
Evan sendiri, bukannya tidak tahu dimana letak ruang kerja Alvero, tapi dia dengan sengaja membiarkan Alaya berjalan lebih dahulu kesana, agar bisa meredakan kekesalan hatinya, yang bisa dilihat jelas oleh Evan lewat wajah Alaya, meskipun ketika mengajaknya untuk bicara secara pribadi tadi, Evan bisa melihat bagaimana kerasnya usaha Alaya untuk menahan dirinya agar tidak berteriak dengan nada kesal di depan Evan untuk tetap menunjukkan rasa hormatnya pada Evan di depan orang lain.
Mmm… pengendalian dirimu cukup bagus juga meskipun tatapan matamu sudah seperti singa yang siap mencabik-cabik mangsanya.
Evan yang sengaja memilih untuk tetap berjalan di belakang Alaya, sambil mengamati calon istrinya itu, berkata dalam hati dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
Apa-apaan ini? Kenapa duke Evan melanggar janjinya padaku? Kenapa dia menerima perjodohan ini? Aku harus menegaskan tentang penolakanku terhadap rencana perjodohan ini. Jika tidak, aku akan melakukan segala cara untuk membatalkan perjodohan ini. Aku harus segera memikirkannya dengan baik sebelum terlambat. Aku dan duke Evan, tidak ditakdirkan untuk bersama. Hih, kenapa juga aku harus menikah di usiaku yang bahkan belum genap 22 tahun? Aku masih mau bebas, dan yang pasti, aku ingin menikmati masa mudaku. Bisa-bisanya putra mahkota Christopher membuat gara-gara padaku dengan melamarku di usiaku yang masih sangat muda, sehingga aku hatus menghadapi masalah sebesar ini dengan duke Evan.
Alaya terus mengomel dalam hati, hingga dia bahkan tidak menyadari kalau kakinya sudah melangkah masuk ke dalam ruang kerja Alvero dengan Evan berdiri tegap di belakangnya, dan Erich bahkan sudah menutup kembali pintu ruang kerja Alvero itu, untuk memberikan kesempatan kepada dua orang itu berbicara dari hati ke hati tanpa ada yang mengganggu mereka.
Aku hanya mau menikah dengan orang yang aku cintai, dan dia juga benar-benar mencintaiku. Aku mau mengukir kisah romantisku sendiri bersama pria itu. Dan sepertinya, duke Evan bukan pria yang tepat untukku, karena dia tidak mencintaiku. Sejak awal, harusnya kami tidak bertemu.
Alaya masih saja mengomel dalam hati.
“Apa kamu sudah tidak berniat untuk berbicara secara pribadi denganku lagi?” Evan yang melihat bagaimana Alaya diam di tempatnya, dengan keningnya yang sesekali terlihat berkerut dan menahan nafasnya, akhirnya membuka pembicaraan setelah beberapa saat Evan melihat Alaya masih terdiam dengan wajah seriusnya, karena terus mengomel dalam hati tentang masalah perjodohan ini.
Melihat sikap Alaya yang bisa terbaca dengan begitu jelas di wajahnya kalau dia sedang panik dan tidak senang hati, sebenarnya Evan ingin membiarkannya, karena dia sebelumnya cukup menikmati sosok gadis cantik di depannya yang baginya, merupakan gadis yang berani dan menarik.
__ADS_1
Dengan tindakannya meminta kesempatan bicara padanya secara tiba-tiba di depan banyak orang tadi, sebenarnya Alaya sudah menunjukkan sikap tidak hormat dan menentang Evan sebagai seorang duke yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari dia.
Tapi entah kenapa, dengan sikap Alaya yang seenaknya sendiri itu, Evan tidak merasa keberatan, dan justru keinginannya untuk lebih mengenal dan melindungi gadis cantik yang menurutnya juga sangat menggemaskan itu terasa semakin kuat dalam dirinya.
Entah apakah itu cinta yang mulai tumbuh, atau hanya sekedar rasa kagum dan terpesona pada sosok cantik dan pemberani itu, Evan belum berani memastikan perasaannya pada Alaya.
Tapi yang pasti, sampai detik ini Evan merasa dia tidak menyesal sama sekali dengan keputusannya untuk menerima perjodohannya dengan Alaya.
Justru saat ini, ada rasa bahagia yang tiba-tiba menelusup di hati Evan, karena diantara pangeran John dan Javer, Alvero lebih memilihnya sebagai calon suami Alaya, meskipun di masa lalu, Alvero tahu bagaimana perasaan Evan terhadap Deanda.
Meskipun jelas-jelas gadis itu sudah bersikap tidak sopan padaku, kenapa sulit sekali bagiku untuk tersinggung dan sulit bagiku untuk mengalihkan pandangan mataku dari sosoknya yang justru terlihat menggemaskan dan semakin cantik saat melihat matanya yang membulat karena marah? Apa aku sudah gila? Sepertinya aku justru ingin semakin menggodanya meskipun tahu dia akan marah padaku.
Alaya Adalvino… kenapa kamu tiba-tiba hadir dalam hidupku, dan seperti magnet yang membuatku jadi sulit berpaling darimu? Kalau saat itu, aku bertemu lebih dahulu denganmu, apa mungkin… aku tidak akan pernah merasakan jatuh cinta pada Deanda?
Evan kembali berkata dalam hati, sambil melangkah, mendekat ke arah Alaya yang sudah membalikkan tubuhnya, dan sedang menatap ke arahnya dengan kening mengkerut.
“Stop! Tolong jangan mendekat….” Alaya langsung berkata kepada Evan sambil mengarahkan kedua telapak tangannya pada Evan yang justru tersenyum geli melihat tindakan Alaya padanya.
__ADS_1
Bahaya! Bahaya! Aku tidak boleh membiarkannya mendekat atau aku akan terbius dengan wajah malaikatnya.
Alaya langsung berkata dalam hati sambil menarik nafas lega, karena Evan cukup menurut padanya, berhenti di tempatnya tanpa melanjutkan niatnya berjalan mendekat ke arah Alaya.
“Apa berbicara dengan jarak seperti ini cukup untukmu?” Evan berkata dengan nada sedikit keras, karena posisinya berdiri saat ini memang cukup jauh dari Alaya.
“Cukup… sudah cukup.” Alaya menjawab pertanyaan Evan dengan sangat cepat.
“Apa yang ingin kamu bicarakan denganku secara pribadi? Bukannya kamu sudah tahu isi pengumuman dari yang mulia Alvero? Apa kamu merasa kalau pengumuman itu masih kurang jelas? Atau ada yang kurang? Aku bisa meminta pada yang mulia untuk menambahkannya.” Dengan sengaja, meskipun Evan tahu bukan itu yang diinginkan oleh Alaya, Evan sengaja menggoda gadis cantik itu dengan mengucapkan kata-kata yang semakin membuat hati Alaya bertambah kesal dan mendongkol.
Dia benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu dengan maksudku mengajaknya berbicara secara pribadi? Hah… bisa-bisanya dia bersikap begitu tenang, padahal rasanya saat ini kepalaku hampir meledak, dan aku ingin berteriak sekeras-kerasnya di depan laki-laki ini.
Alaya berkata dalam hati dengan mata menatap ke arah Evan dengan tatapan menyelidik dan sikap siaga, meskipun dia tahu sebagai laki-laki terhormat, Evan tidak mungkin bertindak macam-macam dengannya.
“Duke Evan, terus terang, saya benar-benar kecewa dengan Anda.” Alaya berkata dengan mata menatap lurus ke arah mata hijau Evan, yang tampak tetap bersikap tenang, meskipun dia bisa melihat aura kemarahan dan kecewa di wajah Alaya.
“Apa aku sudah melakukan kesalahan besar pada Putri Alaya?” Pertanyaan Evan dengan senyum di wajahnya, dengan sikap tidak merasa bersalah, membuat Alaya mengepalkan salah satu tangannya yang ada di samping tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
“Apa saat ini Duke Evan tidak merasa perlu untuk minta maaf pada saya? Dan menjelaskan kenapa Duke Evan ingkar janji pada saya?” Alaya berkata kepada Evan dengan nada yang mulai menunjukkan kekesalan hatinya.
“Ah, maaf Putri. Tapi aku tidak merasa sudah melakukan hal buruk pada Putri, sehingga aku harus minta maaf padamu. Dan juga, aku tidak merasa melanggar janji apapun dengan Putri.” Kata-kata dan sikap tenang Evan, membuat mau tidak mau emosi dalam diri Alaya menyurut, karena sikapnya tidak membuat emosi Evan terpancing sama sekali, yang akhirnya justru membuat Alaya sedikit malu pada dirinya sendiri karena sikapnya yang emosional.