebih pedas pada Ernest, untuk menunjukkan tidak setujunya Ernest mengembangkan perasaannya pada gadis yang dianggapnya kurang tepat.


Bukan karena Tira bukan gadis baik-baik, justru Erich tahu bahwa Tira adalah putri cantik yang baik hati dan tidak pernah berbuat yang aneh-aneh seperti putri-putri yang lain termasuk putri Desya di masa lalu.


Akan tetapi bagi Erich, status Tira yang jauh lebih tinggi dari dia dan Ernest yang hanya seorang knight, membuat Erich merasa akan terlalu banyak rintangan bagi Ernest jika dia nekat untuk membiarkan perasaannya berkembang terhadap Tira.


Status knight, adalah tingkatan kebangsawanan paling rendah dibandingkan dengan bangsawan lain, karena umumnya status knight didapat oleh seseorang dari kalangan rakyat biasa yang diberikan pada seseorang yang berjasa besar yang biasa diraih oleh seorang pengawal atau tentara yang bertugas dalam istana, dan biasanya berhubungan dekat dengan para pangeran, putri atau raja.


Di dalam kententaraan, status knight dianggap cukup bergengsi karena raja atau putra mahkota sendiri yang memberikan status itu pada seseorang. Tapi beberapa bangsawan lain menganggap itu bukanlah status bangsawan yang asli yagn diturunkan dari nenek moyang yang memiliki darah bangsawan sejak awal, sehingga beberapa diantara bangsawan yang ada seringkali meremehkan posisi para knight.


Meskipun beberapa diantara mereka tidak berani secara terang-terangan menunjukkan itu, karena seorang knight pasti memiliki hubungan dekat dengan putra mahkota atau raja Gracetian.

__ADS_1


Melihat sikap Erich, Ernest hanya bisa menghela nafasnya, karena dia tahu Erich tidak bersalah berkata seperti itu.


"Jangan khawatir Erich, aku tidak akan berani melanjutkan...." Suara Ernest terhenti secara tiba-tiba karena sosok Evan yang terlihat berjalan beriringan bersama dengan Enzo.


"Selamat malam Duke Evan, Pangeran Enzo." Ernest dan Erich langsung mengucapkan salamnya begitu melihat sosok Evan yang sedang berjalan ke arah mereka bersama dengan Enzo.


"Selamat malam Ernest, Erich...." Dengan sikap tenang, Evan langsung memanggil nama Ernest dan Erich dengan bahasa santai, membuat Ernest langsung membalas sapaan akrab itu dengan senyumnya.


"Yang mulia Alvero meminta kami untuk menyambut kedatangan Duke Evan dan...."


"Putri Alaya... eh, maksudku duchess Alaya sudah pergi lebih dahulu ke kolam ikan. Mungkin lewat jalan lain sehingga tidak bertemu kalian berdua." Enzo langsung memotong perkataan Ernest yang tersenyum begitu mendengar itu.


"Baik Pangeran Enzo...." Ernest langsung menjawab perkataan Enzo dengan sikap hormat.


"Sebaiknya kita berpisah di sini, kamu jaga akses menuju kolam ikan di sebelah utara, dan aku akan berjaga di sebelah timur." Begitu Enzo dan Evan berlalu, Ernest segera mengajak Erich untuk berpencar, karena merek amemang diberikan tugas oleh Alvero, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang akan melewati area kolam ikan, tempat mereka akan melakukan pembicaraan penting di sana.


Dan karena akses jalan menuju kolam ikan itu memang ada dua, Ernest langsung membaginya dengan Erich.

__ADS_1


"Ya." Hanya dengan satu kata singkat Erich berkata dan langsung pergi ke tempat yang merupakan bagian dari tugasnya.


# # # # # #


"Kamu sepertinya benar-benar sulit untuk dikalahkan, bahkan dalam hal beradu perkataan, seperti kata Alvero, kamu orang yang cukup tangguh." Enzo kembali memulai pembicaraan tentang Evan yang baginya memang sulit untuk dikalahkan, seperti dia yang selama ini sulit untuk mengalahkan Alvero.


"Itu hanya perasaanmu saja, di bidang yang dikuasai olehmu, aku pasti tidak ada apa-apanya, seperti misalnya bisnis perhotelan. Aku benar-benar buta jika tentang itu. Jika aku diberi kepercayaan untuk mengelola sebuah hotel, seberapa besar dan kuatnya hotel itu, pasti aku akan membuatnya bangkrut dalam hitungan bulan." Perkataan Evan membuat Enzo tertawa kecil.


"Kamu sungguh pintar membuat orang lain merasa tersanjung. Kamu bersikap seolah-olah tidak memiliki kemampuan padahal orang juga tahu, kalau bisnis keluarga Carsten yang melebar sampai ke luar negeri menjadi sukses dan besar karena campur tanganmu juga. Apalagi sebentar lagi kamu akan mendapat bantuan dari Alaya yang aku yakin akan membuat bisnismu semakin meraksasa. Kamu terlalu merendah Evan." Enzo berkata sambil mencebikkan bibirnya.


"Kamu memiliki karakter yang hebat seperti Alvero, berbakat dan sukses dalam pemerintahan, tapi juga dalam urusan bisnis. Sepertinya, Duke Evan akan bisa menjadi teman yang bisa membantuku untuk melawan Alvero. Setelah ini, dengan kehadiranmu dalam istana, Alvero akan menemukan lawan yang seimbang baginya. Kamu ternyata bisa menjadi lawan yang tangguh untuk Alvero." Evan langsung menoleh begitu mendengar perkataan Enzo.


"Maaf Pangeran Enzo, mungkin Anda salah sasaran, mana bisa dan mana berani aku sebagai adik ipar dari yang mulia Alvero menjadi temanmu untuk melawan dia?" Evan berkata, bertepatan dengan Alvero yang sedang menoleh ke arahnya setelah mendengar namanya disebut-sebut dalam pembicaraan Evan dan Enzo.


“Kenapa dengan kalian berdua? Kenapa berbisik-bisik seperti sedang membicarakan orang lain?” Alvero langsung bertanya dengan tatapan mata melihat ke arah Enzo dan Evan, begitu raja muda yang tampan itu melihat mereka berdua seperti saling berbisik satu dengan yang lain sambil melihat ke arahnya.


“Wah… ternyata insting Alvero kuat juga, sampai dia sadar kita sedang membicarakannya.” Enzo berkata pelan ke arah Evan dengan mendekatkan kepalanya ke telinga Evan.

__ADS_1


“Yang kamu lakukan sekarang justru akan membuat Alvero semakin merasa sudah dibicarakan oleh kita berdua.” Evan menanggapi kata-kata Enzo tanpa menoleh ke arahnya, matanya tetap memandang lurus ke depan, melihat ke arah Alvero yang tampak tidak sabar menunggu mereka untuk mendekat.


“Jangan terlalu sensitif Alvero...." Enzo berkata sambil mendekati Alvero, berdiri tepat di belakang Alvero, lalu memijat kedua bahu Alvero dengan tangannya.


__ADS_2