Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
KEPUTUSAN EVAN


__ADS_3

Kali ini, dengan begitu jelas, Evan bisa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alaya dalam igauannya.


Sebuah igauan yang jelas-jelas menyebutkan nama Evan, dan menunjukkan bagaimana kesedihan Alaya karena merasa sudah ditinggalkan oleh Evan, bahkan merasa disingkirkan oleh Evan dalam igauannya.


Dan itu membuat dada Evan berdegup dengan kencang, meskipun dia tidak tahu tentang apa yang barusan dikatakan oleh Alaya barusan.


“Evan… Igauan adalan pikiran seseorang yang mungkin dia pendam begitu dalam di alam bawah sadarnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang sudah kamu perbuat pada Alaya sehingga dia mengigau seperti itu? Apa kalian berdua sudah saling mengenal sebelumnya tanpa sepengetahuan mama?” Dengan wajah bertanya-tanya, Danella langsung mencerca Evan dengan begitu banyak pertanyaan begitu mendengar apa yang baru saja diucapkan Alaya dalam kondisi belum sadar itu.


Sedang Evan, langsung terdiam seribu bahasa dengan wajah kaget bercampur bingung.


Evan? Apa dia tidak salah menyebutkan namaku? Selama mengenal Alaya, dia selalu menyebutkan namaku dengan sebutan resmiku, duke Evan. Tapi barusan… Alaya menyebutkan namaku langsung seolah hubungan kami begitu dekat selama ini. Apa yang terjadi sebenarnya? Evan siapa yang dia maksudkan? Apa itu benar-benar aku?


Tanpa perduli dengan pertanyaan Danella, Evan justru sibuk dengan pikirannya sendiri dengan puluhan pertanyaan bersliweran di otaknya.


“Evan….” Panggilan lembut dari Danella tetap saja tidak membuat Evan bergeming dari pikirannya yang sedang sibuk sekaligus kacau.


“Evan.” Kali ini Danella memanggil nama Evan dengan nada cukup keras setelah dua kali memanggil nama anak lali-laki kesayangannya tapi tidak direspon sama sekali oleh si empunya nama.

__ADS_1


"Eh... iya Ma?" Evan langsung menjawab panggilan dari Danella dengan sedikit tersentak begitu Danella memanggilnya dengan suara cukup keras.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku sedari tadi Evan?" Danella berkata dengan nada protesnya, rasanya dia tidak rela jika sampai anak kesayangannya yang dia kenal begitu baik, ternyata pernah melakukan suatu hal yang buruk pada Alaya di masa lalu.


"Emmm... maaf Ma, aku juga tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Alaya dalam tidurnya." Evan berkata sambil menatap ke arah Alaya, dengan posisi tubuh masih membungkuk di samping tempat tidur itu.


"Tapi Evan, dari kata-katanya, seolah-olah kamu penah meninggalkannya dan tidak memperdulikannya. Apa kamu benar-benar pernah melakukan hal seperti itu padanya? Kalau memang iya, kenapa kamu setega itu padanya?" Pertanyaan Danella membuat Evan langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku juga tidak mengerti Ma. Mama tahu sendiri kalau aku dan Alaya baru saja bertemu setelah dia dinobatkan kembali sebagai putri Gracetian." Evan berkata pelan dengan otaknya yang terus berputar mencoba memikirkan apa yang sebenarnya maksud dari kata-kata Alaya.


"Apa mungkin... dulu Alaya memiliki seorang kekasih dan kekasih Alaya dulu juga bernama Evan? Kenapa ada sebuah kebetulan yang sangat aneh begitu?" Danella langsung bergumam pelan begitu mendengar perkataan Evan.


Evan langsung menghentikan pemikirannya begitu dia merasakan sakit kepala yang tiba-tiba datang menyerangnya.


Ada sesuatu yang aneh. Kenapa setiap aku berusaha memikirkan apa hubunganku dengan Alaya di masa lalu, kepalaku tiba-tiba terasa sakit? Apa ada yang salah dengan diriku?


Evan berkata dalam hati dan mulai menenangkan dirinya, agar rasa sakit di kepalanya mereda.

__ADS_1


Setiap kali Evan berusaha keras untuk memikirkan apakah memang pernah ada hubungan antara dia dan Alaya di masa lalu, Evan selalu saja merasakan sakit di kepalanya, membuat Evan akhirnya selalu berhenti untuk mencoba mengingat dan memikirkan hal itu.


Tapi sekarang, dengan insting tajamnya, Evan tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres yang sudah terjadi pada ingatannya setelah peristiwa kecelakaan itu, seolah ada sebagian dari ingatannya yang hilang entah kemana, dan tentang apa.


Perasaan Evan mengatakan bahwa memang ada sesuatu yang pernah terjadi antara dia dan Alaya di masa lalu yang tidak bisa diingatnya dengan baik, yang entah kenapa justru membuat Evan yakin bahwa Evan yang disebutkan oleh Alaya tadi adalah dirinya, dan itu bukan kekasih Alaya yang lain, yang membuat Evan sempat merasa cemburu ketika Alaya mengigau sebelumnya.


Ada sebuah keyakinan baru dalam diri Evan, bahwa Alaya dan dia benar-benar pernah memiliki sebuah hubungan istimewa sebelumnya, dan Evan semakin yakin karena adanya beberapa sekelebat bayangan dalam ingatannya yang membuatnya percaya bahwa dia dan Alaya pernah terhubung di masa lalu, meskipun dia belum bisa mengingatnya dengan jelas.


Degan apa yang kamu ucapkan barusan dan keyakinan yang ada pada diriku, aku semakin yakin, dan aku sudah memutuskan my princess…. bahwa Aku akan menerima penawaran dari yang mulia Alvero. Aku akan segera menikahimu besok. Setelah kamu sadar, aku akan memintamu menjelaskan apa yang terjadi sehingga dalam tidurmu, kamu menyebutkan namaku seperti itu, seperti menyebutkan nama seorang kekasih bagimu.


Tekad Evan untuk menikahi Alaya besok jadi semakin kuat begitu dia memikirkan tentang kata-kata yang diucapkan oleh Alaya dalam kondisi tidak sadarnya.


"Jangan khawatir Ma, aku sudah meminta Sam untuk menyelidiki tentang hal itu, dan aku akan memintanya bekerja pebih keras agar segera menemukan jawabannya. Sekarang kita perlu istirahat, karena hari esok masih panjang dan banyak yang harus kita kerjakan. Besok akan menjadi hari yang sibuk untuk kita." Danella sedikit mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Evan.


"Kenapa besok kita sibuk? Apa kamu ada acara mendadak bersama dengan mama?" Evan langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari Danella, sedikit melirik ke arah Alaya yang kembali terdiam sebelum akhirnya Evan mendekat ke arah Danella, merangkul bahunya dan mengajaknya berjalan menuju pintu keluar kamarnya.


"Tentu saja sibuk, karena besok... aku akan menikah dengan Alaya...." Mata Danella langsung membulat sempurna begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Evan, yang diucapkannya dengan nada terdengar begitu tenang, dengan wajah dan senyum yang tampak menunjukkan betapa Evan saat ini memang begitu serius dan juga… begitu bahagia, layaknya seorang calon mempelai pria yang benar-benar sedang menantikan waktu pernikahannya.

__ADS_1


Note: jangan lupa untuk like, vote, komen dan tampilan MT/NT yang terbaru ada tombol permintaan update di bagian paling bawah setelah eps terakhir, jangan lupa di klik ya untuk membantu karya ini 🙏🥰


__ADS_2