Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
LICIK DAN KEJAMNYA HUGO


__ADS_3

Alvero yang selama ini memang selalu lebih condong kepada Edward meskipun status kebangsawanannya ada di bawah Hugo, karena secara kinerjanya dan juga karakternya lebih bagus Edwadr dibandingkan dengan Hugo yang dikenal arogan dan juga sombong.


Kedekatan Edward dengan Evan, bagi Evan bisa menjadi alasan kuat bagi Hugo untuk menyingkirkan Edward secara diam-diam dengan cara licik, seperti yang pernah dicoba dilakukan Hugo padanya, karena ingin menggantikan posisinya sebagai duke yang berwenang terhadap kemiliteran negara Gracetian.


Apalagi saat itu, setelah meninggalnya Edward, Hugo menjadi satu-satunya calon gubernur wilayah yang sekarang benar-benar dia pimpin.


"Ernest!" Suara Alvero yang menyebutkan nama Ernest melalui panggilan teleponnya membuat yang lain langsung menoleh padanya.


"Ya Yang Mulia." Dengan suara terdengar sigap, dari tempat lain, Ernest langsung menjawab panggilan Alvero di telepon.


"Segera lakukan penyelidikan ulang tentang kasus kebakaran yang terjadi di gedung teater termpat kejadian meninggalnya almarhum viscount Edward beberapa tahun yang lalu." Perintah dari Alvero membuat Evan menarik nafas panjang, karena sebelumnya Evan juga sudah berpikir untuk meminta Sam melakukan penyelidikan ulang tentang kasus itu juga.


Jika benar-benar kamu yang dengan sengaja membuat Edward celaka, aku akan mengejarmu sampai kemanapun dan membuatmu hidup dalam penyesalan seumur hidupmu atas semua yang sudah kamu lakukan pada Ramon dan Edward.


Evan berkata dalam hati dengan matanya yang tampak sayu, tidak bisa menutupi kesedihan dalam hatinya karena mengingat tentang bagaimana Ramon dan Edward yang meninggal ketika itu tanpa dia bisa membnatu mereka.


"Temukan bukti sekecil-kecilnya untuk bisa menemukan siapa sebenarnya dalang di balik kebakaran itu. Aku yakin ada seseorang yang memang menginginkan viscount Edward celaka waktu itu." Alvero kembali memberikan perintah kepada Ernest.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia. Akan segera saya laksanakan." Ernest langsung menjawab perkataan Alvero, meskipun dalam hati sempat merasa heran, kenapa kasus yang sudah ditutup selama bertahun-tahun lalu dan dinyatakan kalau kebakaran itu murni karena kecelakaan, tiba-tiba Alvero saja ingin membukanya kembali.


Saat itu pihak keluarga Edward menyatakan untuk tidak ingin memperpanjang kasus itu dan meminta pihak kepolisian negara Gracetian untuk menghentikan penyelidikan, karena mereka menganggap kematian Edward karena penyakit asma yang dideritanya adalah hal yang wajar terjadi pada Edward waktu itu, yang memang memiliki riwayat penyakit asma.


Di balik semuanya itu, memang saat kejadian itu, Hugo yang sengaja memerintahkan orang untuk menyebabkan kebakaran juga meminta orang-orangnya untuk mematikan aliran listrik, sehingga ruangan menjadi gelap gulita.


Meskipun beberapa orang sempat menyalakan flashlight di handphone mereka, tetap saja penerangan waktu itu menjadi sangat minim, membuat mereka tidak menyadari kalau tubuh Edward terjatuh karena serangan asma yang dideritanya.


(Flashlight adalah lampu senter dalam bahasa Indonesia. Kehadiran lampu LED flash di perangkat Android tidak hanya berfungsi sebagai pembantu kamera ketika mengambil foto di tempat yang minim cahaya. Saat ini, lampu flash tersebut juga banyak difungsikan sebagai sebuah lampu senter untuk menerangi di kegelapan).


Tanpa disadari oleh semua yang hadir, yang sibuk menyelamatkan diri masing-masing, Hugo datang mendekat ke arah Edward yang jatuh terduduk dengan posisi berlutut dan memegang dadanya yang sesak.


Akan tetapi dengan gerakan yang disengaja, Hugo justru menendang tangan Edward yang sudah memegang nebulizer di tangannya dan berniat mendekatkannya ke hidung.


Tendangan dari Hugo membuat nebulizer yang dipegang Edward terlempar cukup jauh dari tempatnya.


Edward yang tidak menyadari bahwa Hugo sengaja melakukan itu, berpikir bahwa seseorang tanpa sengaja sudah menyenggolnya sehingga nebulizernya terlempar menjauh darinya.

__ADS_1


Mengetahui bahwa nebulizer miliknya terlempar dari tangannya dan terjatuh, dengan berusaha sekuat yang dia bisa, sambil menahan sesak nafas di dadanya, Edward mencoba menjulurkan tangannya untuk meraih nebulizer itu.


Hugo yang melihat bagaimana Edward berusaha meraih nebulizernya kembali justru menggerakan salah satu kakinya, dan menendang nebulizer itu menjauh, bahkan berada di tengah-tengah kerumunan orang yang masih sibuk berlarian sehingga nebulizer itu terinjak-injak oleh kerumunan orang banyak itu.


Melihat ada seseorang yang terlihat sengaja menendang nebulizernya, Edward berusaha mendongakkan kepalanya, sambil memicingkan matanya, untuk melihat siapa yang sudah begitu tega melakukan hal itu padanya.


"Duke Hugo?" Bibir Edward mengeluarkan suara mendesis, begitu melihat Hugo yang sedang mamandang ke aranya dengan senyum menyeringai, menunjukkan bahwa dia merasa senang melihat keadaan Edward yang tidak berdaya di bawah kakinya.


Apa duke Hugo sengaja melakukan hal ini padaku? Aku harus segera memanggil pengawalku sebelum terlambat.


Edward berkata dalam hati sambil tangannya sibuk meraba kantong jasnya, dimana pena pemberian Evan yang selalu dia bawa ada di dalam sana.


Hugo yang melihat pergerakan Edward, segera berutut dengan satu kakinya di depan Edward, dan langsung merebut pena yang ada di tangan Edward, tepat sebelum Edward menekan tombol yang ada di bagian atas pena itu untuk memanggil anak buahnya.


"Apa kamu ingin melakukan sesuatu dengan pena ini?" Hugo berkata sambil mengamati pena yang sudah berpindah tangan kepadanya.


"Tolong... berikan pena itu padaku.... Aku... harus memanggil... para pengawalku...." Edward berkata sambil berusaha meraih pena yang ada di tangan Hugo yang justru tersenyum mengejek dengan wajah liciknya, dan mengangkat tangannya, sengaja menjauhkan pena itu dari jangkauan tangan Edward yang semakin kehabisan tenaga.

__ADS_1


"Memanggil anak buahmu? Bagaimana caranya?" Hugo berkata sambil mengamati kembali pena itu, dan dia bisa melihat adanya sebuah tombol di bagian atasnya.


"Ooo... sepertinya harus memencet ini ya?" Hugo berkata sambil memencet tombol itu, karena dia tahu, seberapa banyaknya dia memencet tombol itu, para pengawal Edward tidak akan bisa datang dengan cepat, karena Hugo sudah memerintahkan para orang-orangnya untuk dengan sengaja menghalangi para pengawal Edward agar tidak bisa mendekati posisi Edward berada.


__ADS_2