Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
BE YOUR MAN


__ADS_3

"I love You my princess...." Evan berkata dengan begitu mesra sebelum dia benar-benar meminta haknya sebagai suami kepada Alaya yang wajahnya tampak pasrah, bersiap melakukan penyatuan mereka berdua, dari dua benar-benar menjadi satu.


"I love You too Evan... very-very love You." Alaya berbisik pelan sambil membalas ciuman Evan dengan menggigit kecil telinga Evan, yang membuat laki-laki itu sadar bahwa di bawah sana miliknya sudah begitu menegang, mengharapkan segera bertemu dengan pasangannya.


"I want You my princess. Be my woman today... be mine my princess." Evan berbisik pelan sambil mengecup sambil menjepit pelan leher jenjang Alaya dan meninggalkan tanda kepemilikannya di sana.


Dengan gerakan lembut, Evan langsung mengangkat tubuh Alaya, merelakan tangannya menjauh dari dua bukit kembar milik Alaya untuk sementara waktu, karena dia harus menggendong Alaya, dan meletakkannya di atas tempat tidur, sebelum dia sendiri ikut naik ke atas tempat tidur.


Tanpa membiarkan dirinya berhenti, dengan cepat Evan kembali mencumbu Alaya, berusaha menemukan kembali apa yang tadi sudah membuat jiwa laki-lakinya terbangun.


Bahkan bukan hanya tangan Evan yang terus bergerak menikmati semua bagian tubuh Alaya, bibir Evan juga ikut sibuk menjelajah, meninggalkan banyak tanda cinta berwarna merah di hampir seluruh tubuh Alaya yang sudah kehabisan kata-kata, setelah sebelumnya bibirnya berkali-kali menyebutkan nama Evan disertai dengan dess...ssahan yang membuat Evan semakin tidak bisa mengendalikan hasratnya, semakin tidak sabar untuk bisa menjadikan Alaya miliknya seutuhnya, hingga tangannya bergerak dengan cepat melepaskan gaun yang dikenakan oleh Alaya, dengan Alaya yang tangannya ikut bergerak melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Evan.


Sejenak Evan terdiam begitu melihat keindahan tubuh dari gadis yang begitu dicintainya itu, meski dua kain penutup bagian paling pribadi dari istrinya itu masih bertengger di tempatnya.


Dengan gerakan terliaht ragu, tapi Evan tahu dia tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak melakukan itu, tangan Evan bergerak, menelusup ke dalam bra yang menutup aset pribadi Alaya, menyentuhnya sekilas sebelum akhirnya tangannya bergerak ke bagian belakang tubuh Alaya untuk melepaskan pengait agar dia bisa melihat tubuh polos Alaya seutuhnya, yang sebentar lagi akan menjadi miliknya secara utuh.


Dan yang membuat Evan sungguh merasa bahagia, dia sadar bahwa dia akan menjadi laki-laki pertama, satu-satunya bagi Alaya dan mereka berdua melakukan itu atas dasar rasa saling cinta yang begitu besar satu sama lain.

__ADS_1


Sehingga bagi Evan, dia bukan hanya mendapatkan raga Alaya, tapi juga hatinya secara utuh, dan itu membuat hati Evan dipenuhi dengan rasa bahagia sekaligus bangga.


Evan langsung menelan ludahnya dengan kasar, dengan mata tidak berkedip sama sekali begitu melihat keindahan tubuh Alaya yang akhirnya polos tanpa sehelai benangpun menutupinya.


Alaya sendiri, meskipun masih merasa canggung dan malu, karena untuk pertama kalinya, seorang pria melihatnya tanpa sehelai benangpun meski pria itu adalah suami yang begitu dicintainya, tapi memilih untuk pasrah dan membiarkan Evan menatapnya dengan wajah dan tatapan matanya yang penuh hasrat kepada Alaya.


Namun pada akhirnya, karena Evan terus menatapnya tanpa berkedip sambil menelan ludahnya dengan susah payah, Alaya memalingkan wajahnya ke samping dan menggerakkan tubuhnya, agar bagian depan tubuhnya yang polos sedikit tertutp oleh selimut yang ada di sampingnya.


Akan tetapi, belum sampai Alaya benar-benar berhasil menggerakkan tubuhnya ke samping agar tubuh bagian depannya sedikit tertutup selimut tebal di sampingnya, tangan Evan langsung bergerak mencegah tindakannya, dengan wajah Evan yang tiba-tiba sudah begitu dekat dengan wajah Alaya.


Sebuah senyum manis bak malaikat yang biasa menghiasi wajah Evan terlihat oleh Alaya, sebelum akhirnya Alaya yang masih merasa canggung, dikejutkan dengan gerakan bibir Evan yang tiba-tiba sudah berada di salah satu ujung dari bukit kembarnya, dan dengan rakusnya menyusu seperti seorang bayi yang sedang kelaparan.


Untuk beberapa saat Alaya merasakan pikirannya melayang entah kemana, dengan gerakan tubuhnya menggeliat ke sana kemari tanpa bisa mengendalikan dirinya yang terus dibawa Evan untuk menikmati indahnya surga dunia, yang baru pertama kali ini dirasakannya.


Dengan semua usaha yang dilakukan Evan saat mencumbu Alaya, terlihat jelas bagaimana Evan yang terlihat begitu menantikan saat Alaya mencapai puncaknya, sehingga saat Evan melakukan penyatuan mereka yang sama-sama untuk pertama kalinya bagi mereka, Alaya tidak akan terlalu kesakitan.


Dan seperti harapan Evan, karena terlarut dalam gairah yang dicipatakan oleh Evan lewat sensasi sentuhan dan ciumannya, Alaya tidak sadar ketika benda pusaka milik suaminya tiba-tiba sudah hampir sepenuhnya memasuki tubuhnya.

__ADS_1


"My princess, aku akan memulainya, maaf jika ini akan menyakitkan untuk pertama kalinya bagimu." Evan berbisik lembut, sebelum akhirnya benar-benar membuat benda pusakanya menerobos masuk dan mengoyak tanda keperawanan milik istrinya.


Suara jeritan dari Alaya yang terdengar sambil memeluk erat tubuh Evan, bahkan sempat menjambak rambut emas Evan untuk mengurangi rasa sakit pada bagian intinya, membuat Evan berhenti sejenak sebelum akhirnya Evan merasakan gerakan tubuh Alaya yang mengijinkannya untuk kembali bergerak, sampai mereka berdua mencapai puncak penyatuan mereka, dan Evan menyemburkan benih-benih cintanya ke dalam rahim Alaya.


# # # # # # #


"I love You my princess, thank You to let me be your man today." Evan berbisik lirih, setelah penyatuan mereka berakhir, meskipun dia tetap berada di samping tubuh Alaya yang masih sama seperti dirinya,  tanpa sehelai kainpun di tubuh mereka saat ini.


"Aku akan mengantarmu ke kamar mandi untuk membersihkan diri." Evan berkata sambil melompat turun dari tempat tidur, di sisi lain yang berlawanan dengan tempat Alaya masih terbaring, mengatur nafasnya, dan juga menahan rasa perih di bawah sana.


Evan langsung bergerak mendekat dan berdiri tepat di samping Alaya yang langsung sedikit memalingkan wajahnya yang tampak memerah, begitu dilihatnya sosok Evan yang dengan percaya dirinya berdiri di depannya tanpa sehelai benangpun, dan juniornya masih tegak berdiri di tempatnya.


"Apa kamu tidak mengenakan pakaianmu dulu Evan?" Alaya bertanya dengan suara terdengar gugup, membuat Evan langsung tersenyum geli.


"Buat apa? Itu akan merepotkan kita, karena aku masih ingin lagi, setelah kita sama-sama membersihkan diri lebih dahulu..."


"Hah?" Alaya langsung menoleh dan menatap lurus ke arah Evan karena kaget dengan kata-kata Evan barusan.

__ADS_1


"Apa belum cukup sekali ini dulu saja untuk hari ini?" Sebuah senyum lebar langsung terlihat di bibir Evan mendengar pertanyaan polos Alaya yang wajahnya terlihat tegang, karena bagaimanapun dia masih merasakan bagaimana nyerinya bagian intinya saat ini.


__ADS_2