Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
TINDAKAN NEKAT ALAYA


__ADS_3

Oh my God! Serius? Wah…. Alvero benar-benar tidak mau menunda rencana perjodohan ini. Aku tidak menyangka kalau secepat ini Alvero memberikan pengumuma. Itu artinya secepat ini pula Evan menerima rencana perjodohan itu. Alaya pasti kecewa berat, baik pada Alvero, maupun pada Evan. Benar-benar kacau. Tapi apa mau dikata, dengan statusnya sebagai raja Gracetian, mana berani orang menegur Alvero yang pasti sudah berpikir panjang sebelum memutuskan untuk mengumumkan hal ini pada keluarga kerajaan.


Enzo berkata dalam hati dengan mulut melongo.


Meskipun tadi Enzo sempat mendengar dari Alaya tentang rencana perjodohan antara Alaya dan Evan. Enzo benar-benar tidak menyangka kalau Alvero akan mengumumkannya secepat ini dan Evan… yang setahu Enzo begitu menyukai Deanda… Enzo sungguh tidak menyangka kalau dengan mudahnya Evan mengiyakan penawaran dari Alvero.


Larena bahkan tanpa sadar bergerak, berencana bangkit dari duduknya, tapi tangan Vincent segera mencegahnya karena mata Alvero sudah menatap tajam ke arah Alaya, menunjukkan kalau raja tampan itu sungguh keberatan dengan sikap sembrono yang ditunjukkan Alaya, yang bisa mencoreng nama baiknya sendiri di depan Evan yang bukan hanya sebagai calon suaminya, tapi sebagai duke, yang artinya juga adalah orang dengan status tinggi yang di atasnya, dimana seharusnya Alaya menjaga sikapnya dengan baik di depan Evan.


Tanpa perduli dengan wajah-wajah kaget semua orang yang ada di ruangan itu, Alaya langsung berdiri tepat di samping Evan duduk dengan sikap tenangnya.


Wajah Deanda langsung terlihat sedikit panik, begitu melihat apa yang dilakukan oleh Alaya, apalagi di depan banyak orang, di acara semi resmi, acara makan malam istana.


Bagi Deanda yang juga memiliki sikap pemberani dan selalu tidak takut membela kebenaran, tapi jika itu kaitannya dengan masalah sopan santun dalam bertindak sebagai rakyat awam waktu itu, dia benar-benar akan berpikir puluhan kali sebelum melakukan hal seperti Alaya saat ini, pasti akan menahan dirinya untuk bertindak senekat Alaya.


Kebiasaan hidup Deanda sebagai rakyat biasa di negara dengan sistem pemerintahan monarki absolut, membuatnya begitu menghormati kaum bangsawan yang statusnya ada di atasnya, apalagi Alvero yang saat itu merupakan seorang putra mahkota.

__ADS_1


Sedang Alaya yang sejak lahir dibesarkan di negara Eropa yang tidak lagi mengenal sistem pemerintahan kerajaan, membuat dirinya memiliki pikiran yang lebih bebas, tidak ingin terikat dan sulit untuk memahami kenapa dia harus bersikap begitu hormat, bahkan seperti menganggap para bangsawan adalah tuan bagi orang-orang yang statusnya ada di bawahnya.


“Duke Evan, sepertinya kita perlu bicara secara pribadi sekarang dan…”


“Putri Alaya… tolong jaga sopan santunmu di depan duke Evan. Kamu….” Alvero langsung memotong perkataan Alaya dan menegurnya dengan keras, karena sikapnya sebagai putri dianggap tidak sopan kepada Evan yang posisinya ada di atasnya.


“Yang Mulia Alvero….” Deanda langsung mengucapkan nama Alvero, mencegahnya untuk melanjutkan teguran kerasnya pada Alaya.


“Yang Mulia, seperti permintaan putri Alaya, sepertinya kami berdua perlu berbicara secara pribadi untuk membahas rencana pertunangan kami, yang pastinya membuat putri Alaya terkejut karena semuanya terjadi dengan begitu tiba-tiba, tanpa konfirmasi apapun sebelumnya kepadanya.” Dengan suara dan sikap tenang, Evan berkata sambil menggeser kursi yang didudukinya ke belakang, untuk kemudian dia bangkit berdiri, dan menggerakkan tubuhnya hingga saat ini antara Evan dan Alaya, berdiri dengan saling berhadapan.


Panggilan lembut dari Deanda dengan nada mengingatkan yang tidak semua orang bisa menangkapnya, dan juga pembelaan Evan terhadap sikap Alaya yang ingin meminta penjelasan padanya, membuat Alvero tidak melanjutkan tegurannya pada Alaya.


Wajah Larena yang awalnya begitu tegang, terlihat mulai tenang begitu melihat bagaimana sikap tenang Evan, yang tidak mempermasalahkan tindakan tidak sopan Alaya padanya, dan juga dari wajahnya Evan tidak memperlihatkan wajah marah ataupun kesal pada Alaya.


Alvero sengaja menjodohkan Evan dan Alaya? Dengan sifat keras kepala dan suka bertindak sembarangan dari Alaya, semoga Evan benar-benar bisa menjaga dan mendidik Alaya dengan baik, terlebih…. Bisa mencintai Alaya dengan tulus. Dia terlalu lama hidup dengan kekurangan kasih sayang seorang ayah. Sosok suami yang diharapkan Alaya adalah pria yang bisa mengayomi dan menyayanginya, bisa bersabar terhadapnya. Semoga Evan adalah pria yang tepat untuk Alaya.

__ADS_1


Larena hanya bisa mendoakan Alaya dan Evan dalam hati, karena dia tahu, sebagai ibu dari Alaya, hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini, apalagi keputusan sudah keluar dari bibir Alvero yang merupakan raja Gracetian.


Siapapun tahu, akan sulit untuk mengubah keputusan yang sudah disampaiakan oleh raja, kecuali raja itu sendiri yang mencabutnya.


Dan bagi Larena, tentu saja jauh lebih baik menerima Evan sebagai menantunya daripada putra mahkota Rodfeel yang dikenal mata keranjang, playboy dan kurang bertanggungjawab dalam hubungannya dengan para wanita itu.


Sedangkan Alvero tidak bisa lagi mencabut keputusan itu terkait dengan janjinya pada Evan, meskipun  untuk saat ini, tentang perjanjian itu, hanya Evan dan Alvero yang tahu.


“Hemmm….” Alvero hanya bisa menghela nafasnya sebelum akhirnya tangannya bergerak, memberi tanda kepada Erich yang sedang berdiri dengan sikap sigap di dekat pintu, untuk mendekat ke arah Alvero.


“Ya Yang Mulia Alvero.” Erich yang sudah berdiri di dekat tempat duduk Alvero segera berkata dengan sikap hormat pada Alvero yang belum mengalihkan pandangan matanya dari sosok Evan dan Alaya yang masih dalam posisi saling berhadapan, tanpa saling bicara, hanya memandang satu dan yang lain dengan sikap yang jauh berbeda.


Dari pandangan matanya, tampak begitu jelas kalau Alaya sedang terlihat gusar dan juga wajah paniknya, sedang Evan, dengan wajah tampannya yang terlihat tenang, justru memandang ke arah Alaya dengan senyum tipis menghiasi wajah bak malaikatnya tersebut.


“Erich, duke Evan dan putri Alaya butuh tempat untuk berbicara secara pribadi. Antarkan mereka berdua ke ruang kerja pribadiku, dan pastikan tidak ada orang yang mengganggu pembicaraan mereka berdua.” Alvero segera memberikan perintah kepada Erich yang langsung menganggukkan kepalanya dengan sikap hormat, dengan wajah serius dan tanpa senyum seperti biasanya.

__ADS_1


“Silahkan mengikuti saya Duke Evan, Putri Alaya….” Dengan merentangkan tangannya, Erich mempersilahkan Evan dan Alaya untuk mengikutinya, agar bisa mengantar mereka berdua ke ruang kerja Alvero yang biasanya hanya bisa dimasuki oleh orang lain atas seijin Alvero sendiri.


Dengan langkah bergegas, tanpa menunggu Evan, Alaya langsung berjalan mendahului Evan ke arah ruang kerja pribadi Alvero, yang memang sudah diketahui dengan baik oleh Alaya dimana letaknya.


__ADS_2