
Jika Alaya merasa apa yang dilakukannya bisa membuat Evan tidak menyukainya dan membatalkan niat untuk menikahinya, tanpa setahu Alaya, justru sebaiknya yang sekarang sedang terjadi pada Evan.
Setiap tingkah laku dan tidakan Alaya membuat Evan semakin tidak ingin melepaskan Alaya, dan semakin ingin segera menjadikan gadis cantik itu miliknya.
Bahkan sejak dia menyetujui rencana perjodohan itu, tanpa sadar seringkali Evan melamunkan sosok Alaya dan diam-diam selalu tersenyum sendir tanpa alasan yang jelas.
Perginya nyonya Rose dari kamar itu, membuat suasana menjadi sunyi secara tiba-tiba, dengan Alaya yang tiba-tiba merasakan udara di sekitarnya terasa panas dan tidak nyaman untuknya, membuatnya ingin mengipas-kipas wajahnya, tapi tidak berani melaukannya.
Untuk beberapa saat Evan masih berdiri di tempatnya dengan mata menatap ke arah Alaya yang menjadi semakin salah tingkah dengan tindakan Evan itu.
Jika saja bisa, rasanya Alaya ingin melarikan diri dari hadapan Evan sekarang juga, namun sayangnya Alaya tidak bsia melakukan itu karena sudah terlanjur berpura-pura sakit.
Meskipun sebenarnya, saat ini Evan sedang menatap Alaya dengan tatapan lembut, bukan tatapan mengintimidasi seperti sedang menghadapi seorang kriminal dan berusaha mengorek info dari penjahat.
Akan tetapi bagi Alaya, tatapan Evan sungguh sangat mematikan untuknya, apalagi dia sedang dalam posisi berbohong saat ini.
Entah karena Evan memang orang yang peka, atau dia memang terbiasa menghadapi orang jahat di dunia militer yang dia geluti, saat ini, di hadapan Evan, Alaya merasa seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu jaksa berbicara dan menggugatnya, karena Alaya sadar saat ini dia sedang berbohong.
__ADS_1
Bagaimana ini? Matilah aku... kenapa setelah aku bertemu dengan duke Evan di Gracetian, sepertinya justru kesialan terus menerus mendatangiku?
Alaya berkata dalam hati dengan sikap gelisah, dan sebagai orang yang sudah terbiasa menghadapi banyak orang, dan berbagai jenis orang, Evan bukannya tidak tahu tentang tindakan Alaya itu, apalagi jelas-jelas Evan tahu kalau Alaya memang sedang berbohong sekarang ini, ditunjukkan gestur tubuh yang terbaca begitu jelas bagi seorang Evan sebagai jenderal besar di kemiliteran.
(Gestur (gesture) sama dengan bahasa tubuh, berupa gerakan anggota badan, seperti gerakan tangan atau bagian tubuh lain. Gestur merupakan bagian dari bentuk komunikasi karena ia juga berfungsi untuk menyampaikan pesan.
Secara garis besar, bahasa tubuh terdiri dari postur (posture) dan gestur (gesture). Postur dan gestur adalah dua bentuk komunikasi terpenting melalui bahasa tubuh kita.
Bentuk komunikasi non-verbal ini termasuk ekspresi wajah dan gerakan mata. Postur dan gestur dapat melintasi hambatan bahasa.
Postur dan gestur adalah cara kita menggunakan tubuh kita untuk membuat berbagai bentuk komunikasi non-verbal. Mereka termasuk ekspresi wajah, gerakan tangan, gerakan mata, posisi duduk dan berdiri serta gerakan lengan, bahu dan posisi kaki.
Belum lagi Alaya bisa berpikir jernih tentang bagaimana dia harus bersikap di depan Evan, tiba-tiba saja laki-laki tampan itu berjalan mendekat ke arah Alaya, dan mengulurkan tangannya ke arah dahi Alaya.
"Apa demammu tinggi? Berapa suhu tubuhmu?" Pertanyaan Evan, disertai dengan sentuhan tangannya di dahi Alaya, membuat Alaya harus menahan nafasnya, dengan jantungnya di dalam sana yang langsung berdetak dengan begitu kencang.
"Sepertinya sedikit tinggi. Sudah minum obat?" Dengan santainya, Evan berkata seperti itu, meskipun dia tahu kalau suhu tubuh Alaya memang sedikit nai, tapi tidaklah setinggi seperti angka yang tertera pada thermometer digital tadi.
__ADS_1
Alaya sendiri tidak menyadari, bagaimana suhu tubuhnya sedikit naik dengan keringat dingin yang muncul setelah dia tahu bagaimana Evan yang tiba-tiba mengatakan akan menjaganya, membuat mereka hanya tinggal berdua di kamar ini.
Untuk beberapa saat tangan Evan berada di kening Alaya, lalu bergerak pelan menyentuh kening Alaya, seperti gerakan seseorang yang sedang mengecek suhu tubuh dengan serius.
Padahal jika boleh jujur, Evan sengaja melakukan itu, karena sikap Alaya yang terlihat menggemaskan baginya, membuat dia penasaran dan tiba-tiba saja dia merasa sulit mengendalikan keinginannya untuk menyentuh kening Alaya.
Saat tangan Evan berpindah ke pelipisnya, mau tidak mau sebagian dari tangan Evan menyentuh tulang pipi Alaya, sehingga membuat dada Alaya semakin bergetar hebat, dan wajahnya yang memerah karena tindakan Evan itu.
Jika saja itu adalah pria lain yang melakukan itu, mungkin Alaya akan langsung menyerang dan membanting tubuh laki-laki itu.
Tapi saat ini, entah mengapa, Alaya justru seperti orang terhipnotis yang tidak punya kekuatan untuk bergerak, apalagi melawan.
Alaya! Sadarkan dirimu! Jangan terbuai dengan sikap manis dan lembutnya!
Tiba-tiba Alaya berteriak dalam hati seperti orang yang baru tersadar dari pingsannya, dan membuatnya langsung bergerak menjauhkan dirinya dari Evan, yang dengan sengaja menarik tangannya kembali menjauh dari wajah Alaya, karena tidak ingin Alaya merasa terlalu terintimidasi dengan keberadaannya.
"Uhuk..." Akhirnya untuk mengalihkan rasa canggungnya, Alaya kembali berpura-pura batuk.
__ADS_1
"Sudah, saya sudah meminum obat saya." Dan dengan cepat Alaya menjawab pertanyaan Evan sebelumnya.
Mendengar jawaban Alaya, Evan hanya tersenyum, meskipun dia tahu, saat memasuki kamar calon istrinya tadi, mata Evan yang selalu awas sudah mengitari seluruh ruangan itu dan tidak melihat adanya tanda-tanda adanya obat, bahkan bekasnya di tempat sampah, menunjukkan kalau Alaya sedang berbohong saat ini.