Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
PEMBICARAAN KELUARGA


__ADS_3

Karena itu, saat ini Alaya memilih untuk diam, karena kondisi hatinya yang sedang begitu emosional sedang tidak ingin mengatakan apapun pada mereka, sebagai bentuk protes dan rasa kecewanya terhadap orang-orang yang diharapkannya bisa membantunya lepas dari Evan.


Tapi pada kenyataannya, tanpa mempertimbangkan perasaannya, keempat orang itu justru membuatnya terikat seumur hidup dengan Evan, tanpa dia memiliki kesempatan untuk merubahnya sedikitpun saat ini, terpaksa menerima nasibnya.


“Alaya….” Larena yang melihat sikap tidak perduli Alaya padanya, sebuah sikap yang selama ini tidak pernah ditunjukkan kepada Alaya padanya, langsung bergegas mendekat ke arah Alaya, dan langsung memeluk dari arah samping, tubuh Alaya yang duduk di pinggiran tempat tidur.


Alaya yang mendapatkan pelukan dari mamanya, langsung mengalihkan wajahnya ke samping, agar mereka semua tidak bisa melihat bagaimana airmatanya langsung turun begitu Larena memeluknya.


Bagi Alaya yang selama ini memiliki hubungan begitu dekat dengan Larena, rasanya ingin sekali dia membalas pelukan Larena, dan menangis sepuasnya di dalam pelukan Larena yang baginya selalu terasa hangat dan nyaman untuknya.


Tapi rasa kesal dan emosi yang dirasakan oleh Alaya karena mereka berempat sudah begitu mendukung Evan untuk menikahinya, membuat Alaya menahan dirinya dengan tetap diam dan mematung, tanpa membalas pelukan Larena.


Melihat itu, baik Deanda dan Alvero, termasuk Vincent, hanya bisa menarik nafas panjang.


“Larena….” Dengan suara lembut Vincent akhirnya menarik tangan Larena, sengaja melakukan itu agar Larena melepaskan pelukannya pada Alaya yang masih menjauhkan wajahnya dari pandangan mereka berempat.


“Kita harus tenang….” Perkataan Vincent membuat Larena dengan berat hati melepaskan pelukannya pada anak gadis kesayangannya itu, dan bangkit berdiri, mengikuti langkah Vincent yang mengambil posisi duduk di depan Alaya menggunakan kursi yang sudah ditarik mendekat oleh Alvero.

__ADS_1


Setelah itu Alvero memilih duduk sejajar dengan Larena dan Vincent yang duduk bersebelahan, tepat di depan Alaya.


Deanda termenung sejenak, sebelum akhirnya dia memilih untuk duduk di pinggiran tempat tidur, tepat di sebelah Alaya.


“Alaya, kita semua harus bicara… mungkin ini bukan hal yang mengenakkan untukmu, tapi kita harus membicarakannya, karena ini menyangkut kehidupanmu di masa depan. Dan kehidupanmu sebagai duchess Carsten sekarang, akan sangat mempengaruhi kehidupan di kerajaan Gracetian juga, karena Evan merupakan orang penting di kerajaan ini.” Alvero langsung membuka pembicaraan begitu mereka semua sudah dalam posisi duduk.


Alaya yang awalnya mengalihkan wajahnya ke samping sambil menahan tangisnya agar tidak bertambah keras, akhirnya dengan sikap terpaksa dan menarik nafas dalam-dalam, menggerakkan kepalanya lurus ke depan, agar Alvero dan yang lain bisa melihat wajahnya.


“Alaya… maafkan kami karena harus mengambil jalan yang sulit untukmu.” Larena langsung mengeluarkan kata-katanya sebelum Alvero kembali membuka suaranya.


“Alaya….” Deanda dengan lembut mengelus paha Alaya, untuk membantu menenangkan hati gadis itu, karena dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Alaya sekarang.


Menikah dengan orang yang tidak diinginkannya dengan begitu banyak alasan, memang menjadi hal yang berat bagi seorang wanita.


“Kondisi saat itu sangat mendesak. Aku sebagai raja yang meminta Evan untuk menikah denganmu. Jika ada orang yang harus disalahkan di sini, itu adalah aku.” Perkataan Alvero membuat semua orang menatap ke arahnya, termasuk Alaya.


“Sebagai raja, kadang aku memang harus bersikap egois dan tidak masuk akal, jika itu menyangkut keamanan negara atau keselamatan banyak orang. Saat kamu tidak sadar, entah itu putra mahkota Christopher, entah itu putra mahkota Hector, ataupun duke Hugo, semua berusaha memojokkan Evan dan kamu, dan mereka menggiring opini publik untuk menjatuhkan keluarga Adalvino maupun Carsten.” Alvero menghentikan kata-katanya sejenak.

__ADS_1


“Mereka sudah membuat keributan di dunia maya dengan pembicaraan mereka tentang hubunganmu dengan Evan, yang tidak bisa kalian jelaskan di depan public waktu itu karena kamu tidak sadarkan diri. Aku sebagai penanggungjawab penuh kehidupan keluarga Adalvino, dan Evan sebagai penanggungjawab keluarga Carsten, kami berdua tidak punya pilihan lain. Dan kamu sebagai putri Gracetian, mau tidak mau juga harus ikur menanggung beban ini di atas pundakmu….” Alvero kembali melanjutkan perkataannya.


“Sebagai seorang putri, keturunan bangsawan dengan nama Adalvino di belakang namamu, mau tidak mau itu membuatmu tidak bisa hidup seenaknya, karena kita diikat dengan begitu banyak peraturan dan juga pertimbangan dalam memutuskan sesuatu, tidak seperti rakyat biasa yang tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu. Mereka bisa bertindak sesuka hati mereka tanpa ada yang melarang, asal tidak melanggar hukum yang berlaku. Tapi tidak dengan kita….” Perkataan Alvero yang bijaksana, membuat Alaya terdiam, dan sedikit melupakan tentang emosi yang benar-benar dia rasakan barusan.


Karena mau tidak mau, apa yang dikatakan oleh Alvero semua adalah sebuah kebenaran dan kenyataan yang memang harus dia hadapai, meskipun hatinya belum sepenuhnya menerima kenyataan yang terjadi padanya saat ini.


“Aku tahu kalau kamu masih marah pada kami, dan juga Evan, tapi kami melakukan ini juga karena mempertimbangkan bagaiman Evan yang terlihat begitu perduli dan mencintaimu.” Kata-kata tambahan dari Deanda membuat Alaya langsung menoleh ke arah Deanda dengan tatapan tidak percayanya.


Bagaimana bisa kak Deanda mengatakan kalau duke Evan perduli dan mencintaiku, setelah beberapa waktu sebelumnya, duke Evan sangat mengaguminya dan juga sudah jatuh cinta padanya.


Alaya berkata dalam hati dengan dada yang terasa sakit begitu dia mengingat bagaimana Evan yang memang pernah dikabarkan sangat menyukai Deanda.


“Kenapa wajahmu terlihat bingung Alaya? Bukannya kalian berdua dulunya pernah memiliki hubungan khusus saat kamu masih tinggal di luar negeri dan bertemu dengan Evan yang sedang melakukan tugasnya sebagai duke Gracetian? Aku yakin di masa lalu kalian berdua adalah dua orang yang saling mencintai, meskipun aku sungguh tidak tahu apa alasan yang membuat kalian berpisah dan putus.” Alaya langsung membeliakkan matanya mendengar penjelasan panjang lebar dari Alvero, yang bagi Alaya sungguh aneh, karena kenapa tiba-tiba Alvero tahu dia dan Evan memiliki hubungan yang cukup istimewa di masa lalu.


“Lalu apa salahnya jika perasaan itu kalian pupuk kembali sekarang?” Pertanyaan Alvero kali ini membuat mata Alaya semakin terbeliak.


“Darimana… kakak tahu aku dan duke Evan pernah memiliki hubungan khusus di masa lalu?” Alaya bertanya kepada Alvero dengan wajah heran, karena seingatnya, selain Evan dan dirinya waktu itu, tidak ada seorangpun yang tahu tentang hubungan kasih antara dia dan Evan, yang sengaja mereka simpan berdua, sampai Evan kembali, yang pada akhirnya, Evan tidak pernah kembali sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2