Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
PERMINTAAN MAAF ALAYA


__ADS_3

“Aku serahkan masalah pemuda dan gadis ini kepadamu. Tolong bantu gadis ini membuat laporan tentang kejahatan yang sudah dilakukan oleh pemuda itu.” Evan berkata kepada manager restoran itu sambil bangkit dari duduknya, untuk menyelesaikan tagihan minuman dan makan siangnya yang tiba-tiba berantakan karena kehadiran Alaya dan pemuda itu barusan.


Bahkan semua yang dipesannya hari ini, belum sempat dinikmatinya sama sekali. Dan setelah peristiwa barusan, rasanya Evan lebih memilih untuk mencari makan di tempat lain saja daripada mood makannya menghilang.


“Eh, Tuan….” Alaya yang melihat bagaimana Evan berniat pergi dan tidak mau lagi mencampuri urusan mereka berdua, tiba-tiba ikut bangkit berdiri, dan mengejar sosok Evan yang mulai melangkan meninggalkan restoran itu.


“Kenapa Alaya?” Evan yang sudah melangkah cukup jauh dari Alaya menghentikan langkah kakinya, dan langsung menoleh ke arah Alaya.


“Tuan… terimakasih untuk hari ini. Maaf aku sudah salah faham denganmu tadi. Siapa suruh Tuan tidak langsung berterus terang padaku kalau Tuan tidak mengenal pemuda kurangajar itu.” Kata-kata Alaya membuat Evan tersenyum geli.


Gadis ini... benar-benar lucu. Cara dia menunjukkan rasa bersalahnya sungguh unik.


Evan berkata dalam hati sambil memandang ke arah Alaya dengan mata hijaunya yang terlihat ramah.


“Aku baru tahu ada cara baru berterimakasih dan minta maaf pada orang lain sambil mengomel seperti itu.” Perkataan Evan langsung membuat wajah Alaya memerah karena merasa malu dengan sindiran Evan padanya.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu ketahui dariku Alaya?" Seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Alaya, Evan langsung bertanya sambil tersenyum pada gadis yang menurutnya sangat menarik itu.


“Darimana Tuan tahu namaku?” Alaya bertanya dengan wajah penasarannya.


"Mmmm... apa kamu benar-benar tidak ingat padaku?" Evan berkata sambil menggerakkan tubuhnya ke samping, dan berjalan dengan langkah pelan, yamg tanpa sadar membuat Alaya langsung mengekor langkah-langkah Evan karena Alaya merasa penasaran dengan sosok laki-laki tampan yang sudah membuatnya terkagum-kagum itu.


Hal itu membuat Evan segera mengirimkan pesan kepada manager restoran agar dia mengurus masalah pemuda itu terlebih dahulu dengan polisi karena Evan bisa melihat bagaimana Alaya yang begitu penasaran dengannya dan sedikit lupa tentang urusannya dengan pemuda itu.


"Apa Tuan benar-benar mengenalku?" Alaya kembali bertanya sambil berusaha menjajari langkah-langkah Evan.

__ADS_1


"Aku lapar... bagaimana kalau kita mengobrol sambil makan siang?" Mata Alaya terlihat membulat dengan wajah bersemangat mendengar penawaran dari Evan.


"Oke, aku mau.... Biar aku yang traktir ya. Hitung-hitung, sebagai permintaan maaf karena sudah menuduh Tuan dengan sembarangan." Mendengar perkataan Alaya, Evan langsung tertawa geli.


Biasanya Evan tidak akan membiarkan seorang wanita mentraktirnya makan.


Akan tetapi untuk kali ini, rasanya Evan tidak keberatan untuk menuruti keinginan Alaya karena tiba-tiba saja Evan ingin lebih lama berada di dekat gadis cantik itu.


Dan makan siang bersama, bisa menjadi alasan yang tepat untuk membuat pertemuan mereka lebih lama lagi, sehingga Evan sengaja membiarkan Alaya mengajukan dirinya untuk mentraktirnya.


"Tuan...."


"Bisakah kamu jangan memanggilku dengan sebutan Tuan? Akan...."


"Kalau begitu, siapa nama Tuan?" Alaya langsung memotong perkataan Evan dengan wajah ingin tahunya.


Tidak sebesar restoran yang sebelumnya, tapi Alaya menyukai makanan yang disajikan di restoran itu, dan biasa menikmati makanan di sana bersama Alexis ataupun teman-temannya.


"Oke, Evan.... Eh... Evan? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa kamu bertanya apa aku sudah tidak mengingatmu?" Alaya bertanya sambil mengambil posisi duduk di salah satu sudut ruangan restoran yang menjadi favoritnya, di dekat jendela kaca yang besar, dimana dari sana, dia bisa melihat ke arah lantai bawah mall, dimana melihat aktifitas lalu lalang orang selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Alaya.


"Bagaimana kalau kita pesan makan siang kita dulu? Sepertinya aku sudah tidak tahan dengan para cacing di perutku yang terus memberontak." Perkataan Evan membuat Alaya langsung menganggukkan kepalanya sambil tertawa kecil.


Evan sendiri merasa heran dengan dirinya sendiri yang terbiasa berbicara secara formal dan sopan, cenderung serius meskipun dia orang yang ramah, tapi hari ini, sepertinya dia jadi suka sekali menggoda gadis di depannya sekarang, dan ingin berlama-lama dengannya, sehingga mencoba untuk memutar-mutar pembicaraan mereka.


Melihat bagaimana gadis itu tersenyum atau tertawa, membuat Evan tidak bosan-bosannya memandang ke arah gadis cantik itu.

__ADS_1


Apa aku pernah bertemu dengan seseorang yang mirip dengan gadis ini ya? Sehingga membuatku merasa tidak asing dengan wajahnya.


Evan yang melihat kemiripan wajah antara Alaya dan Alvero, tanpa sadar mulai bertanya-tanya dalam hati tentang wajah seseorang yang dia ingat mirip dengan Alaya, meskipun Evan tidak sampai berpikir kalau orang itu adalah Alvero, putra mahkota Gracetian, negara tempat kelahirannya.


"Biar aku yang memesan untukmu. Aku tahu menu terbaik dari restoran ini.” Dengan suara terdengar begitu bersemangat, Alaya berkata kepada Evan.


“Bukan karena itu makanan paling murah kan?” Mendengar kata-kata godaan dari Evan, membuat Alaya tertawa.


“Bahkan dengan membeli semua jenis makanan di restoran ini, tetap tidak akan membuatku bangkrut.” Alaya langsung membalas kata-kata Evan yang langsung membalasnya dengan sebuah senyuman manis, dan membiarkan Alaya benar-benar memilihkan menu untuknya.


Dan Alaya sengaja memesankan steak tenderloin dengan tingkat kematangan medium.


(Daging tenderloin adalah bagian daging untuk steak yang paling mahal dibandingkan dengan daging lainnya. Tenderloin dikenal juga sebagai fillet mignon atau daging has dalam.


Kelembutan tenderloin berasal dari kadar lemaknya yang rendah serta tidak memiliki otot yang menyebabkan daging menjadi alot. Tekstur lembut tenderloin membuat bagian daging sapi tanpa lemak ini menjadi primadona pecinta steak.


daging tenderloin akan memiliki tekstur yang lembap dibandingkan sirloin. Tenderloin juga memiliki aroma daging yang lebih kuat jika dibandingkan dengan sirloin.


Medium merupakan tingkat kematangan steak paling pas, tidak cenderung mentah tapi tidak terlalu matang. Pada tingkat medium, warna daging cenderung cokelat dan bagian dalamnya hanya sedikit pink. Tingkat kematangan medium biasanya menggunakan suhu 60 derajat sampai 65 derajat Celsius.


Pada tingkat kematangan ini, 40% kondisi daging masih segar atau belum matang sempurna. Tingkat kematangan ini menjadi standar kelezatan steak di seluruh dunia, bahkan di Indonesia karena tingkat kematangan ini pas dan enak untuk dinikmati. Pada tingkat ini, tekstur daging tidak se-juicy rare dan medium rare.).


Bagi Evan sendiri, sebenarnya untuk masakan steak, dia lebih menyukai steak dengan tingkat kematangan medium rare.


(Pada tingkat kematangan ini, 60% hanya matang bagian luarnya dan bagian dalamnya masih segar. Medium rare bisa juga disebut setengah matang. Mirip dengan steak yang tingkat kematangannya rare, medium rare ini juga menghasilkan tekstur daging yang lembut dan juicy).

__ADS_1


Melihat bagaimana Alaya yang terlihat begitu bersemangat ingin mentraktirnya dan memesankan makanan untuknya, membuat Evan hanya terdiam di tempat duduknya, dengan mata yang terus mengamati keberadaan Alaya tanpa henti.


__ADS_2