Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
RASA KAGET ENZO


__ADS_3

“Melihat kesalnya dirimu, kamu pasti sudah tahu siapa laki-laki beruntung yang akan dijodohkan denganmu? Siapa? Apa dia pangeran yang buruk rupa sehingga kamu menolaknya mentah-mentah seperti ini? Atau dia keturunan bangsawan yagn sangat miskin sehingga kamu takut tidak bisa hidup dengan nyaman kalau menikah dengannya?” Semua pertanyaan Enzo membuat Alaya meringis.


Bisa-bisanya di tengah kegundahanku kak Enzo bercanda seperti itu. Mana mungkin kak Alvero menjodohkanku dengan pangeran buruk rupa atau gelandangan. Justru dia memilih laki-laki yang begitu tampan dan mengagumkan. Tapi aku tidak mau menikah dengannya. Pokoknya tidak mau.


Alaya berkata dalam hati sebelum akhirnya mencubit lengan Enzo dengan sedikit keras, sepupunya itu memang merupakan sosok pangeran Adalvino yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan Alvero.


Jika Alvero dikenal dengan sikap dingin, tegas, disiplin dan berwibawa, untuk Enzo, salah satu pangeran Adalvino yang akan segera menikah dengan Melva itu memiliki karakter santai, tidak ambil pusing dengan urusan istana, dan tidak mau terikat dengan segala peraturan ketat yang ada di istana, sehingga dia lebih memilih untuk lebih banyak hidup diluar istana, dan tidak mau terlibat apapun dengan urusan kerajaan.


“Kak Alvero berencana menjodohkanku dengan duke Evan. Tampan, kaya, hebat, impian para gadis di Gracetian. Tapi aku tidak mau dijodohkan dengannya, titik. Tidak ada koma.” Alaya berkata dengan wajah sebal dan bibir memberengut, sedang mata Enzo langsung membulat sempurna mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alaya.


“Duke Evan? Serius Alvero ingin menjodohkan kalian? Wah… wah… semoga itu tidak jadi senjata makan tuan buat Alvero, karena duke Evan dulu pernah menyukai Deanda. Kamu tahu sendiri bagaimana pencemburunya kakakmu itu. Jangankan melihat laki-laki lain menyukai Deanda, melihat ada pria yang melirik ke arah Deanda lebih dari 5 detik, pasti akan membuat Alvero melakukan sesuatu agar orang itu tidak bisa lagi mengagumi permaisurinya. Serius ya Alvero mau menjodohkan kalian?” Enzo bertanya sambil tersenyum geli, mengingat sikap sepupunya pada Deanda selama ini.

__ADS_1


“Serius, bahkan sekarang seperti yang kak Enzo lihat, kak Alvero sedang berbicara berdua secara pribadi dengan duke Evan di ruang kerjanya. Pasti mereka membahas masalah itu.” Alaya berkata dengan sikap serius, membuat Enzo menggerak-gerakkan bibirnya sambil menahan nafas sebentar.


“Tapi menurutku, Alvero memang sengaja menjodohkanmu dengan Evan, karena dia memiliki status yang lebih tinggi darimu, sehingga akan sulit bagi putra mahkota Christopher untuk tidak menerima alasan itu. Jika pangeran John atau Javer yang dipilih oleh Alvero, belum tentu putra mahkota Christopher bisa menerima alasan penolakan itu. Alvero benar-benar berpikir panjang tentang itu sebagai raja Gracetian untuk menjaga nama baik kerajaan ini, sekaligus nama putra mahkota Christopher.” Enzo berkata pelan, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya karena merasa keputusan Alvero benar-benar dengan pertimbangan yang dalam.


“Kalau Alvero mengatakan kamu sudah memiliki calon suami dari pria dengan level status di bawahmu, pasti putra mahkota Christopher akan tersinggung.” Enzo menambahkan pendapatnya tentang keputusan yang diambil oleh Alvero, yang Enzo tahu, itu bukan keputusan mudah bagi Alvero.


“Selama ini sepertinya belum pernah ada kabar tentang duke Evan menjalin hubungan dengan gadis manapun. Dia juga tidak memiliki catatan buruk terkait dengan para wanita. Kenapa kamu tidak mencobanya? Dia pasti laki-laki yang setia. Ditambah dengan ketampanan, kekayaannya dan juga status jenderal besarnya, dia benar-benar sosok laki-laki yang sempurna untukmu.” Enzo berkata sambil mengerlingkan mata ke arah Alaya yang langsung memberengut kembali.


“Hah? Kamu sudah menemui duke Evan? Dan meminta hal itu padanya? Bahkan sebelum Alvero menyampaikan rencananya? Wah…. Benar-benar nekat kamu Alaya. Berani sekali tindakanmu kepada seorang duke. Lalu, apa pendapat duke Evan?” Perkataan Enzo diiringi dengan gelengan kepala.


“Iya, kemarin aku langsung menemuinya begitu mendengar rencana kak Alvero. Duke Evan mengatakan akan mempertimbangkannya. Duke Evan kemarin menerima kedatanganku dengan baik meskipun kami tidak ada janji temu sebelumnya. Aku rasa dia orang yang baik. Aku sungguh berharap dia menepati janjinya, karena aku sudah menceritakan tentang semua hal buruk yang akan terjadi kalau kami berdua menjalani perjodohan itu.” Enzo hanya bisa terdiam mendengar itu, karena dia masih tidak habis pikir tentang bagaimana beraninya Alaya menemui Evan yang seorang duke dan meminta hal seperti itu.

__ADS_1


Padahal boleh dibilang, mereka berdua belum saling mengenal dengan baik, hanya sekedar tahu satu sama lain dalam dua tiga kali pertemuan di acara yang melibatkan banyak orang, tanpa pernah memiliki kesempatan untuk mengobrol.


“Kak Enzo… apa benar duke Evan sempat menyukai kak Deanda?” Dengan suara ragu, Alaya berkata kepada Enzo setelah beberapa lama mereka berdua saling berdiam diri, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


“Bukan hanya sempat suka. Tapi sangat menyukai Deanda. Dan Alvero tahu pasti tentang hal itu, sehingga dia selalu menghindari hal yang bisa membuat kedua orang itu bertemu. Padahal kamu tahu sendiri, bagaimana cintanya Deanda terhadap kakakmu itu. Tapi tetap saja kakakmu itu selalu cemburu.” Alaya hanya bisa tersenyum tipis mendengar perkataan Enzo.


Memang pesona dari kak Deanda sulit untuk ditolak, bahkan pangeran Dion saja bersedia mati untuknya.


Alaya berkata dalam hati sambil menghela nafas panjang.


Namun beberapa detik kemudian matanya langsung terbeliak kaget begitu melihat dari arah lain tampak sosok Alvero bersama Evan, terlihat sedang berjalan menuju ke ruang makan istana kembali.

__ADS_1


__ADS_2