
Selain tentang apa saja yang sudah terjadi padanya dengan Alaya, termasuk bagaimana cara dia mendapatkan ingatannya kembali dengan menyandera dokter Jordan, Evan juga menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Alvero yang membahas tentang rencananya untuk tetap berpura-pura melupakan Alaya, dan juga menjelaskan tentang kecurigaannya terhadap keterlibatan Hugo terhadap kejadian kecelakaan itu.
Cerita Evan tentang kecurigaannya terhadap Hugo dan juga bukti-bukti kejahatan Hugo yang sudah dikumpulkan oleh Evan, membuat Danella hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil beberapa kali menghela nafasnya.
“Kalau dampai duke Hugo melalukan itu, aku tidak merasa heran karena sejak jaman kakeknya, keluarga Brown selalu ingin bersaing dengan keluarga Carsten dengan cara licik. Itu yang pernah aku dengar dari papamu tentang kedua keluarga duke Gracetian ini. Hanya saja duchess Kattie yang merupakan seorang perempuan, kenapa bisa bertindak serendah itu?” Ucapan Danela disertai dengan helaan nafasnya.
“Aku benar-benar tidak menyangka kalau hati duchess Kattie bisa sejahat itu pada kalian berdua.” Danella berkata dengan wajah tidak percayanya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena heran mengetahui bagaimana seorang gadis bangsawan yang seharusnya bersikap terhormat dan melindungi orang-orang di bawahnya, justru melakukan hal sekeji itu pada orang lain.
“Untung saja… meskipun duchess Kattie seringkali mendekati mama untuk meminta bantuan agar kamu mau menjadi kekasihnya, mama selalu menolak dengan berbagai alasan, karena sejak awal, mama merasa tidak cocok dengan kepribadian duchess Kattie.” Danella berkata dengan wajah lega, mengingat di masa lalu, bagaimana Kattie yang begitu terlihat mengejar-ngejar Evan, selalu merayu Danella untuk merestui dan membantu hubungannya dengan Evan, selalu berhasil ditolak dengan halus oleh Danella.
__ADS_1
“Waktu itu, aku hanya berpikir kalau duchess Kattie adalah orang yang sudah menyelamatkanmu dari kecelakaan maut itu, sehingga aku membiarkannya sering-sering mengunjungimu di rumah sakit, sebagai ungkapan rasa terimakasihku kepadanya yang sudah menjadi dewi penolongmu. Kalau tahu dia justru memanfaatkan itu untuk membuatmu melupakan Alaya, aku pasti sedari awal tidak sudi meneriman bantuan apapun darinya.” Danella kembali berkata dengan wajah yang terlihat kesal, menyadari selama ini dia seperti Evan, sudah begitu dibodohi oleh Kattie, sehingga merasa berhutang budi gadis licik itu.
“Tuhan begitu baik mempertemukan kamu kembali dengan Alaya.” Danella bergumam pelan dengan senyum tersungging di wajahnya begitu menyadari kalau antara Evan dan Alaya benar-benar terikat dengan benang merah perjodohan yang tidak bisa dengan mudah dipisahkan oleh orang lain.
“Benar Ma, aku merasa begitu beruntung saat itu Alvero menjodohkanku dengan Alaya. Kalau Alvero sampai menerima lamaran putra mahkota Christopher, atau mungkin putra mahkota Hector, entah bagaimana nasibku saat semua ingatanku tentang Alaya sudah kembali pulih.” Evan berkata dengan suara sedikit bergetar, karena membayangkan dia bisa saja kehilangan Alaya untuk selama-lamanya jika sampai hal itu terjadi.
“Evan… apa setelah ingatanmu tentang Alaya kembali sepenuhnya, kamu sudah menemui Alaya dan meminta maaf padanya? Apa kamu sudah berusaha menjelaskan semuanya pada Alaya agar dia mau menerimamu kembali?” Danella yang tahu bagaimana marahnya Alaya begitu mengetahui Evan sudah menikahinya saat dia sedang tak sadarkan diri, bertanya kepada Evan dengan sikap ragu.
“Ehem….” Mendengar pertanyaan Danella, Evan langsung berdehem sambil tangannya memegang tengkuknya sendiri dan mengelus-elusnya dengan sikap canggung.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, dengan gerakan pelan Evan mengangguk-anggukan kepalanya dengan sikap canggung, membuat Danella kembali sedikit mengernyitkan dahinya, lalu tersenyum dengan ceria, karena bisa menebak apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua selanjutnya.
“Ah… akhirnya kalian bisa benar-benar menjadi suami istri yang sesunguhnya ya? Kapan kalian melakukannya?” Danella bertanya sambil tertawa kecil.
“Eh…” Evan yang tidak menyangka mamanya akan mengatakan hal seperti itu hanya bisa terdiam tanpa berani menjawab atau menanggapi perkataan Danella.
“Kalau begitu, kenapa kalian tidak bersama malam ini? Aku ingin segera mendapatkan cucuku. Jadi lebih baik kamu dan Alaya segera membuatnya untuk mama.” Danella berkata dengan nada menggoda, membuat Evan hanya bisa tersenyum-senyum dengan wajah sedikit memerah, karena lagi-lagi kegiatan panas yang dia lakukan bersama Alaya tadi sore kembali memenuhi pikirannya.
“Ayolah Evan, jangan bersikap sok seperti itu. Mama juga pernah muda, dan pernah menjadi pengantin baru seperti kalian berdua. Jadi lebih baik, kamu segera bertemu Alaya malam ini, menyelesaikan tugas kenegaraanmu sebagai seorang suami, daripada kepalamu sakit karena memikirkan tugas yang tidak terselesaikan dengan baik.” Lagi-lagi, perkataan Danella membuat Evan tidak berkutik.
__ADS_1
“Tadi di pertemuan dengan Alvero dan yang lain, aku sudah menjelaskan tentang rencanaku membuat duke Hugo dan duchess Kattie mengira aku masih kehilangan ingatanku. Karena itu, beberapa lama ini kami berencana untuk tidak terlihat bersama oleh orang lain. Aku yakin duke Hugo saat ini sedang menyebar anak buahnya untuk mengawasi aku dan Alaya, karena itu aku berusaha sebisa mungkin mencegah mereka melihat kami berduaan dan terlihat akur.” Evan memberikan penjelasan kepada Danella yang sebelumnya tampak begitu bersemangat begitu mengetahui hubungan Evan dan Alaya sudah baik-baik saja.
“Terserah saja kamu mau bagaimana menjalankan rencanamu terhadap duke Hugo dan duchess Kattie, tapi mama keberatan kalau kalian harus terpisah lagi, padahal kalian baru bisa bersama lagi setelah bertahun-tahun berpisah akibat perbuatan jahat duchess Kattie. Apalagi sekarang kalian sudah menikah, tidak ada alasan untuk saling berjauhan. Kalau begitu terus, kapan kalian akan bisa memberikan mama cucu coba?” Pertanyaan Danella membuat Evan hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata-kata untuk menjawab pertanyaan Danella yang bagi Evan sulit untuk dia jawab.