
“Hah….” Alaya menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya benar-benar menghubungi bagian front office.
“Selamat sore Putri Alaya, apa ada yang bisa saya bantu?” Sophia sendiri, begitu melihat ada panggilan teleon dari ekstention yang berasal dari kamar tempat Alaya menginap, langsung mengangkatnya, dan menyapa Alaya dengan ramah.
“Selamat sore Nona Sophia. Apakah duke Evan masih menunggu di ruang tunggu front office?” Dengan tetap berusaha tenang, Alaya mencoba menanyakan tentang keberadaan Evan pada Sophia.
“Benar Putri. Duke Evan masih menunggu di sini. Apa ada pesan yang mau disampaikan Putri Alaya untuk duke Evan?” Sophia langsung menjadwab pertanyaan Sophia begitu diliriknya Evan memang masih duduk di sofa yang ada di ruang tunggu front office, dengan Sam yang berdiri tidak jauh dari tempat Evan duduk.
“Kalau begitu… tolong sampaikan pesan pada duke Evan, untuk beliau bisa menemuiku di kamar hotelku.” Alaya akhirnya memberitahukan kepada Sophia agar mempersilahkan Evan untuk datang ke kamarnya.
“Baik Putri, saya akan segera sampaikan pesan Putri Alaya pada duke Evan.” Dengan suara tetap terdengar ramah, Sophia berkata kepada Alaya sebelum akhirnya Alaya menutup kembali panggilan teleponnya setelah mengucapkan terimakasih kepada Sophia.
“Hah… sebentar lagi duke Evan datang. Aku harus bagaimana sebaiknya? Bagaimana aku harus memulainya?” Alaya berkata dengan tangannya yang masih memegang gagang telepon yang sudah terletak di tempatnya semula.
“Eh, tidak mungkin aku membiarkan orang lain melihatku mengenakan pakaian haram ini kalau tidak ingin menjadi pembicaraan memalukan di luar sana.” Alaya segera berlari ke arah pintu hotel, untuk sedikit membuka pintunya, dan sedikit mengganjalnya dengan kain keset, berharap dia tidak perlu membukakan pintu untuk Evan dan pengantarnya nanti, khawatir jika ada orang lain yang melihat dia dalam balutan pakaikan yang baginya kurang bahan itu.
# # # # # # #
“Permisi Duke Evan, Putri Alaya baru saja menyampaikan kalau Putri mempersilahkan Duke Evan untuk menemui Putri Alaya di kamarnya.” Meskipun sedikit kaget, Evan terlihat berusaha untuk tetap tenang begitu mendengar perkataan Sophia.
Bagi Evan, adalah suatu hal yang aneh, mengingat bagaimana penolakan Alaya terhadap dirinya tapi tiba-tiba saja Alaya ingin menemuinya di kamar tempatnya menginap, padahal awalnya tadi Evan berpikir bahwa Alaya pasti menemuinya di restoran hotel, atau bahkan di lobi hotel saja, tidak mungkin mau menemuinya di tempat yang bersifat pribadi seperti sebuah kamar.
Apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh my princess kali ini? Semoga itu bukan sesuatu yang tidak bisa aku atasi.
__ADS_1
Pada akhirnya Evan jadi menebak-nebak apa yang sedang direncanakan oleh Alaya padanya.
“Duke Evan, Jonathan akan mengantar Duke Evan, dan menunjukkan kamar Tuan Putri Alaya.” Dengan sikap sopan dan hormat, Sophia mengarahkan tangannya pada sosok seorang pelayan laki-laki, yang di bagian kiri dadanya terdapat pin nama bertuliskan Jonathan.
“Baik. Sam, kamu tunggu di sini dulu. Aku akan menemui Putri Alaya.” Evan memberikan perintah kepada Sam sambil bangkit dari duduknya.
“Baik Duke Evan.” Sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, Sam dengan sikap sigap dan tegas langsung menjawab perintah Evan padanya.
Sepanjang berjalan menyusuri lorong hotel menuju kamar Alaya, semakin mendekat, dada Evan terasa semakin berdebar-debar.
Antara rindu, cinta bersatu dengan rasa khawatir dan juga penasaran, bercampur jadi satu di dada Evan saat ini.
“Ini kamar yang ditempati Putri Alaya, Duke Evan…” Dengan sikap sopan, Jonatahan mengarahkan tangannya ke arah pintu kamar Alaya.
Apa maksudnya my princess melakukan hal berbahaya seperti ini? Bagaimana kalau ada orang asing atau orang jahat masuk ke kamarnya, menyerangnya dan membuatnya terluka? Apa dia tidak sengaja melakukannya? Tapi kenapa ada kain yang sepertinya sengaja diletakkan untuk mengganjal pintu. Apa dia sengaja melakukannya karena tahu aku yang akan datang mengunjunginya?
Evan kembali bertanya-tanya dalam hati, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk tetap mengetuk pintu kamar Alaya.
“Masuk!” Sebuah jawaban dari Alaya membuat Evan langsung membuka pintu tersebut.
“Kamu bisa pergi sekarang. Jika aku atau putri Alaya membutuhkan bantuan, kami akan menghubungi bagian front office.” Evan berkata kepada Jonathan dengan menahan gerakan tangannya pada pintu yang masih dibukanya seperempat.
“Baik Duke Evan. Kalau begitu saya akan kembali ke tempat saya bertugas.”
__ADS_1
“Oke, terimakasih sudah diantar ke sampai ke tempat ini.” Evan berkata sambil menyelipkan selembar uang dengan pecahan cukup besar sebagai tip untuk pegawai hotel itu.
Setelah itu Evan membuka lebar-lebar pintu kamar hotel Alaya, dengan mata memandang sekelilingnya, mencoba mencari sosok Alaya yang memang tidak terlihat sedikitpun.
Alaya memang awalnya sengaja bersembunyi di balik tembok, begitu dia menyadari kalau Evan tadinya tidak datang sendirian, dan sempat khawatir jika yang datang bersama Evan adalah Sam, yang pastinya akan diajak oleh Evan untuk masuk ke kamar itu.
Jika sampai itu terjadi, Alaya tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan rencananya terhadap Evan hari ini.
Alaya langsung menarik nafas lega begitu mendengar suara Evan yang menyuruh Jonathan pergi, yang artinya, sekarang hanya ada Evan dan dirinya, sehingga dia tidak perlu lagi menyembunyikan dirinya.
“Maaf membuat Duke Evan lama menunggu….” Alaya yang awalnya berada di balik tembok, berusaha dengan percaya diri tampil di depan Evan.
Evan yang langsung menoleh ke arah sumber suara spontan matanya melotot kaget melihat bagaimana Alaya dengan penampilannya yang sedang mengenakan lingerie di hadapannya.
Hal pertama yang dilakukan oleh Evan begitu melihat sosok Alaya yang begitu menggoda dengan lingerie yang memamerkan lekuk tubuhnya, dan mulusnya paha yang dimilikinya itu adalah berlarian ke arah pintu kamar Alaya, dan langsung menutupnya dengan rapat, untuk memastikan tidak ada orang lain yang bisa masuk ke kamar itu dari luar.
Evan melakukan itu bukan agar dia bebas melakukan apapun bersama Alaya di kamar ini, tapi dia tidak ingin ada orang lain, terutama pria lain yang bisa melihat kondisi menggoda iman karena penampilan sekkkk… ssiii Alaya saat ini.
“Apa kabar Duke Evan? Lama tidak bertemu…” Alaya berkata sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi duduk, dan kedua tangannya menumpu pada temapt tidur, sehingga membuat dadanya membusung ke depan, dan memperlihatkan belahan dadanya yang tidak tertutup sempurna karena minimnya bahan yang diperuntukkan untuk membuat lingerie itu.
Shitt! Apa maksud Alaya melakukan itu di depanku? Apa dia tidak tahu kalau tindakannya itu sangat berbahaya untuk kami berdua dan bisa membuatku khilaf dan meminta hakku sebagai suami kepada Alaya yang pastinya belum tahu saat ini dia sudah menjadi istriku yang sah.
Evan berkata dalam hati sambil berusaha menenangkan debaran jantungnya, dengan sedikit mengalihkan pandangan matanya setelah dia menelan ludahnya dengan susah payah, karena menyadari otot-otot di tubuhnya langsung menegang, dan sesuatu miliknya di bawah sana ikut terbangun karena tindakan Alaya saat ini.
__ADS_1
Seperti biasanya, Evan ingin dia selalu menjadi orang yang bisa menguasai keadaan, dan tidak memberikan kesempatan pada lawannya untuk berpikir bahwa mereka bisa menang melawannya.