Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
SELALU MERINDUKANMU


__ADS_3

"Kenapa kamu terlambat hari ini sweety? Apa ada sesuatu yang lebih penting dari aku di luar sana." Alvero berbisik pelan tanpa membiarkan bibirnya menjauh dari bibir Deanda yang langsung menjawab pertanyaan Alvero tanpa kata-kata, tapi sebuah kecupan kecil di bibir suaminya itu, dan bagi Alvero itu sudah merupakan jawaban bahwa bagi Deanda tidak ada yang lebih penting dari Alvero.


"Apapun itu, asal kamu tidak sering-sering membiarkanku menunggu seperti hari ini. Aku sungguh merindukanmu." Alvero kembali berbisik pelan kepada Deanda dan kembali menyambar bibir istrinya dengan penuh kemesraan.


Deanda sendiri, yang sudah begitu terbiasa dengan sikap mesra Alvero padanya, hanya bisa pasrah saat suami yang begitu dicintainya itu meluapkan rasa rindunya dengan ciuman yang cukup dalam, padahal belum ada 1 jam dari saat mereka berpisah tadi.


“My Al….” Begitu Deanda bisa merasakan bagaimana ciuman yang diberikan Alvero mulai meningkat, semakin dalah dan semakin bergairah, Deanda segera menyebutkan nama panggilan kesayangannya untuk Alvero, agar Alvero sadar masih ada pengawal kembarnya di situ dan segera menghentikan tindakannya.


“Hah….” Dengan sikap tidak rela dan melenguh pendek, Alvero sedikit menjauhkan bibirnya dari bibir Deanda yang selalu saja membuatnya ketagihan dan sulit untuk berhenti.


“Aku lapar….” Deanda berbisik pelan, sengaja mengatakan hal seperti itu agar Alvero tidak lagi mengulangi kemesraan yang bisa jadi membuat mereka berakhir di tempat tidur tanpa sempat menikmati makan siang mereka.


“Ah, kalau begitu kamu harus cepat makan. Tidak baik kalau kita membiarkan bayi dalam perutmu ikut merasakan kelaparan.” Alvero yang begitu menyayangi dan bangga dengan keberadaan calon bayi yang ada dalam perut Deanda, meskipun bayi kecil itu masih belum dilahirkan, langsung melepaskan pelukannya pada tubuh Deanda, lalu menuntun tubuh Deanda, mengajaknya ke salah satu sisi ruangan kerjanya yang memiliki ruang makan pribari di kantornya.

__ADS_1


Jika itu tentang Deanda dan calon anak dalam perut istri kesayangannya itu, Alvero yang biasanya keras kepala dan sulit untuk mengalah, akan memilih untuk mengalah demi mereka berdua.


Karena Alvero akan mengalami alergi saat bersentuhan fisik dengan wanita lain (kecuali Deanda, Alaya, Larena dan nyonya Rose), membuat Alvero tidak suka jika harus menghabiskan waktu makan siangnya dengan orang lain, meskipun jika Deanda yang meminta sekali-sekali mereka akan pergi makan siang bersama pegawai lain.


Untuk makan malam di istana, adalah hal yang begitu sulit dihindari oleh Alvero.


Akan tetapi untung saja sebagai raja Gracetian, dia memiliki kedudukan paling tinggi di negara Gracetian, termasuk istana Gracetian, dia memiliki kuasa untuk mengatur apa yang terjadi di ruang makan istana, dengan posisi duduknya yang relatif aman dari sentuhan wanita.


Karena sebagai raja, Alvero memiliki posisi duduknya sendiri, dan juga orang-orang yang boleh duduk di dekatnya adalah orang dengan ikatan dekat dengannya, seperti Deanda, Larena dan juga Alaya, sehingga itu membuat posisinya cukup aman dari sentuhan wanita lain meskipun tidak disengaja.


"Baik Yang Mulia." Dengan posisi masih membelakangi Alvero, dengan sedikit menolehkan kepalanya tanpa berani melirik ke arah Alvero dan Deanda, Erich dan Ernest langsung menjawab perintah dari Alvero dengan cepat, dan dengan langkah cepat, mereka segera meninggalkan ruangan itu.


"Eh, my Al? Apa kamu ada rencana lain? Kenapa meminta mereka untuk pergi?" Deanda bertanya dengan wajah heran, karena biasanya entah itu Ernest, entah itu Erich, atau kedua-duanya, selalu tetap berada di sisi Alvero saat Alvero makan siang.

__ADS_1


"Tidak ada, aku cuma ingin hari ini bisa makan siang berdua denganmu tanpa ada yang mengganggu." Alvero berkata sambil mengerlingkan matanya ke arah Deanda yang hanya bisa meringis melihat tingkah suaminya.


Dasar yang mulia... selalu saja mencari-cari kesempatan untuk berbuat mesum.


Deanda berkata dalam hati sambil tangannya bergerak, melingkar ke lengan Alvero, sehingga lengan kokoh itu menyentuh aset pribadi Deanda yang selalu berhasil membuat detakan jantung Alvero semakin menggila.


Sweety....


Alvero hanya bisa berkata dalam hati tanpa bisa mengucapkan apapun di depan Deanda yang penuh senyum di wajahnya karena sengaja menggoda Alvero, Deanda sengaja melakukan hal itu, membuat wajah Alvero sedikit memerah sambil menahan nafasnya, dan juga... gejolak dalam dada dan tubuhnya karena godaan dari Deanda yang selalu membuatnya seperti orang mabuk yang tidak bisa lagi berpikir normal.


"Ayo kita makan my Al." Dan dengan wajah tidak berdosanya, Deanda tiba-tiba melepaskan pelukan tangannya, dan langsung mengambil posisi duduk di kursi meja makan, dengan mata menatap penuh dengan selera ke arah sajian makanan yang tertata rapi di depannya.


Melihat itu, Alvero hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, untuk kemudian tersenyum dan mengambil posisi duduk tepat di samping Deanda, mengikuti tindakan istrinya itu.

__ADS_1


Sweety ternyata sekarang nakal sekali padaku.... Jangan harap aku akan tinggal diam dengan kenakalanmu.


Alvero berkata dalam hati sambil tiba-tiba menarik tengkuk Deanda dan merebut potongan apel yang sedang digigit Deanda, dan setengah bagian dari apel itu masih ada di luar bibir Deanda, dengan tangannya yang lain sibuk bergerak mengelus bagian punggung Deanda, menyentuh langsung kulit punggung mulus itu, setelah tangan Alvero menyelinap masuk ke balik blazer yang dikenakan oleh Deanda.


__ADS_2