Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MENJAGAMU


__ADS_3

"Oke, aku akan memberitahu tentang permintaanmu itu pada mama Larena dan tuan Alexis, dan akan segera memberikannya padamu. Aku sendiri juga merasa penasaran dengan sosok Alaya ketika masih kecil hingga dia dewasa. Aku juga akan mengaturnya juga agar bisa digunakan sebagai koleksi di museum dan perpustakaan istana. Semoga mereka menyimpan foto-foto yang kamu minta itu." Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya, dan seperti biasanya, langsung mengulurkan tangan ke arah Deanda yang bergegas menyambut uluran tangan itu.


"Evan, tolong beritahukan pada kami jika Alaya terbangun...."


"Langsung saja hubungi aku, meskipun selarut apapun itu. Kamu hanya perlu mengirimkan pesan padaku, atau menelponku, biar aku yang memberitahu Deanda tentang info darimu. Aku juga masih bangun kok di jam itu." Dengan cepat Alvero memotong perkataan Deanda, untuk memperjelas kepada Evan agar dia tidak lagi mengirimkan pesan malam-malam kepada Deanda seperti kemarin.


Evan langsung tersenyum mendengar teguran halus dari Alvero yang sedikit menyindirnya itu.


"Baik, aku akan selalu mengingat itu dengan baik mulai sekarang." Dengan sikap santai, akhirnya Evan menanggapi perkataan Alvero yang langsung tersenyum lega tanpa bisa dia tutup-tutupi.


"Silahkan...." Dengan seikap hormat, meskipun Evan sudah memanggil nama Alvero dengan santai, Evan merentangkan tangannya untuk mempersilahkan Alvero dan Deanda untuk berjalan meninggalkan ruangan yang baru saja mereka gunakan untuk berbincang-bincang.


"My Al... kenapa sifat pencemburumu itu tidak berkurang sedikitpun? Masa hal sekecil itu kamu ributkan?" Deanda langsung berbisik pelan begitu melihat sosok Evan yang sudah berada cukup jauh di depan mereka berdua.


"Apa maksudmu? Sikap pencemburu padaku? Kapan aku cemburu?" Alvero dengan santainya berbisik balik ke arah Deanda yang langsung melotot begitu mendengar tanggapan dari Alvero yang sikap pencemburunya kadang membuatnya menjadi canggung.


"Ist... My Al...." Suara Deanda yang memanggilnya dengan berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar keras, menunjukkan protesnya, langsung membuat Alvero menoleh ke arah Deanda.


"Apa kamu menuduhku pencemburu karena kejadian semalam?"

__ADS_1


"Iya...." Dengan wajah serius, Deanda langsung menjawab pendek pertanyaan dari Alvero.


Evan sendiri, begitu mendengar perdebatan kecil antara Alvero dan Deanda yang justru memperlihatkan kemesraan mereka, segera tersenyum sambil menarik nafas panjang, dengan kedua kakinya yang bergerak semakin cepat agar dia tidak perlu mendengarkan pembicaraan pasangan suami istri yang bagi Evan terlihat jelas sedang dimabuk cinta itu.


"Mmmm... kejadian semalam ya? Kejadian yang mana maksudmu? Coba aku ingat-ingat lagi.... Tapi rasanya aku sudah lupa ada kejadian apa semalam. Bagaimana kalau nanti malam kita mengulang kembali kegiatan kita seperti kemarin malam supaya aku bisa mengingatnya lagi dengan baik?" Mata Deanda langsung melotot mendengar perkataan Alvero yang jelas-jelas mengarah pada kegiatan percintaan mereka yang berulang hingga dua kali semalam, bukan tentang pesan Evan kemarin malam.


"My Al... kamu ini benar-benar... ah sudahlah, pokoknya aku yakin kamu tahu apa maksudku." Deanda berkata sambil mengalihkan pandangan matanya dari wajah Alvero, dengan wajahnya yang sudah memerah karena lagi-lagi, Alvero tidak pernah bosan-bosannya membicarakan tentang kegiatan pribadi mereka berdua itu setiap ada kesempatan.


Kegiatan intim dan panas yang sudah menjadi candu bagi Alvero, dan membuat Deanda tidak pernah merasa keberatan karena Alvero hanya candu pada dirinya, tidak ada wanita lain selain dirinya.


Mengingat itu membuat sebuah senyum bahagia tapi juga malu-malu tersungging di bibir Deanda, yang dengan tiba-tiba meraih lengan Alvero, dan memeluknya erat dengan kedua tangannya, membuat Alvero yang awalnya sedikit kaget, namun langsung menggerakkan tangannya ke arah kepala Deanda, menarik kepala itu agar sedikit bersandar di lengannya dengan kedua tangan Deanda bergelayut manja dan mesra di lengan Alvero.


Jika ditanya kenapa bisa begitu, Deanda benar-benar tidak bisa menjawabnya, tapi yang pasti, dia sangat senang melakukan itu saat di dekat Alvero, laki-laki yang semakin hari semakin membuatnya merasakan rasa cinta yang begitu besar kepada suaminya itu, hingga membuatnya rela melakukan apapun untuk Alvero.


# # # # # # #


Begitu memasuki ruang kamar tidur pribadinya, Evan tampak termenung sebentar di dekat pintu masuk.


Semua dokter dan perawat baru saja keluar dari ruangan itu sesuai dengan perintah Evan yang memang sudah selesai melakukan banyak aktifitas sepanjang hari ini, dan ingin beristirahat.

__ADS_1


Mulai hari ini, Evan memutuskan untuk dia sendiri yang akan menemani Alaya sepanjang malam, tidur di tempat tidur yang sama dengan Alaya yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Karena itu Evan sengaja meminta para tim medis untuk keluar, dan berjaga-jaga di ruangan lain yang sudah dia siapkan, tidak jauh dari kamar tidurnya, sehingga jika sewaktu-waktu ada perubahan pada kondisi Alaya, Evan bisa segera memanggil mereka agar bisa memeriksanya, memastikan semua baik-baik saja.


Sebelum benar-benar meminta mereka untuk keluar dari kamarnya, Evan sengaja meminta para dokter untuk menjelaskan padanya secara detail, apa yang harus dilakukan selama dia menjaga Alaya.


Untung saja dokter mengatakan kalau sejak kemarin malam panas tubuh Alaya sudah stabil, sehingga boleh dibilang, Alaya sudah benar-benar melewati masa kritisnya, dan tinggal menunggu saat gadis cantik itu terbangun dari tidurnya.


Sebelum mendekat ke arah tempat tidur, mata Evan sekilas memandang ke sekeliling kamarnya yang sudah kembali bersih, setelah tadi siang kamar itu menjadi saksi atas pernikahan Evan dan Alaya dengan semua dekor yang membuatnya tampak indah sebagai kamar pengantin.


Begitu prosesi pernikahan mereka berdua selesai dilakukan, Evan memang dengan sengaja meminta orang untuk segera membersihkan dan membereskan kembali kamarnya dari semua dekorasi yang tadi dipasang, yang sebagian besar diantaranya adalah bunga hidup, agar tidak mengganggu keberadaan Alaya.


Apalagi sosok Evan yang terbiasa hidup disiplin, dengan benda-benda di serkitarnya tertata rapi, tidak suka jika karena semua dekor bunga hidup yang indah itu membuat kotor kamarnya karena rontokan baik dari kelopak bunga maupun daun bunga-bunga itu.


Begitu selesai memandang ke sekelilingnya dan tampak puas dengan hasil kerja para pelayannya, Evan yang masih mengenakan pakaian resminya tampak berjalan ke arah tempat tidur, dimana Alaya masih terbaring, dengan wajah yang masih terlihat sedikit pucat.


"Selamat malam my princess, bagaimana kabarmu malam ini my princess? Apa kondisimu sudah jauh lebih baik? Apa kamu tidak ingin bangun dan menyambut kedatanganku?" Seolah Alaya tidak dalam kondisi tidak sadarkan diri, Evan berkata dengan suara seperti orang yang sedang berbincang-bincang dengan seseorang yang sedang duduk di depannya.


Evan sengaja melakukan itu, berharap Alaya bisa mendengar suaranya, dan Alaya mau membuka matanya terbangun setelah mendengar suaranya yang mengajaknya bicara itu.

__ADS_1


__ADS_2