Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
RASA CURIGA SAM


__ADS_3

“Saya sudah menyiapkan semuanya, kita akan segera mulai proses hipnoterapinya. Bisakah Duke Evan berpindah ke tempat duduk yang ada di sana?” Perkataan Dokter Jordan membuat Evan maupun Sam menoleh kea rah sebuah tempat duduk yang terlihat besar dan nyaman, yang memang biasa digunakan oleh dokter Jordan untuk melakukan proses hipnoterapi.


Kursi itu seperti sofa yang bisa dinaik turunkan, diluruskan atau ditekuk, sesuai dengan selera dan kenyamanan pasien, yang bisa duduk dengan posisi setengah berbaring dan kaki selonjor dengan nyaman.


Sam yang melihat adanya perubahan rencana tampak menatap dokter Jordan dengan tatapan protesnya, dia langsung bergerak untuk mempertanyakan hal itu kepada dokter Jordan, kenapa tiba-tiba Evan harus duduk kembali di kursi itu.


Akan tetapi dengan cepat, tangan Evan menahan lengan Sam, dan menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda agar Sam membiarkan dokter Jordan memintanya duduk di kursi tempat biasa dilakukannya hipnoterapi.


Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya prosesi hipnoterapi ini hanyalah pura-pura belaka untuk mengecoh duchess Kattie dan tidak benar-benar dilakukan? Tapi kenapa sekarang sepertinya dokter Jordan membuat duke Evan kembali melakukan hipnoterapi yang sesungguhnya? Apa maksud semuanya ini? Apa dokter Jordan sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada duke Evan?


Sam berkata dalam hati dengan mata menatap tajam ke arah Evan yang menuruti keinginan dokter Jordan, benar-benar duduk di kursi itu dengan sikap tenang.


"Apakah Anda sudah merasa nyaman Duke Evan?" Dokter Jordan yang berdiri tepat di samping Evan, bertanya sambil mengeluarkan foto dari saku snellinya (jas dokter).


"Silahkan mulai proses hipnoterapinya." Evan berkata sambil menarik nafas panjang, sedang Sam yang mengamati kejadian itu menatap ke arah mereka dengan perasaan tidak tenang, karena kejadian ini sudah melenceng dari yang seharusnya direncanakan.


Sam yang memang tidak mengetahui bahwa ada Kattie yang sedang mengawasi mereka hanya bisa diam di tempatnya tapi seluruh indra yang dia miliki coba dia pertajam untuk melihat mengamati apa yang akan terjadi.

__ADS_1


"Anda bisa mengambil posisi duduk sesantai mungkin, tarik nafas dalam-dalam dan tenangkan pikiran Anda Duke Evan." DokterJordan berkata pelan sambil menatap ke arah Evan yang sedikit menggerakkan tubuhnya ke atas sebelum melipat kedua tangannya di atas perut berototnya dan menarik nafas panjang.


"Jangan fokus pada sakit kepala Anda, kita akan berbincang sedikit tentang orang-orang di sekitar Anda dan menemukan penyebab sakit kepala Anda supaya kita bisa menghilangkannya." Dokter Jordan kembali berkata dengan tangannya yang memegang foto Alaya terarah kepada Evan.


"Apa Duke Evan mengenal gadis dalam foto ini?" Dokter Jordan berkata sambil menyodorkan foto Alaya ketika dia masih remaja dengan model rambut lurusnya.


Cantik... sangat cantik.... Sama dengan sosok my princess ketika remaja, yang ada di ingatanku yang sudah kembali saat ini. My princess sejak masih remajanya adalah gadis yang sangat cantik. Pantas saja aku begitu sulit untuk menolak pesonanya, dan langsung jatuh cinta padanya saat itu.


Evan berkata dalam hati dengan berusaha keras menahan senyum terlihat di bibirnya karena rasa bahagia dan cinta yang tiba-tiba membuncah di dadanya begitu melihat sosok cantik Alaya di foto itu.


"Tidak... aku tidak mengenalnya. Mungkin orang yang sempat aku kenal, tapi aku sudah tidak lagi mengingatnya...." Evan berkata tanpa mengalihkan tatapan matanya ke arah foto itu.


"Coba amati-amati lagi siapa gadis yang ada dalam foto ini." Evan sedikit mengernyitkan dahinya berpura-pura untuk mengingat siapa gadis itu.


"Maaf Dokter Jordan, aku tidak bisa mengingatnya...."


"Ini adalah foto putri Alaya. Foto putri Alaya ketika masih remaja, masih di bangku kuliahnya saat itu." Dokter Jordan langsung menyambung perkataan Evan.

__ADS_1


"Putri Alaya... Alaya Adalvino?" Evan terlihat kaget mendengar jawaban dari dokter Jordan.


"Benar. Putri Alaya, dia sebenarnya adalah penyebab utama timbulnya sakit kepala yang Duke Evan alami." Dokter Jordan menjawab pertanyaan Evan dengan cepat.


"Bagaimana bisa seperti itu? Kami bahkan belum saling ketika dia masih remaja." Evan berkata sambil melirik Sam yang wajahnya terlihat begitu tegang saat ini.


"Saya tidak tahu apa yang terjadi pada anda berdua waktu itu. Mungkin ada peristiwa buruk yang terjadi diantara kalian. Tapi jika Duke Evan ingin menghilangkan sakit kepala itu, kita harus mencoba menggali tentang ingatan itu dan menghapuskan bagian tentang ingatan yang buruk itu." Dokter Jordan berusaha menjelaskan kepada Evan.


"Kalau begitu baiklah. Dokter bisa memulai hipnoterapi ini." Evan berkata sambil berusaha membuat rileks tubuhnya.


Setelah beberapa waktu berjalan, Sam terlihat semakin tidak tenang begitu dia merasa kalau dokter Jordan seolah-olah sengaja mengarahkan duke Evan untuk kembali melupakan Alaya.


"Maaf Duke Evan, untuk sesi selanjutnya, bisakah Duke Evan membiarkan hanya kita berdua yang ada di ruangan ini?" Permintaan dari dokter Jordan membuat Sam sedikit menahan nafasnya, karena dia betul-betul keberatan jika sampai terjadi sesuatu pada Evan.


"Sam... seperti permintaan dokter Jordan, kamu bisa berjaga diluar ruangan ini." Evan berkata tanpa menoleh ke arah Sam.


"Duke Evan, maaf jika saya lancang. Saya tidak akan membiarkan Duke Evan hanya berdua dengan dokter Jordan. Duke Evan harus ingat tentang kejadian waktu itu..." Sam segera menyatakan protesnya, berusaha mengingatkan pada Evan tentang bagaimana dokter Jordan yang pernah menghapuskan ingatannya tentang Alaya di masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2