
Duke Evan! Kenapa sih laki-laki itu sangat pintar membuat orang kaget dan tidak berkutik dengan pertanyaannya?
Alaya sedikit menggerutu dalam hati mendengar tuduhan tidak mendasar dari Evan itu.
"Tidak. Aku bahkan tidak mengenal putra mahkota Christopher. Aku hanya tidak ingin menikah sekarang." Alaya berkata dengan berusaha bersikap sebiasa mungkin, agar Evan tidak tahu betapa kesalnya dia saat ini menghadapi Evan yagn terlihat tetap tenang dengan semua pertanyaan mematikannya.
"Kenapa?"
"Aku masih terlalu muda Duke Evan. Bahkan usiaku belum genap 22 tahun." Jawaban Alaya membuat Evan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum dengan sikap tetap tenang.
"Benar juga.... Kamu masih sangat muda sekali...." Evan berkata dengan suara pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
"Tapi apa salahnya menikah di usiamu sekarang? Bukankah permaisuri Deanda juga hampir seumuran denganmu? Dan sekarang sudah menikah dengan yang mulia Alvero? Tidak ada salahnya kamu mengikuti jejaknya." Evan berkata dengan nada santai, tidak memperdulikan bagaimana Alaya yang duduknya, dari gestur tubuhnya sudah terus menerus bergerak dengan sikap tidak tenang.
Kenapa duke yang satu ini begitu sulit dihadapi sih? Kalau bukan karena kak Alvero, aku tidak perlu mengalami kesulitan seperti ini bersama duke Evan. Haist.... benar-benar merepotkan. Aku tidak menyangka kalau ternyata duke Evan bukan orang yang mudah untuk dihadapi.
Alaya mengeluh dalam hati, dengan perasaan bercampur aduk, ingin segera keluar dari ruangan Evan yang terus terang membuatnya sulit untuk bergerak, dan membuat kedua telapak tangannya bekeringat dingin.
__ADS_1
"Aku belum terpikir untuk menikah sekarang. Banyak hal yang masih ingin aku kerjakan sebelum benar-benar terikat dalam sebuah pernikahan. Apalagi.... Aku tidak mau menikah dengan... orang yang tidak... aku cintai...." Alaya mengakhiri kata-katanya dengan sedikit menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata hijau Evan yang terlihat sedikit berkilat begitu mendengar kata-kata dari Alaya di bagian kalimat terakhir.
Alaya baru saja hendak melanjutkan kata-kata pembelaannya ketika di dengarnya sebuah dering suara telepon dari atas meja kerja Evan.
“Permisi sebentar, aku harus mengangkat teleponku.” Evan berkata sambil meraih gagang telepon yang ada di atas meja kerjanya.
"Hallo."
"Selamat siang Duke Evan. Mohon maaf sudah mengganggu waktu Duke Evan. Saat ini ada utusan dari yang mulia Alvero, tuan Ernest, ingin menyampaikan sebuah undangan untuk Duke Evan." Salah satu petugas di bagian front office yang ada di bawah langsung menyampaikan kedatangan Ernest yang membawa surat undangan untuk makan malam di istana besok.
Evan yang mendengar perkataan dari salah satu bawahannya itu langsung menatap ke arah Alaya yang sedang pura-pura menyibukkan diri mengamati foto-foto yang ada di dinding agar kegelisahan dan sikap salah tingkahnya tidak semakin menjadi.
"Tidak." Evan langsung menjawab dengan cepat, karena dia tidak ingin kalau sampai Ernest bertemu dengan Alaya, yang pasti akan dilaporkan oleh Ernest kepada Alvero jika sampai Ernest melihat adanya Alaya di kantornya.
Meskipun Evan bisa memilih untuk tidak perduli jika sampai Alaya mengalami masalah dengan Alvero karena tindakannya yang tiba-tiba datang ke kantor pusat militer Gracetian, tapi Evan memilih untuk melindungi Alaya.
"Tolong sampaikan permintaan maafku karena tidak bisa menemui Tuan Ernest. Aku masih ada meeting penting dengan seseorang. Minta Sam menemui Ernest dan menerima undangan tersebut. Aku sendiri yang akan menyampaikan terimakasih pada yang mulia Alvero." Perkataan Evan yang menyebutkan nama Ernest membuat Alaya memandang ke arah Evan dengan wajah harap-harap cemas.
__ADS_1
Ernest sudah datang kesini? Membawa undangan dari kak Alvero? Sepertinya kakak benar-benar ingin secepat mungkin membicarakan tentang perjodohan kami pada duke Evan. Benar-benar celaka dua belas!
Alaya berkata dalam hati sambil menggigit bagian bawah bibirnya.
Setelah menyampaikan perintahnya untuk membiarkan Sam sebagai asisten pribadinya untuk menerima surat undangan dari Alvero, pandangan mata Evan kembali fokus pada sosok Alaya.
“Ma… maaf Duke Evan, apa barusan Ernest datang ke tempat ini atas perintah yang mulia Alvero?” Dengan suara ragu, Alaya bertanya meskipun dia tahu dengan pertanyaannya itu, dia terlihat tidak sopan karena berani menguping pembicaraan Evan di telepon.
“Sepertinya yang mulia Alvero ingin secepatnya membahas perjodohan itu denganku, sehingga memberikan undangan melalui tuan Ernest.” Evan berkata dengan sikap tenang sambil tersenyum begitu melihat wajah Alaya yang terlihat begitu gelisah.
“Duke Evan….”
“Ya. Kenapa Putri Alaya? Apa Putri ingin mengatakan sesuatu?” Dengan suara lembut Evan menyahuti perkataan Alaya, dengan mata hijaunya yang indah menatap lurus ke arah Alaya.
“Mmm… jika yang mulia Alvero benar-benar meminta Duke Evan untuk menikah dengan saya, bisakah Duke Evan menolaknya?” Saat ini Evan benar-benar berusaha untuk menahan tawanya mendengar permintaan polos dari Alaya.
“Aku akan mempertimbangkannya. Toh, belum tentu undangan yang mulia Alvero untukku memang untuk membahas perjodohan kita. Jangan-jangan itu hanya pemikiran Putri Alaya saja. Mungkin yang mulia Alvero ingin membicarakan tentang masalah militer denganku.” Kata-kata Evan membuat Alaya menghela nafas panjang, sedikit merasa lega meskipun dalam hati Alaya merasa masih merasa khawatir, semua tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.
__ADS_1
“Tidak Duke Evan. Yang mulia Alvero bukan orang yang akan bercanda dengan hal serius seperti itu.” Alaya langsung membantah perkataan Evan yang baginya hanya untuk menghiburnya.
“Kalau begitu, kita lihat saja bersama-sama apa benar yang mulia Alvero mengundangku untuk membicarakan hal itu.” Alaya hanya bisa diam mendengar perkataan bijaksana dari Evan, yang memang dari sikap dan tindakannya, merupakan orang yang selalu berpikir panjang sebelum bertindak, tidak seperti dirinya yang seringkali bersikap buru-buru dan bertindak sembrono.