
Kehadiran Alvero di rumah orangtua Cleosa waktu itu memang menunjukkan betapa berharga dan pentingnya Erich bagi Alvero yang memang menganggap Erich sebagai bagian dari keluarganya.
“Aku harap semuanya baik-baik saja, dan semua ketakutanku tentang Eliana benar-benar tidak terjadi.” Erich berkata sambli memandang ke arah Ernest.
“Sudah aku katakan, serahkan masalah itu padaku, dan konsen pada persiapan pernikahanmu. Jangan sampai rasa khawatirmu mersuak suasana, apalagi hubunganmu dengan Cleosa.” Ernest kembali mengingatkan pada Erich bagaimana pentingnya pernikahannya dengan Cleosa.
“Hah…. Aku tahu itu.” Erich berkata sambil menghela nafasnya.
“Kamu sendiri, apa ada gadis yang kamu suka? Aku tidak mau meninggalkanmu terlalu lama sendirian juga tanpa ada yang menemani.” Erich berkata kepada Ernest bukannya tanpa alasan.
Sejak terjadinya pembantaian yang dilakukan oleh Eliana di desa tempat tinggal mereka waktu itu, dari keluarga mereka yang bertahan hanya mereka berdua dan salah seorang pamannya yang akhirnya membawa Erich dan Ernest ke istana waktu itu.
Namun sekarang, mereka hanya berdua saja karena paman mereka beberapa tahun lalu sudah meninggal karena usianya yang sudah tua.
“Kamu tahu aku tidak pernah sendiri. Di sekelilingku begitu banyak orang yang bahkan lebih dekat daripada saudara denganku, termasuk yang mulia Alvero, permaisuri Deanda, nona Alea, nyonya Rose, tuan Alexis…..”
Ernest yang sedang asyik berbicara dengan Erich langsung menghentikan perkataannya dengan tiba-tiba.
"Akh...." Sebuah pekikan kecil terdengar dari bibir Tira yang karena terlalu fokus pada layar handphonenya, hampir saja menabrak Ernest yang sedang bejalan berdua dengan Erich.
“Putri….” Dengan sigap Ernest menahan tubuh Tira yang hampir saja terjatuh ke belakang, karena terpeleset setelah dengan gerakan tiba-tiba mundur untuk menghindari terjadinya tabrakan antara dia dan Ernest.
“Ah… terimakasih Tuan Ernest….” Tira berkata sambil tersenyum dan mencoba berdiri dengan normal kembali.
__ADS_1
“Anda baik-baik saja Putri? Maaf karena kami berdua sedang asyik mengobrol sehingga tidak memperhatikan jalan.” Dengan wajah bersalah, Ernest langsung meminta maaf kepada Tira yang langsung menggerak-gerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri.
Begitu Ernest melihat Tira sudah kembali berdiri tegak, dengan gerakan cepat, Ernes melepaskan tangannya dari punggung Tira dan mundur menjauh dengan sikap sopan.
Sedangkan Ernest, meskipun dia tidak membantu Tira, saat ini dia memberikan salam penghormatan kepada Tira yang segera memberikan tanda menerima salam itu, sehingga Erich bisa menegakkan tubuhnya kembali.
“Tidak… tidak Tuan Ernest, Anda tidak bersalah, aku juga tidak memperhatikan jalan karena terlalu serius dengan layar handphoneku.” Tira segera menanggapi perkataan Ernest yang sedikit menarik nafas lega.
Dibandingkan dengan putri lain yang tinggal di istana ini, selalin putri Alaya, putri Tira adalah putri yang sangat ramah dan baik hati.
Ernest berkata dalam hati dengan tatapan mata kagum menatap ke arah Tira yang memang selain cantik juga dikenal sangat ramah dan baik hati di lingkungan istana itu karena tidak pernah membeda-bedakan siapapun, kedudukan dan status sosial, ataupun dari kekayaannya, Tira akan memperlakukan semua orang sama.
“Maaf Putri….” Dengan masih merasa bersalah, Ernest berkata kepada Tira.
“Eh, maaf Tuan Ernest, aku harus segera pergi. Tuan Erich….” Tira berkata kepada Ernest dan juga Erich yang berdiri di belakang Ernest dengan sikap tegap seperti biasanya.
“Baik Putri, selamat malam.”
“Selamat malam Tuan Ernest dan Tuan Erich.” Tira berkata sambil berjalan kembali ke arah yang berlawanan dengan kedua laki-laki yang merupakan pengawal pribadi Alvero itu.
Sekilas Ernest menoleh ke belakang sambil tersenyum, seolah tidak rela melepas kepergian Tira dari pandangan matanya, sosok putri cantik yang selama ini selalu membuat Ernest terpesona.
Meskipun mereka tinggal di dalam satu lokasi yang sama, istana Gracetian, tapi begitu luasnya area istana itu membuat mereka jarang sekali bertemu, apalagi bisa saling menyapa, kecuali ketika Ernest mendapat tugas mengawal Alvero saat makan bersama di istana atau acar afternoon tea.
__ADS_1
Itupun Ernest harus cukup puas hanya dengan memandang sosok Tira dari kejauhan.
Mereka berdua itu, wajahnya benar-benar seperti pinang dibelah dua, tapi aura berbeda dari wajah mereka berdua sungguh jauh berbeda. Tuan Erich selalu saja terlihat dingin seperti sebuah patung hidup yang berjalan, sedang tuan Ernest, dia terlihat begitu ramah dan baik hati, sungguh menenangkan hati melihat wajah tampan yang ramah dan lembut itu.
Tira berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang, karena sekilas saja perhatiannya teralihkan oleh keberadaan Erich dan Ernest, setelah itu dia kembali fokus pada handphonenya, karena sebelumnya dia menerima banyak pesan tidak bertuan yang sungguh membuatnya resah.
# # # # # # #
“Ernest!” Suara dengan sedikit sentakan dari Erich karena melihat Ernest melamun langsung membuat tubuh Enest tersentak kaget, sehingga Erich menaikkan salah satu sudut bibirnya dengan sikap acuh tak acuh.
“Erich, apa kamu sadar? Putri Tira adalah satu diantara sedikit orang di istana ini yang bisa membedakan dengan pasti kita berdua?” Ernest berkata dengan nada geli karena mengingat bagaimana banyaknya orang di istana ini yang seringkali salah dalam membedakan antara dia dan Erich, tentu saja itu tidak termasuk Alvero dan Deanda yang jelas-jelas selalu bisa membedakan mana Erich dan mana Ernest.
“Hentikan perasaanmu sekarang jika tidak ingin patah hati.” Ernest langsung terdiam mendengar perkataan Erich, yang tidak disangkanya dalam siapo diam dan dinginnya, bisa membaca isi hatinya.
“Dia bukan gadis yang bisa kamu miliki, lupakan saja. Segera hilangkan pikiran untuk bisa mendapatkan hatinya karena itu tidak mungkin untukmu, untuk orang dengan status bangsawan rendahan seperti kita.” Dengan tegas Erich berkata kepada Ernest yang hanya bisa menahan nafasnya sambil menganggukkan kepalanya.
“Aku tahu itu, tidak perlu kamu tegaskan lagi.” Ernest berkata sambil berjalan ke arah pintu istana, menyelesaikan tugasnya menjemput Evan untuk menemui Alvero.
“Apa kamu tadi melihat wajah ketakutan putri Tira?” tanpa menanggapi perkataan Ernest sebelumnya, Erich justru mengatakan hal lain pada Ernest.
“Eh, apa benar seperti itu?”
“Aku melihatnya dengan jelas tadi, mungkin ada sesuatu dalam handphonenya yang membuatnya terlihat tidak nyaman seperti itu. Dia terus menerus melihat ke arah handphonenya dengan wajah tidak tenang.” Erich langsung menjawab pertanyaan Ernest dengan cepat.
__ADS_1
“Tapi sudahlah, itu bukan urusan kita. Kita harus segera menemui duke Evan dan memberitahukan bahwa yang mulia Alvero sudah menunggunya di kolam ikan.” Erich berkata sambil melangkah pergi menjauh dari Ernest yang masih berdiam diri di tempatnya sambil termenung.