
"Emmm, Duke Evan...." Alaya belum lagi menyelesaikan bicaranya untuk mengingatkan Evan tentang apa yang sudah dia katakan kemarin ketika menemui Evan, ketika didengarnya suara langkah-langkah kaki mendekat, yang Alaya tahu, itu pastilah langkah kaki Alvero dan Deanda.
“Ah, Anda berdua sudah datang rupanya, selamat datang di istana, Duke Evan, dan juga Duchess Danella." Alvero yang sudah berada di dekat mereka segera memberikan salamnya pada Evan dan Danella yang langsung memberikan salam penghormatan mereka pada raja Gracetian yang hari ini tampil lebih rapi dari biasanya kalau menghadiri acara makan malam istana, karena baginya makan malam hari ini merupakan hari yang cukup istimewa dengan adanya Evan dan Danella, sebagai tamu kerhormatan.
"Selamat malam Yang Mulia, terimakasih untuk undangan makan malam hari ini." Evan segera menjawab sapaan dari Alvero dengan sikap hormat, sedang Deanda segera mendekat ke arah Danella yang langsung memeluknya, tanpa menyadari bahwa mata Alaya melirik ke arah Deanda dan Danella, dengan sedikit menahan nafasnya.
Sejak kepulangan Deanda dari Indonesia dan Deanda memberikan oleh-olehnya, permaisuri Alvero itu belum bertemu lagi dengan Danella yang merupakan salah satu orang yang kadang masih mengadakan acara makan siang bersama, meskipun boleh dibilang sangat jarang karena sikap posesif Alvero terhadap Deanda.
Bahkan Deanda sudah begitu hafal dengan sifat Alvero, yang hanya mengijinkannya bertemu dengan Danella yang sudah seperti ibu baginya itu, jika Evan sedang tidak ada di kota Tavisha.
Danella sendiri tidak mempermasalahkan itu, karena dia juga tidak ingin Deanda diserang gosip karena kedekatan mereka yang terlihat aneh bagi orang lain, apalagi karena Evan yang merupakan pria yang banyak dikagumi oleh para wanita itu belum menikah.
Padahal untuk yang tahu tentang hubungan Danella dan Deanda, mereka mengerti bahwa kedua perempuan cantik beda generasi itu dekat karena persahabatan yang tulus, tanpa adanya tendensi apapun dalam menjalin hubungan itu.
Sejak kembalinya Larena ke istana, sebenarnya beberapa kali Larena ingin bertemu secara khusus dengan Danella yang dulunya juga merupakan salah satu bangsawan yang sikapnya selalu ramah pada Larena yang kala itu sempat sedikit dikucilkan karena dia adalah permaisuri Gracetian pertama yang berasal dari golongan rakyat biasa, meskipun mereka tidak berani menunjukkan secara tearng-terangan tentang hal itu.
Sejak masa mudanya, Danella merupakan gadis keturunan bangsawan yang tidak pernah membeda-bedakan status sosial, karena alasan itu juga, saat pertama kali melihat sosok Deanda yang bukan sekedar cantik, tapi juga pemberani dan baik hati, dia begitu menyukai Deanda dan berharap bisa membuat Deanda menjadi menantunya.
__ADS_1
Sayangnya, takdir berkata lain, karena jodoh Deanda adalah Alvero, bukan Evan.
Keinginan Larena untuk bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama Danella, sampai saat ini belum bisa telaksana, karena tidak jauh berbeda dengan Alvero, Vincent bukanlah laki-laki yang mudah untuk dinego dan mau melepaskan Larena untuk bisa pergi bersama teman atau saudaranya.
Meski boleh dibilang itu adalah sikap yang egois, sejak Larena kembali ke sisinya, untuk saat ini Vincent lebih memilih menghabiskan waktu berdua dengan Larena, seolah ingin menebus semua waktu yang hilang selama ini, karena itu Larena juga belum bisa mengunjungi dan melepas rindu dengan teman-teman atau saudara-saudara yang lain sampai saat ini.
"Senang bisa melihat Anda berdua di tempat ini. Silahkan...." Alvero berkata sambil mengarahkan tangan kanannya, mempersilahkan Evan dan Danella yang sudah melepaskan rasa ridunya pada Deanda barusan, untuk segera menuju ruang makan istana.
Suara perbincangan dari orang-orang yang hadir di ruang makan istana langsung terhenti begitu mereka melihat kehadiran Alvero dan Deanda, disertai dengan Evan, Danella dan Alaya yang memilih untuk bersikap diam.
Beberapa putri yang hadir disana tampak kaget sekaligus senang melihat kehadiran Evan sebagai sosok pria hebat yang mengagumkan, dan yang pasti masih belum menikah.
Sesekali Alaya melirik ke arah Evan, berharap mendapatkan kesempatan untuk dapat berbicara, atau paling tidak memberikan kode untuk mengingatkan agar Evan menolak rencana perjodohan mereka, jika sampai Alvero benar-benar menyampaikannya.
Tapi apa mau dikata, sampai mereka duduk di kursi yang sudah disediakan, dengan posisi di dekat Alvero, Evan tidak sedetikpun melirik, apalagi memandang ke arah Alaya.
Haist... semoga duke Evan tidak lupa dengan pembicaraan kami kemarin. Kalau tidak, aku harus menjalankan rencana yang lain. Apapun yang terjadi, aku akan membuat duke Evan menolakku.
__ADS_1
Alaya berkata sambil melirik ke arah Deanda yang tampak anggun dengan rambut yang digelung ke atas, dengan gaun sederhana berwarna biru muda yang sedang dipakainya.
Meskipun gaun yang dikenakan oleh Deanda terksan simpel, tapi kecantikan dari kakak iparnya itu selalu membuatnya terkagum-kagum, sejak awal pertemuan mereka.
Kak Deanda memang wanita yang cantik sekali. Selain itu juga anggun dan dikenal baik hati pada semua orang, meskipun kebaikannya sering dimanfaatkan oleh beberapa orang yang tidak bertanggung jawab. Pantas saja para pria hebat di Gracetian banyak yang menyukainya, termasuk duke Evan yang dulunya begitu menyukai kak Deanda. Dan juga kak Alvero yang begitu tergila-gila dan posesif padanya.
Alaya berkata sambil tersenyum dengan tatapan kagumnya ke arah Deanda yang tiba-tiba saja memandang ke arah Alaya yang semakin melebarkan senyumnya karena Deanda yang sedang menatap Alaya, yang duduk tidak jauh dari Evan, dipisahkan oleh Vincent dan Larena yang sedari awal meminta Danella untuk duduk di sampingnya.
Alaya dan duke Evan... mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Semoga mereka bisa menjadi pasangan yang benar-benar saling mencintai, meskipun percintaan mereka harus dipaksakan dalam balutan perjodohan.
Deanda mendoakan mereka dalam hati, meskipun dia sendiri tahu jalinan cinta yang dipaksakan seperti itu, belum tentu bisa berakhir bahagia, karena dia sadar, cinta yang awalnya dipaksakan seperti antara dia dan Alvero, tidak semuanya berakhir bahagia.
Mungkin Deanda dan Alvero adalah satu dari beberapa orang yang beruntung, karena pada akhirnya mereka begitu saling mencintai. Tapi, sayangnya tidak semua orang yang awal kisah cinta mereka yang dipaksakan berakhir dengan bahagia.
Enzo yang datang sedikit terlambat, cukup kaget begitu melihat sosok Evan dan Danella di meja makan, karena bagaimanapun, Enzo sebagai saudara sepupu Alvero yang cukup dekat dengan Alvero tahu bagaimana pencemburunya Alvero pada Evan yang dia tahu dulunya sempat begitu mencintai Deanda.
Eh, ada acara besar apa sehingga Alvero mengundang duke Evan dan duchess Danella untuk makan malam bersama? Apa matahari sudah mulai terbit dari barat? Jika bukan karena perayaan khusus, sepertinya Alvero tidak mungkin membiarkan duke Evan berada dalam satu ruangan dengan jarak yang begitu dekat dengan Deanda. Pasti ada peristiwa besar yang sudah terjadi dan belum aku ketahui.
__ADS_1
Dengan wajah bertanya-tanya, Enzo mengambil posisi duduk, dan matanya langsung fokus ke arah Alvero dan Evan secara bergantian, tentunya dengan wajah terlihat begitu penasaran.