
Seperti yang sudah diketahui oleh yang lain, karena tidak mengajak Melva waktu itu, Enzo menjadi bulan-bulanan bahan olok-olok dan godaan para pasangan romantis yang terus menggodanya karena tidak membawa pasangannya.
Bahkan dengan sengaja, Alvero maupun Ornado, yang akhirnya diikuti oleh Dave terlihat begitu pamer kemesraan di depan Enzo yang hanya bisa meringis dan gigit jari, sekaligus sakit mata karena tingkah laku ketiga pasangan romantis itu.
Meskipun saat itu Alaya tidak membawa pasangannya juga, tapi Alaya yang memang dianggap belum memiliki kekasih, bagi mereka adalah normal belum mengajak seseorang untuk ikut berlibur waktu itu beda dengan Enzo yang statusnya sudah memiliki Melva sebagai kekasihnya.
Waktu itu karena tidak mengajak Melva aku sudah menjadi bulan-bulanan mereka, apalagi seakrang akan ada James dan Elenora yang sudah menikah sekarang. Ditambah dengan Evelyn, adik Dave dan pasangannya dokter Leo, meskipun mereka belum menikah, aku yakin mereka juga adalah pasangan mesra. Bisa-bisa mataku terus gatal melihat mereka pamer kemesraan.
Enzo berkata dalam hati sambil menahan nafasnya, karena dia juga merasa Melva pasti akan senang juga jika dia mengajaknya untuk bertemu orang-orang hebat itu.
“Wah… pasti menyenangkan bisa bertemu mereka kembali. Padahal minggu lalu aku sempat saling berkirim pesan dengan Cladia dan Laurel, tapi mereka tidak mengatakan apapun tentang rencana kepergian mereka ke Itali berbarengan seperti itu.” Deanda berkata sambil menegakkan posisi duduknya, karena dirasakannya pinggangnya mulai terasa pegal dengan posisi duduk yang sebelumnya.
“Apa kamu baik-baik saja?” Alvero yang melihat bagaimana Deanda bergerak menjauh darinya sambil mengelus pinggangnya, membuat Alvero langsung bertanya sambil ikut mengelus pinggang Deanda.
Memang dalam hal makanan selama masa kehamilannya, tidak seperti Cladia yang cukup rewel, nafsu makan Deanda boleh dikata sangat baik.
Apapun yang disajikan di depan matanya, akan dilahap dengan nikmat oleh Deanda.
__ADS_1
Hanya saja, dalam menjalani kehamilannya, Deanda memiliki keluhannya sendiri, yaitu pinggangnya yang seringkali terasa kaku, pegal, dan tidak nyaman, apalagi jika posisi duduk atau berbaringnya tidak sesuai atau tidak pas.
Disamping itu, kedua kakinya seringkali juga terasa pegal dan kadang lemas.
Dan Alvero sudah sangat familiar dengan hal itu, sehingga sebelum tidur di malam hari, seringkali Alvero akan menjadi tukang pijat dadakan yang dengan sabar dan setia akan memijat kedua kaki Deanda, dan juga mengelus-elus pinggang Deanda agar terasa nyaman.
Bahkan seringkali Alvero akan terus melakukan itu sampai Deanda tertidur lelap, sehingga Alvero bisa menyusul Deanda, tidur di samping tubuh Deanda dengan lengan melingkar di perut istrinya dan memeluk tubuh itu dengan hangat.
Bagi Alvero yang merupakan seorang raja Gracetian, dengan kekuasaan tertinggi, yang bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan tanpa perlu dia turun tangan sendiri untuk melakukannya, di hadapan seorang Deanda, Alvero hanyalah laki-laki biasa yang begitu mencintai istrinya dan rela melakukan apa saja untuk wanita miliknya itu.
Saat mengingat liburan yang sudah pernah dia jalani di Indonesia waktu itu, sampai sekarang masih saja membuat Deanda terpukau dan terkagum-kagum saat mengingat semua pengalaman itu.
Semua keindahan alam yang eksotis, makanan enak dan berbagai kegiatan menyenangkan yang dia jalani waktu itu, membuatnya bertekad untuk suatu saat dia akan kembali mengunjungi negara dengan ratusan tempat yang indah itu.
“Meskipun mungkin negara kita tidaklah seindah negara mereka keindahan alamnya, tapi paling tidak, kita juga harus membuat mereka puas dan nyaman selama berada di Gracetian. Dan aku akan menghabiskan banyak waktu bersama Cladia dan yang lain. pastik akan sangat mengasyikkan.” Deanda kembali berbicara kepada Alvero yang langsung menganggukan kepalanya.
“Aku harus segera memberitahukan kepada Ernest dan Erich agar melakukan persiapan mulai malam ini. Tunggu sebentar ya…. Setelah aku menyelesaikan persiapan ini bersama Erich dan Ernest, kita akan bahas masalah duke Hugo dan duchess Kattie kembali.” Alvero berkata sambil bersiap melakukan panggilan telepon kepada Ernest dan juga Erich sekaligus dengan menggunakan telekonferensi.
__ADS_1
(Telekonferensi, dalam telekomunikasi, merupakan pertemuan berbasis elektronik secara langsung di antara dua atau lebih partisipan manusia atau mesin yang dihubungkan dengan suatu sistem telekomunikasi yang biasanya berupa saluran telepon. Penggunaan telekonferensi memiliki kelebihan efektivitas biaya dan waktu.
Sementara Kepala Dinhubkominfo Purbalingga Drs. Jonathan Eko Nugroho, M.Hum., mengatakan, teleconference atau telekonferensi adalah komunikasi langsung diantara beberapa orang yang biasanya dalam jarak jauh atau tidak dalam satu ruangan dan dihubungkan oleh suatu sistem telekomunikasi).
Mereka yang lain langsung membahas tentang rencana kedatangan Ornado dan yang lain begitu Alvero menjauh sebentar untuk melakukan telekonferensi dengan Erich dan Ernest.
"Sepertinya kamu juga sudah begitu dekat dengan mereka. Aku hanya mengenal Ornado sekilas, karena beberapa kali kami saling berhubungan via telepon ketika sedang menyiapkan apsukan khusus waktu itu. Dia adalah laki-laki yang hebat dan mengagumkan. Keahliannya dalam menyusun strategi, tidak kalah hebatnya dengan seorang panglima perang, padahal di kehidupan nyata, dia hanya dikenal sebagai seorang pengusaha sukses." Evan mengatakan kekegumannya pada Ornado yang membuat Alaya langsung tersenyum.
"Dia memang laki-laki hebat. Dan beruntung istrinya, kak Cladia, adalah wanita yang sangat lembut dan baik hati, yang selalu menjadi inspirasi bagi banyak orang. Hubungan James dan Elenora yang waktu itu sempat tidak bagus sebelum pernikahan mereka, banyak terbantu oleh campur tangan kak Cladia yang memperlakukan Elenora seperti adik kandungnya sendiri." Alaya menambahkan poin plus yang dia tahu tentang Ornado.
"Sayang sekali waktu itu kamu tidak ikut ke Indonesia. Pemandangan alam disana benar-benar sangat indah." Alaya berkata kepada Evan yang langsung tersenyum mendengar kata-kata dari Alaya.
"Apa kamu ingin bulan madu kita adakan di sana?" Dengan suara dan sikap tenang, Evan bertanya kepada Alaya yang sedikit melotot mendengar kata-kata Evan.
"Kenapa tiba-tiba kamu membicarakan tentang bulan madu kita?" Alaya yang sampai saat ini rasanya belum percaya bahwa dia sudah menikah dengan Evan tanpa sadar langsung mengeluarkan kata-kata penolakannya.
"Apa kamu tidak ingin mencoba melakukannya di tempat baru, dengan suasana baru, atau mungkin gaya yang baru?" Evan yang tangannya masih melingkar di bahu Alaya mendekatkan bibirnya ke telinga Alaya dan mengucapkan kata-kata yang membuat wajah Alaya memerah seketika itu juga, dengan detakan jantungnya yang bergerak lebih cepat dari biasanya karena ucapan Evan barusan.
__ADS_1