Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
BERSIAP UNTUK UNDANGAN MAKAN MALAM ISTANA


__ADS_3

Untuk hal itu, Evan tetap merasa maklum begitu mengingat bagaimana cara Alaya dibesarkan selama ini, hanya sebagai rakyat biasa, bukan sebagai putri, dan juga usianya yang masih muda, apalagi Evan bisa melihat kalau Alaya bukan sosok gadis yang pandai berpura-pura, bukan gadis yang munafik.


Jika saja itu gadis lain, yang gila harta dan kedudukan, jika gadis itu mengetahui akan dijodohkan dengannya, Evan tahu, sebagai orang yang dianggap penting dan hebat dalam kerajaan Gracetian, yang kedudukannya bahkan bisa dianggap membahayakan posisi putra mahkota yang tidak kompeten, pasti dengan senang hati gadis itu akan mengatakan ya, bukan justru dengan sikap terburu-buru dan seperti orang bingung, datang menemuinya, untuk memohon agar dia menolak rencana perjodohan itu.


Kenapa gadis itu terlihat takut sekali saat membicarakan tentang pernikahan? Seperti orang yang memiliki trauma pada sebuah pernikahan. Apa karena kehidupan sebelum memasuki istana, dia harus mengalami hal buruk karena dibesarkan tanpa orangtua lengkap, dan juga kondisi mental ibu suri Larena yang terganggu saat itu, sehingga dia hidup dalam lingkungan yang kurang kasih sayang?


Evan mulai bertanya-tanya dalam hati tentang bagaimana kehidupan Alaya selama statusnya masih sebagai rakyat biasa di luar negeri.


Meskipun tuan Alexis selalu berusaha melindungi putri Alaya dan ibu suri Larena waktu itu, aku yakin, dia yang harus meninggalkan anak kandungnya sendiri di Gracetian, tidak bisa hidup dengan damai, dan tidak bisa memberikan kasih sayang penuh pada putri Alaya lebih dari anak kandung yang dia tinggalkan di sini. Kisah putri Alaya dan Deanda itu, sama-sama memiliki ayah kandung yang tidak ikut membesarkan mereka, dan tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dan selayaknya dari seorang ayah... sungguh menyedihkan. Untung mereka berdua bisa tumbuh dengan baik dalam kondisi seperti itu.


Evan kembali berkata dalam hati, sebelum akhirnya menutup kembali undangan dari Alvero untuknya.


"Untuk besok sore, kosongkan semua jadwalku, karena aku akan menghadiri acara makan malam dengan yang mulia Alvero. Beliau mengundangku bersama dengan duchess Danella, sehingga aku butuh persiapan lebih lama untuk itu."


"Baik Duke Evan, saya akan mengatur kembali jadwal Duke Evan untuk besok sore...."

__ADS_1


"Jangan lupa untuk tiket penerbangan yang akan aku lakukan 4 hari lagi untuk melakukan pengecekan terhadap keluhan yang disampaikan earl Jerkin tadi." Evan segera mengingatkan Sam pada jadwal pekerjaan yang harus dia lakukan di kota lain.


Sebenarnya keberangkatan Evan 4 hari lagi tidak ada kaitannya dengan semua keluhan dari earl Jerkin, tapi karena hal yang dikeluhkan oleh earl Jerkin berada di lokasi yang sama dengan tujuan kota yang akan dia kunjungi, Evan memutuskan untuk sekalian melakukan pegecekan tentang hal itu.


"Baik Duke Evan. Semua sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk semua info yang tadi diberikan oleh earl Jerkin, saya sudah mengurusnya, dan sedang melakukan pengecekan tentang kebenaran dari keluhan itu.


“Bagus. Kamu tahu earl Jerkin orang yang cukup merepotkan. Aku ingin segera menyelesaikan urusanku dengannya, agar ke depannya dia tidak lagi mencari-cari kesempatan dan alasanuntuk bertemu denganku.” Evan berkata sambil kembali berjalan ke arah meja kerjanya, dan duduk kembali di kursinya.


Sekilas Evan menatap ke arah kursi yang ada di depannya, dimana sebelumnya Alaya duduk di sana dengan segala sikap dan perkataannya yang membuat Evan beberapa kali ingin tertawa geli.


Tanpa sadar, begitu mengingat tentang pembicaraannya dengan Alaya barusan, sebuah senyum manis tersungging di wajah Evan tanpa dia sendiri sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan saat bayangan gadis cantik itu terlintas di pikirannya.


“Kak Deanda… tolong aku….” Suara rengekan dari Alaya membuat Deanda tersenyum kecil, karena dia sendiri tahu bagaimana keras kepalanya Alvero, suaminya.


Saat Alvero sudah menginginkan atau memutuskan sesuatu, sangat sulit bagi orang lain, untuk mengubah jalan pikiran Alvero.

__ADS_1


“Maaf Alaya, kali ini aku tidak bisa membantumu. Apalagi kakakmu sudah bilang kalau cara menolak lamaran putra mahkota Christopher harus benar-benar tepat, agar tidak menimbulkan gejolak yang dapat menyebabkan kericuhan, apalagi di perbatasan.” Deanda berkata pelan sambil mengelus-elus bahu Alaya yang duduk di sampingnya.


Malam ini Alaya tampak cantik dengan gaun resmi berwarna putih tulang dengan hiasan pita berwarna emas di pinggangnya.


Sore tadi, Alvero sengaja meminta Alaya untuk berdandan, sehingga tidak perlu mengikuti acara afternoon tea, yang biasa diadakan di taman istana, dihadiri oleh para putri dan pangeran Gracetian, ibu suri Larena dan Vincent, juga beberapa tamu undangan yang berasal dari kaum bangsawan, yang secara bergantian sengaja mereka undang saat ada acara afternoon tea di istana.


“Apa tidak ad acara lain untuk membatalkannya?”


“Mungkin kamu harus bernegosiasi dengan duke Evan, untuk membantumu berpura-pura menjadi pasanganmu, sampai putra mahkota Christopher menyerah tentang rencananya untuk memperistrimu.” Deanda berkata sambil tertawa kecil, karena dia mengingat bagaimana dulu dia pernah menandatangani surat perjanjian sebelum menikah dengan Alvero, agar setelah Alvero menjadi raja, mereka bisa bercerai.


Akan tetapi tanpa sepengetahuan Deanda, Alvero membuat pernikahan mereka sesuai dengan hukum istana Gracetian, dimana yang bisa menceraikan seorang istri putra mahkota atau raja, hanyalah pihak laki-laki, yang pastinya, sejak awal, Alvero memang tidak ada niat untuk menceraikan Deanda dengan alasan apapun.


“Apa benar bisa seperti itu?” Alaya bertanya kepada Deanda dengan mata berbinar senang.


“Tidak! Aku hanya bercanda. Jangan coba-coba lakukan itu Alaya. Duke Evan adalah seorang jenderal besar yang pasti akan menjaga nama baiknya dengan hati-hati. Sekali dia menyatakan akan menikah denganmu, aku yakin dia tidak akan menarik ucapannya kembali. Dia orang yang dikenal sebagai sosok pria yang tegas dan selalu konsisten, meski jika dilihat dia orang yang selalu terlihat tenang dan ramah.” Penjelasan Deanda kepada Alaya, membuat gadis cantik itu langsung tertunduk lesu.

__ADS_1


“Kenapa kalian masih disini? Ayo kita berangkat ke ruang makan istana sekarang. Jangan sampai tamu undangan justru menunggu tuan rumah karena datang terlambat.” Alvero yang tiba-tiba muncul di dekat kedua perempuan cantik itu langsung berkata sambil berjalan ke arah Deanda, dan langsung mengulurkan tangannya ke arah Deanda yang langsung menyambutnya.


Begitu tangan Deanda sudah berada dalam genggaman tangannya, dengan gerakan lembut, Alvero menarik tubuh Deanda agar mendekat ke arahnya, dan langsung mencium kening wanita kesayangannya itu.


__ADS_2